Follow

Husain Abdullah, Jubir Wapres yang Tak Bisa Berpaling Dari Warkop

Editor: Sri Hadriana | Sabtu, 18 November 2017 - 01:14 Wita | 1053 Views
Foto: Facebook

Nasib baik membawa Husain Abdullah menjadi juru bicara orang nomor dua di republik ini. Bermula dari karirnya sebagai jurnalis, membuat ia berkenalan dengan banyak pejabat dan pengusaha. Salah satunya Jusuf Kalla (JK). Ketika JK hendak mencalonkan sebagai calon presiden di tahun 2009, Uceng -sapaan akrab Husain Abdullah- dipanggil untuk menjadi media officer. Dan di situlah awal mula ia berkantor di Jalan Medan Merdeka Selatan.

Bukan hanya tentang suka duka menjadi jubir wapres, Uceng juga bercerita mengenai perang Malvinas yang menjadi titik mula karirnya jadi jurnalis. Juga pandangannya tentang media digital, ramalan Alvin Toffler, hingga kebiasaannya nonkrong di warkop. Berikut penuturannya ketika berbincang dengan Reporter Identitas, Khintan Jelita via Whatsapp:

Loncatan-loncatan karir Anda tergolong unik. Dari dosen hubungan internasional, lalu menjadi jurnalis, terus sekarang  jadi jubir wakil presiden. Bisa diceritakan?

 Saya tidak pernah merencanakan jadi juru bicara, mungkin bakat saja. Sewaktu SMA di Parepare sebelum pindah ke SMA 1 Makassar, pecah perang Malvinas (Argentina melawan Inggris memperebutkan Pulau Malvinas atau Falkland). Setiap pagi saya menceritakan kepada teman teman tentang perkembangan perang. Waktu  itu Dunia Dalam Berita TVRI sangat populer tapi referensi saya sejak SMP setiap subuh sudah dengar radio Australia, Voice of America dan BBC, sehingga informasi saya aktual dan menarik.

Kebiasaan seperti ini justru membentuk saya, saya suka mendengar dan bercerita. Saya akhirnya kuliah di Jurusan Hubungan Internasional Fisip Unhas. Lalu ketika sarjana, saya jadi dosen di HI, saat itu RCTI lagi digandrungi, karena masih muda saya nyambi di RCTI tapi keterusan meski tidak pernah mau pindah ke Jakarta.

Saya akhirnya berkenalan dengan banyak orang, termasuk Pak JK (Jusuf Kalla). Saat beliau akan maju jadi Capres tahun 2009, saya dipanggil ke Jakarta oleh Pak JK, saat itu akhirnya saya putuskan berhenti dari RCTI tapi tidak melepas status dosen saya hingga saat ini.

Bagaimana rasanya dari peliput di lapangan (sering liputan konflik dan bencana) tiba-tiba sekarang berada di pusat kekuasaan, dengan mengikuti aturan protokoler yang ketat?

Saya dikaruniai pengalaman lapangan yang cukup, di daerah daerah konflik seperti Poso, Ambon, Timor Timur, hingga Papua apalagi di Sulawesi Selatan. Hampir setiap hari nama saya berkumandang di RCTI, Husain Abdullah melaporkan dari Makassar atau Husain Abdullah melaporkan dari Poso.

Saat ini saya berada di lingkungan istana, saya lalui saja, seorang jurnalis kan adaptasinya tinggi apalagi lingkungan bergaul saya di semua level, mulai tukang becak nongkrong di warung kopi sampai kalangan atas, jadi berjalan normal saja. Tidak bisa saya hilangkan kebiasaan ke warkop karena di sana simbol kebebasan, ibarat rumah kedua.

Selama menjadi Jubir Wapres, ada pengalaman menarik?

Bersama Pak JK hampir semua menarik,  yang  menarik kalau kita dituntut  menahan dulu (bargo) informasi agar tidak bocor. Atau pun juga menghadapi pertanyaan terutama di sosmed yang  bagaikan belantara luas. Karena tugas Jubir saat ini jauh lebih berat dari sebelumnya setelah sosial media begitu menguasai jagad informasi selain media mainstream.

Rindu dengan profesi jurnalis? Apa pengalaman yang paling berkesan selama jadi jurnalis?

 Biasa teringat juga masa masa lalu, kalau melihat para awak media meliput Pak JK atau di istana. Tetapi saya toh tetap dalam lingkungan media sebagai jubir jadi tidak pernah merasa jauh dari dunia itu.

Zaman sudah begitu berubah saat ini, termasuk dalam praktik-praktik jurnalisme. Dunia digital punya pengaruh besar dalam mengubah media dan kemasan berita. Bagaimana pendapat Anda?

Saya lihat betapa mudah jurnalis saat ini bekerja dibanding era saya. Saya mungkin jurnalis pertama di Indonesia yang mengirim gambar via streaming. Tapi jauh lebih mudah jadi jurnalis saat ini. Dari HP semua bisa dikerjakan dengan tuntas, apalagi tidak dibatasi lagi ruang dan waktu. Informasi bergerak demikian cepat. Jurnalis dituntut lebih cerdas, lebih cepat dan lebih teknis.

Anda masih terdaftar sebagai dosen, bagaimana idealnya metode pengajaran dosen yang tepat untuk generasi sekarang. Apakah perlu diubah?

Saya merasakan semua masa yang diramalkan Alvin Toffler, mulai zaman diktat, power point hingga model kuliah digital saat ini. Tapi saya selalu  berusaha di luar pakem itu. Mengajar saya tidak harus membawa  tas jinjing berisi buku dan lain-lain layaknya seorang dosen, juga bahan presentasi, apalagi menyalin di papan tulis, saya datang bagaikan seorang pemain bola langsung bermain di lapangan dengan gocekan gocekan hingga membuahkan gol.

Saya berusaha menguasai masalah, menjelaskannya kepada mahasiswa ibarat sebuah rangkaian cerita. Orang tidak senang digurui tapi semua orang senang mendengar cerita. Jadi saya selalu membuat diri  saya sebagai seorang penutur pencerita yang menurut itu sangat manusiawi, teknologi apapun tidak akan mampu menggantikan sisi manusiawi seorang manusia.

Dengan perkembangan teknologi, dosen harusnya mengikuti cara itu agar memudahkan mahasiswa karena itu dunia dan tools mereka. Tetapi bagi saya teknologi saat ini hanya untuk memudahkan proses perkuliahan. Sentuhan langsung tatap muka tetap dibutuhkan

Dari banyak testimoni mantan mahasiswa, Anda dinilai sebagai salah satu dosen favorit, karena pendekatan mengajar yang berbeda, seperti lebih banyak bercerita pengalaman daripada menggurui?

Saya juga tidak sadar kalau saya termasuk dosen favorit. Haha. Tapi bersyukur kalau seperti itu. Saya angkatan pertama jurusan HI, jadi saya faham kebutuhan mahasiswa. Saya juga faham apa yang harus saya lakukan agar apa yang saya sampaikan seberkesan mungkin, bagaimana mengemas sebuah cerita bahan kuliah yang mudah mereka cerna dan simak.

Saya selalu larang mahasiswa menulis saat saya menjelaskan, tapi selalu saya sarankan mereka membaca buku ini dan itu sebagai pelengkap apa yang saya jelaskan.

Dosen ideal harusnya seperti apa?

Dosen ideal itu, harusnya dia cerdas, elegan, berjarak tapi bisa bersentuhan dengan mahasiswa. Kita tidak boleh terlalu dekat dengan mahasiswa agar wibawa dan kharisma terjaga tapi jangan mempersulit mereka agar kearifan Anda sebagai pendidik tidak sirna.

Apa harapan atau pesan untuk seluruh mahasiswa Indonesia khususnya mahasiswa Unhas?

Belajarlah lebih tekun. Persaingan makin mengglobal banyak hal yang tidak terduga. Dulu hebat kalau seseorang out of the box, saat ini itu tidak cukup lagi, harus bisa bikin kotak lain. Bayangkan anda punya taksi, tiba tiba seseorang bisa punya ribuan taksi tapi tidak punya mobil seperti Uber. Anda punya satu restoran tapi tiba tiba ada seseorang yang tidak punya warung tapi menguasai ribuan warung makan seperti Gojek. Itulah dunia saat ini.

Bagaimana pendapat tentang dosen yang juga jadi tim sukses kepala daerah?

Dunia dosen adalah akademik bukan politik praktis karena itu kalaupun terjun sebagai tim sukses, peran yang diambil mungkin sebagai peneliti atau survey ataukan sebagai konsultan tidak harus formal-struktural. Memberi wacana pemikiran kepada politisi juga penting agar mereka tercerahkan.

Bapak pernah disebut-sebut ikut ingin mencalonkan sebagai walikota Makassar. Belakangan katanya undur diri. Kenapa?

Iya saya ingin melihat Makassar maju masyarakatnya bahagia dan berperadaban tinggi. Tapi sejak awal sudah berkomitmen bahwa kalau ada keluarga Pak JK yang maju, maka saya akan menarik diri karena saya tidak mungkin berlawanan,  toh sama saja. Saat mendaftar di PDIP saya sudah sampaikan seperti itu. Dan kebetulan Munafri juga tertarik mencalonkan diri, maka sesuai komitmen,  saya putuskan menarik  diri dari pencalonan.

Apa sebenarnya cita-cita bapak waktu masih kecil?

Cita-cita saya ingin nonton bola di stadion-stadion kelas dunia menyaksikan bintang-bintang top dunia berlaga. Itu cita2 saya sejak SD di Parepare

Buku favorit dan film favorit apa?

Buku favorit saya Politics Among Nations Struggle for Power karya Hans J Morgenthau. Sebuah buku politik internasional klasik yg menggambarkan politik internasional sebagai perjuangan untuk mencapai kekuasaan.

Film favorit saya Si Pitung dengan Saturday Night Fever. Saya tidak suka yang rumit tapi saya menhargai film-film berkelas karya  Francis Ford Coppola atau Steven Spielberg.

Motto dan prinsip hidup apa?

Perjalanan yang sukses ketika kita mampu kembali dengan selamat. Itu saja.

 

BACA JUGA