Follow

Chairil Anwar, Hidup Seribu Tahun Lagi

Editor: Ayu Lestari | Rabu, 21 Maret 2018 - 05:00 Wita | 187 Views

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Hingga hilang pedih perih

Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi!

Membaca puisi karya Chairil anwar di atas mengingatkan kita pada salah satu penyair terkenal era 40-an. Chairil anwar merupakan sosok penyair terkenal. Nyaris semua anak yang bersekolah di Indonesia mengenalnya melalui  karya puisi-puisinya yang fenomenal dan sering ditampilkan dalam buku pelajaran bahasa Indonesia. Dalam sajak “Aku” ia menggambarkan sosoknya sebagai Sang binatang jalang.

Chairil Anwar telah memperkaya Bahasa Indonesia melalui sajak-sajaknya dari “Krawang Bekasi”hingga “Aku”. Ia dikenal seorang tokoh yang berjuang membangun Indonesia dengan puisi, bukan untuk diri pribadi saja, tapi juga untuk kemanusiaan.

Terlepas dari karya-karya Chairil, ternyata masih sedikit buku yang menulis tentangnya secara lengkap. Hasan Aspahani, seorang wartawan, penyair, dan penulis mencoba mengulas sosok keseharian, kisah hidup, hingga bagaimana Chairil menciptakan sajak-sajaknya.

Dalam buku Chairil,  Hasan menggambarkan secara jelas pandangan seorang penyair ternama yang akrab disapa Nini saat kecil. Berbeda dengan buku biografi lainnya, penggunaan bahasa dan penggambaran suasana dalam  buku yang ditulis Hasan, membuat pembaca seakan kembali ke masa saat Chairil masih hidup. Semua itu digambarkan secara jelas melalui dialog-dialognya. Selain itu, setiap sub bab, Hasan selalu menampilkan cuplikan sajak Chairil Anwar dan beberapa quote dari sahabat-sahabat Chairil.

Sejak remaja, Chairil sudah tertarik mempelajari ilmu sastra. Ia membaca berbagai jenis buku baik berbahasa Belanda maupun Melayu. Pernah suatu petang di kediamannya, Pangkalan Brandan, Kesultanan Langkat, ia ditangkap polisi Belanda karena membacakan cuplikan roman karya Sutan Takdir Alisjahbana yang berjudul Layar Terkembang 1937. Hal itu menjadi salah satu pengalaman berkesan bagi Chairil, sehingga mempengaruhi pemikirannya bahwa karya sastra ternyata bisa menakutkan bagi penguasa.

Ciri khas Chairil mudah dikenal dengan baju kumalnya, berwajah kotor, dan matanya yang merah akibat kurang tidur. Gaya hidup yang kerap berpindah tempat membuat hidupnya tidak terurus diceritakan dalam buku tersebut.

Menuliskan perjalanan hidup Chairil Anwar bagi Hasan tidaklah mudah. Ia harus bolak-balik mengumpulkan data dan melakukan riset terhadap buku-buku yang memuat tentang Chairil Anwar. Ia mencari karya Chairil mulai di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) hingga Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Karyanya pun disunting hingga 4-5 kali. Untuk menyelesaikan buku biografi setebal 316 halaman tersebut,  Hasan membutuhkan waktu 11 bulan hingga akhirnya karyanya diterbitkan oleh GagasMedia.

Chairil Kecil menghabiskan masa kanak-kanaknya di pangkalan Brandan, Kesultanan Langkat, Sumatera. Ayahnya bernama Toeloes, bekerja di Pemerintahan Hindia Belanda sebagai seorang controller, inspektur penghubung antara birokrasi pemerintah Belanda, residen dan para asistennya dengan para penguasa lokal. Sedangkan ibunya lahir dari pengusaha sukses di Medan. Dengan latar belakang seperti itu, Chairil tumbuh menjadi anak yang punya kepercayaan diri tinggi, bahkan dianggap angkuh di depan teman-temannya. Kendati, ia tetap populer dalam peredaran pergaulan, tidak mau kalah.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Sumatera, Chairil merantau ke Jakarta untuk melajutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Di sinilah ia berkenalan dengan Sutan Syahrir, HB.Jassin dan beberapa penyair lainnya.

Jassin adalah sahabat sekaligus orang yang paling berjasa bagi kesuksesan Chairil. Lewat Jassin, karya-karyanya akhirnya diterbitkan. Melihat bagaimana ia menulis dan mengeksekusi tulisannya sendiri, tak heran bagaimana ia mampu menjadi pelopor puisi modern Indonesia. Lalu bagaimana kelanjutan cerita hidup Chairil menciptakan setiap puisi dan tulisan-tulisannya? Penasaran? Silahkan dibaca!

 

Judul Buku: Chairil

Penulis: Hasan Aspahani

Penerbit: Gagas Media

Tebal: 316 halaman

Ukuran: 14 x 20 cm

Cetakan: Pertama, 2016

 

Mutmainnah

Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Angkatan 2017

BACA JUGA