Follow

Dahlan Abubakar, Tentang Tokoh-tokoh yang Mampir di Ingatannya

Editor: Sri Hadriana | Senin, 15 Januari 2018 - 14:27 Wita | 205 Views
Dahlan Abubakar bersama mantan Rektor Unhas (Foto: Ima Rahman/identitas)

Tak banyak penulis di Sulsel yang seperti Dahlan Abubakar. Ia wartawan, sekaligus penulis buku tokoh ternama di Sulsel. Karena itu pula, Dahlan seperti ensiklopedia tokoh-tokoh di Sulsel, terlebih lagi untuk tokoh yang pernah mengenyam dan bersinggungan dengan Universitas Hasanuddin (Unhas).

Berpuluh-puluh tahun berkarir sebagai jurnalis di Harian Pedoman Rakyat, ia juga pernah cukup lama menjabat Kepala Humas di Unhas. Kini meski memasuki masa pensiun, bukannya malah membuatnya beristirahat. “Saya lebih sibuk saat ini,” katanya.

Reporter Identitas, Fatyan AU menyambangi rumahnya dan berbincang santai tentang kesehariannya, dan tokoh-tokoh yang ‘mampir’ di buku dan ingatannya.

Kenapa anda memilih untuk menulis tentang tokoh penting?

Manusia adalah pencipta sejarah, apalagi orang-orang yang saya tulis itu adalah orang-orang yang penuh sejarah. Ada satu kesalahan di Sulawesi Selatan sendiri itu sangat kurang menulis tokoh yang pernah menggoreskan sejarah. Buku mengenai Andi Pangeran Pettarani mestinya menjadi pekerjaan bagi perpustakaan Sulawesi Selatan untuk memberi ruang, waktu, dana untuk mereka yang punya minat untuk menulis tokoh supaya nanti kita tidak menjadi orang yang kehilangan tokoh.

Sudah banyak yang saya tulis mulai dari Biografi Prof Achmad Amiruddin, KH Muhammad Hasan, dan yang paling fenomenal adalah Ramang Macan Bola yang pernah diluncurkan Menpora Andi Mallarangeng pada 9 Agustus 2011.

Kapan mulai menulis buku?

Saya mulai menulis tahun 1985. Buku saat itu yaitu tentang perdagangan Sulsel. Saya menulisnya bersama 3 orang sahabat saya. Tahun 1987 saya mulai mengedit buku tentang sosok Daeng Mangemba “Takutlah pada Orang Jujur” dan buku itu dapat laporan dari pustaka pelajar bahwa stok buku habis.

Pada akhir tahun 90-an tiba-tiba tulisan tentang Prof Amiruddin yang dimuat di harian Pedoman Rakyat selama 65 kali terbit, itu dimuat tiap hari. Ternyata kemudian ada orang menelpon ke Pedoman. Mengusulkan naskah itu ditulis ke dalam bentuk buku. Kemudian saya menyampaikan ke Prof Amiruddin bahwa akan dibuatkan buku dan saya bekerjasama dengan almarhum Rudi Harahap, dia melakukan wawancara kemudian dia menulis dengan gaya novel dan akhirnya terbit tahun 1999 berjudul ‘Nahkoda dari Timur’. Mulai dari situ saya mulai menulis dan disusul oleh banyak tulisan mengenai tokoh lainnya.

Tahun 2003 saya mulai menulis tentang Pak Palaguna. Pak Palaguna adalah tentara dari sekian banyak gubernur. Cerita menariknya juga saat G30 S PKI dia dikirim ke perbatasan. Saya senang tokoh dari cerita-cerita tokoh ada. Dari tokoh-tokoh banyak cerita atau kisah-kisah menarik. Dalam dunia jurnalistik dikenal dengan istilah human interest. Human interest yang dialami oleh tiap tokoh tidak dialami orang lain. Menulis Mereka yang punya nama selalu menarik buat saya.

Di antara semua tulisan Bapak mengenai biografi tokoh penting, manakah tulisan yang paling fenomenal?

Buku Ramang paling fenomenal, saya sedang merevisinya saat ini. Diluncurkandan dihadiri oleh banyak pemain bola saat itu dan habis. Bercerita mengenai Ramang, tokoh unik yang sudah lama mati.

Kisahnya dimulai pada tahun 1981. Saat itu saya datang kerumahnya yang beralamat di depannnya Kala Tower Makassar untuk melakukan wawancara dengan sosok Ramang, dia bilang,” janganmi saya toa mi.” Awalnya saya gagal, sekali waktu saya datang lagi, saya bawa kamera dan dia tolak untuk dipotret.

Saya mengelabui dengan mengajak ngobrol si Ramang dengan bahasa Makassar yang amburadul. Saya gali dengan dalam informasi tentang Ramang orang makassar kelahiran barru. Tidak pernah ada orang yang bisa mewawancarainya, dia selalu angap dirinya toami. Ramang juga bercerita tentang kekecewaannya dituduh mendapat sogokan.

Sosok Ramang memiliki tendangan terkenal. Orang-orang bilang jika ia bermain bola, bola seperti diperintah masuk ke dalam gawang. Sasarannya selalu tepat. Kalau Ramang yang sudah kuasai bola 99 persen sudah pasti gol. Pernah ada cerita tiang patah di Surabaya akibat tendangannya.

Di pare-pare ada penjaga gawang masuk rumah sakit. Fifa mengakui ia sosok pemain sepak bola isnpirator dari Indonesia. Rahasianya katanya dia berlatih dengan cara aneh. Apapun itu semua cerita di balik Ramang, saya anggap paling fenomenal. Saya menikmati karena saya akan mengetahui informasi human interest dari sosok Ramang.

Pengalaman menarik apa yang pernah Bapak dapatkan selama menulis biografi?

Saya kira menarik itu ketika saya menulis buku Ramang, saya mengenalkannya pertama.
Dulu kalau banyak anak kecil teriak hidup Ramang jika main bola. Saya mewawancarai 40 orang seperti di Barru, Bantaeng, Surabaya, Jakarta, Bekasi dan sebagainya. Saya mengetahui banyak informasi human interest dari Ramang. Ada yang menangis saat diwawancara soal ramang. Ia tidak bisa melupakan.

Pada tanggal 26 September 2012 sosok Ramang diterbitkan di halaman utama website Fifa. Ramang pernah hampir ditransfer ke luar negeri namun Bung Karno melarang saat itu. 19 Gol pernah dalam satu kali tur. Salah satu gol pake salto atau tendangan berbalik badan.

Memburu informasi mengenai Ramang, saya mencari orang-orang itu seru. Pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang berprofesi sebagai wartawan.

Dari profesi pengajar, penulis dan wartawan, mana yang paling berkesan?

Yang pertama adalah jurnalis, saya memulai dunia itu sudah sejak lama. Memang bakat awal saya sudah sejak SD namun waktu itu belum tahu. Bapak saya seorang penulis. Papan rumah penuh dengan tulisan ayah saya, kemana-mana Abu panggilan akrab ayah saya selalu bawa buku. Ke Bantaeng bawa buku, tiba di manapun menulis. Ayah saya adalah guru. Saya juga membuat biografi tentang ayah saya. Abu juga suka bercerita lucu.

Padahal dulu saya ingin menjadi penyiar radio.

Keseharian setelah pensiun?

Saya lebih sibuk saat ini, tapi setelah dari masjid saya bisa sedikit bersantai. Saat ini saya disibukkan sebagai Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana. Ada banyak kegiatan yang telah diadakan. Saya manusia langka, paling tua dan lama. Selama 20 tahun lebih menjabat karena ada nilai lebih sehingga saya lama mengurus.

Apa saja buku favorit Bapak?

Buku favorit saya yaitu buku sejarah karena saya bisa menyaksikan sejarah orang, di perpustakaan pribadi saya kebanyakan buku sejarah mulai dari sejarah Cina, Rusia Inggris dan Jepang. Buku favorit saya banyak namun ada yang paling menarik yaitu buku Lady Conspiration mengenai konspirasi pembunuhan Ladi Diana. Tentang
pembunuhan berencana dari agen rahasia.

Apa prinsip hidup anda?
Manusia yang berguna adalah manusia yang berguna bagi orang lain. (*)

Reporter: Fatyan AU

BACA JUGA