Follow

Bukan (Hanya) Rindu yang Berat, tapi Deadline

Editor: Ayu Lestari | Selasa, 20 Februari 2018 - 04:50 Wita | 127 Views

“Jangan rindu, berat! kamu gak akan kuat, biar aku saja” kata Dilan,

Sepenggal kalimat yang dilontarkan Iqbal Ramadhan, (pemeran Dilan) dalam film Dilan 1990 yang lagi booming di sejumlah bioskop saat ini, mungkin ada benarnya. Setali tiga uang dengan menunggu. Rindu dan menunggu keduanya merupakan pekerjaan berat meski tak membutuhkan tenaga ekstra.

Sekarang, ada lagi satu kata yang tidak sekadar berat tapi juga menakutkan. Di dunia jurnalistik, kata ini tidaklah asing. “Deadline”, semua yang terlibat di penerbitan media pasti mengenalnya. Death berarti mati dan Line berarti garis. Deadline sendiri di dunia jurnalistik dimaknai sebagai batas akhir pemasukan naskah. Melewatinya berarti mati. Jadi, melanggarnya akan dimaki-maki oleh pimpinan media.

Pernah suatu ketika kami didamprat habis-habisan oleh Koordinator Liputan (Korlip) gara-gara melanggar deadline. Pelanggaran yang sebenarnya tidak bisa dikenakan ke saya, tetapi karena kerja kolektif, terpaksa harus kuterima. Saat itu, sebagai anak magang yang tergolong baru di dunia jurnalistik, belum merasa peka dengan kata deadline. Kami mendapat penugasan meliput sesuatu yang sangat hangat waktu itu. Setelah mendengarkan arahan dari Korlip dan  narasumber yang harus diwawancarai, kami lalu berbagi tugas. Saya mendapat tugas bertanya atau wawancara dengan narasumber, sementara teman menuliskan naskah berita kami.

Sebenarnya, Korlip tidak menginginkan pembagian seperti yang kami lakukan. Saya dan teman seharusnya sama-sama turun lapangan untuk wawancara, begitu pun naskahnya harus dituliskan sama-sama juga. Namun, kami tak mendengar sang Korlip. Sebenarnya, idenya dari saya, berhubung saat itu saya belum tahu menulis berita –maklum masih baru–, sedangkan teman saya sibuk dengan tugas kuliahnya, jadi ya sudah, kita bagi saja sesuai kemampuan masing-masing.

Seperti media pada umumnya, di identitas juga ada rapat deadline, yang dilaksanakan satu minggu setelah rapat perencanaan berita. Sebelumnya, saya tidak pernah ikut rapat deadline, karena saya masih baru. Namun, temanku, Inci yang lebih dulu masuk identitas menjelaskan padaku tentang rapat deadline. Katanya, rapat deadline itu rapat khusus “pembunuhan” magang dan kru yang tidak tenggat waktu dalam mengerjakan berita. Ngeri juga. Saya harus menyelesaikan tugasku atau kalau tidak maka pastilah saya akan mati.

Jauh hari sebelum rapat deadline, saya berusaha keras untuk menyelesaikan tugasku. Akhirnya, saya bisa menyelesaikan wawancaraku dengan lima orang narasumber sekaligus dalam jangka waktu dua hari. Setelah itu, kukirimkan hasil wawancara yang telah kutranskrip semalaman. Lega juga rasanya menyelesaikan tugas redaksi. Ada perjuangan yang cukup besar untuk menyelesaikannya, saya harus melobi narasumber karena kebanyakan tidak mau diwawancarai, bahkan harus kehujanan saat mendatangi tempat masing-masing narasumber. Tak hanya itu, hampir saja saya tabrakan di jalan raya saat berkunjung ke tempat narasumberku, lantaran laju kendaraanku yang terlalu kencang. Saya memang sering disebut-sebut pembalap wanita oleh teman-temanku.

Malam itu juga kukabari segera teman untuk mengecek e-mailnya. tak lupa kuberi semangat untuk menuliskan liputan kami. Ke esokan harinya, kutanya teman soal perkembangan naskah berita yang telah ia tulis. Dia hanya mengatakan belum selesai, dan katanya akan menyelesaikan malamnya. “Kuusahakan tugas kita terbit,” katanya. Mendengar jawabannya membuat saya tenang-tenang saja.

Sisa satu hari lagi, rapat deadline akan dilaksanakan. Saya mengabari teman untuk menanyakan kembali naskah yang harus diselesaikan. Rupanya, teman saya pulang kampung. Waduh… saya sudah mewanti-wanti bakal tidak deadline, Namun si teman menghubungiku kembali akan mengusahakan datang rapat. Tapi ia belum mengatakan padaku bahwa naskahnya belum selesai ditulisnya. Alhasil, saat rapat deadline dimulai, tugasku yang pertama sekali disebut oleh sang Korlip, dan dinyatakan tidak deadline. Kami berdua dimaki habis-habisan, bahkan teman saya sempat menangis lantaran pedisnya kata-kata Korlip.

Yah.. Begitulah di keredaksian, kalau kau ingin selamat, cukup kerjakan tugas, dan pastinya deadline. Dari jurnalistik, saya belajar, yang berat bukan hanya rindu, tapi juga deadline.

 

Ayu Lestari

Koordinator Liputan PK identitas Unhas 2018,

Mahasiswa Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan Unhas 

Angkatan 2015

 

 

 

 

 

BACA JUGA