Follow

Hari Tanpa Hari

Editor: Ayu Lestari | Senin, 25 Juni 2018 - 04:30 Wita | 65 Views
ilustrasi/Wandi Janwar

Aku seorang anak tanpa ibu dan ayah, seorang suami tanpa istri, seorang ayah tanpa anak, dan seorang manusia tanpa teman. Singkatnya, sebatang kara. Mungkin aku akan meninggal besok dalam tidur. Mayatku akan dibungkus oleh debu dan dikubur oleh waktu. Tak ada yang menyadari kepergianku. Jejakku tak membekas di kulit  bumi ini.

Sudah tujuh puluh tahun napasku bertahan menghirup udara yang disesaki polusi. Makanan bukan lagi kenikmatan duniawi ketika yang kurasakan hanya hambar. Setiap pagi aku bangun sekadar untuk menyapa mentari yang melengos melihatku belum juga dijemput maut.

Sisa waktuku dalam menanti maut kuhabiskan hanya dengan duduk di teras rumah. Disuguhi pemandangan kendaraan lalu-lalang dari balik pagar besi, membuat ingatanku melayang. Aku kembali ke masa lalu. Aku kembali ketika aku masih menjadi seorang anak yang memiliki bapak dan seorang suami yang memiliki istri serta calon ayah yang mendengar detak samar jantung janin, calon bayinya.

Waktu itu keadaan masih sulit. Ayah memiliki penyakit yang membuat kami lelah mengurusnya. Istriku terus menggerutu. Dia mengeluh, lelah mengurus Ayah yang sudah mulai demensia. Sebagai seorang anak dan suami yang baik, aku terus menasehati istriku untuk bersabar, tapi gerutunya tak pernah berhenti.

Datanglah sebuah hari di mana istriku berhenti menggerutu dan memberikan sebuah ide, yaitu membawa Ayah ke panti jompo sampai anak kami lahir. Aku juga merasa kerepotan harus menyelesaikan pekerjaan cepat-cepat dan pulang mengurus Ayah. Aku lelah hari liburku terlewati dengan mengurus muntahan dan panggilan Ayah. Kupikir mungkin itu ide yang baik setidaknya untuk beberapa bulan ini agar kami bisa fokus menyambut anak pertama.

Akhirnya, aku membawa Ayah ke panti jompo. Sebelum kubawa, Ayah sempat bertanya mengapa dia tidak tinggal bersamaku lagi. Hampir saja aku menangis, tapi bayangan calon anak dan keluarga kecilku muncul.

“Ada pekerjaan berat yang harus kulakukan, tapi aku akan menjemput Ayah tiga bulan lagi. Aku janji,” ucapku sambil mengelus tangannya.

Ayah hanya mengangguk pelan dengan wajah datar. Entah dia mengerti apa yang kukatakan atau otaknya yang sudah dimakan usia itu hanya sekadar memberi respon untuk menyelesaikan percakapan kami.

Sayangnya, semua tidak sesuai rencana. Bayiku lahir dalam keadaan tidak bernyawa. Kami sangat terpukul, terutama istriku. Dia depresi. Setiap hari hanya menangis.Aku kewalahan menghiburnya. Di tengah-tengah kesulitan kami itu, aku mendapat telepon dari pihak panti untuk datang menjemput Ayah. Ah, aku benar-benar lupa tentang Ayah.

Melihat situasi kami, aku meminta pihak panti untuk merawat Ayah hingga beberapa bulan lagi. Keadaan rumahku sedang kacau dan kehadiran Ayah hanya menjadi beban bagi kami nantinya. Aku mengganti nomor teleponku agar pihak panti tidak lagi menghubungi. Aku juga membawa istriku menuju tempat tinggal dengan lingkungan baru agar dia tidak lagi depresi.

Hari-hari depresi istriku tidak berlangsung lama karena dia segera meneguk puluhan obat tidur yang membuatnya meninggal. Aku berduka, lagi. Sama dengan istriku, aku juga sempat depresi karena harus kehilangan keluarga kecil yang sudah sejak lama kuimpikan, tapi depresi itu tidak berlangsung lama. Tentu saja aku tidak melakukan hal bodoh yang sama seperti istriku lakukan. Aku berhenti depresi karena mengingat aku masih mempunyai Ayah.

Aku segera menuju panti tempat terakhir kali aku melihat Ayah. Aku merasa menyesal atas keputusan yang kubuat dulu dan aku ingin memperbaiki semuanya. Kali ini akan kurawat Ayah sebaik mungkin.

Rupanya hukuman telah dijatuhkan padaku. Semua rencanaku tidak ada satu pun yang berhasil. Ayah sudah meninggal empat bulan yang lalu. Bagian yang membuatku merasa sangat terpukul: tidak ada cara untuk menghubungiku.

“Bapak kemana saja selama ini?” tanya salah satu wanita yang merawat Ayah.“Ayah Bapak setiap harinya bertanya kapan Bapak akan datang menjemputnya. Beliau selalu duduk di teras dan menatap kendaraan yang lalu-lalang, menunggu Bapak. Hingga akhir hayatnya pun beliau masih menanyakan kapan Bapak akan datang.”

Ibu panti terus bercerita dan aku hanya diam. Aku ingat janjiku pada Ayah. Ternyata waktu itu Ayah tidak asal mengangguk. Dia mengerti dan bersiap untuk menanti. Akhirnya pertahananku runtuh. Aku menangis sejadi-jadinya. Kata ‘Ayah’ terus kuteriakkan dalam hati, berharap Ayah akan benar-benar datang dan mengelus kepalaku seperti yang selalu dilakukannya dulu, tapi tak terasa apa-apa, kecuali luka.

Aku kembali di masa aku adalah seorang anak tanpa orang tua, seorang suami tanpa istri, seorang ayah tanpa anak, dan seorang manusia tanpa manusia lainnya. Lelaki tua yang hanya menanti kematian dengan rasa sesal tak berujung. Setiap hari yang diberikan adalah hukuman atas apa yang kulakukan dulu. Alasan aku masih hidup hingga sekarang karena hukumanku belum habis.

“Apa kau merasakannya sekarang? Hidup hanya untuk menanti. Itu yang dirasakan Ayahmu setiap harinya. Bedanya Ayahmu menantimu dan kau menanti ajalmu menjemput,” gumamku.

Aku menatap bulan purnama yang seakan mendengus saat menyadari cahayanya menerpa tubuh lapukku. Waktunya untuk bangkit dari sofa nyaman. Kuharap ini malam terakhirku. Aku sudah sangat lelah dengan rasa sesal yang terus mengakar dan rasa sakit di sekujur tubuh. Aku ingin malam ini menjadi tidurku yang terakhir.

Paginya, aku kembali terbangun dengan mentari yang masih melengos padaku.

 

Penulis : Thania Novita

Mahasiswa Jurusan Hukum Administrasi Negara,

Fakultas Hukum Unhas,

Angkatan 2016,

Anggota FLP ranting Unhas

 

BACA JUGA