Follow

Kenal Aktris Film Maipa Deapati yang Juga Mahasiswa Unhas

Editor: admin | Jumat, 06 Juli 2018 - 23:32 Wita | 216 Views
Foto : identitas/Dhirga Erlangga

Tak henti mengejar impian, hingga benar-benar menggapainya.

Muda dan berprestasi, dua kata yang mewakili sosok jejak langkah identitas kali ini. Fildzah Hidayatil Baqi Burhanuddin. Ia berhasil mendapat kepercayaan berperan sebagai tokoh Maipa dalam Film Maipa Deapati dan Datu Museng.

Tentu pembaca tak asing dengan Film Maipa dan Datu Museng yang merupakan garapan tim produksi Paramedia Film yang disutradara Rere Art2tonic. Fildzah menjadi Maipa Deapati berperan sebagai seorang isteri yang setia pada Datu Museng suaminya yang diperankan artis asal India Shaheer Sheikh.

Fildzah sapaan akrab Fildzah Hidayatil Baqi Burhanuddin, sejak kecil memang telah bercita-cita menjadi professional news anchor (pembawa acara berita) dan pekerja seni yang berberkah. Hal-hal berbau seni mulai ia geluti. Dari menyanyi, bermain musical keyboard, menari tradisional hingga ekting. Sebelum merambah di dunia perfilman, Fildzah awalnya aktif di bidang seni Publik Speaking, Vocal, Musik, catwalk serta Tari Tradisional.

Awal terpilihnya, Fildzah memerankan tokoh Maipa, ketika ia mendengar kabar bahwa akan dibuat film Maipa Deapati dan Datu Museng yang disutradarai Rere Art2tonic.  Fildzah pun langsung ikut casting, bermodalkan pengalamannya di dunia teater.

Bukan pertama kali Fildzah memerankan tokoh Maipa Deapati, sebelumnya mahasiswa Fakultas Hukum Unhas ini, pernah terpilih menjadi toko utama Maipa saat mengikuti Seni Drama Dan Tari (Sendratari Maipa Deapati) yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Kota Makassar pada Oktober 2016 di Benteng Fort Raterrdam.

Fildzah tak menyangka, setahun kemudian roman sejarah Makassar Maipa Deapati dan Datu Museng bisa dibintanginya. Apalagi ia memerankan Maipa Deapati kembang Kesultanan Sumbawa. Fildzah mengaku baru pertama kali tampil di dunia perfilman. “Sebenarnya ini film perdana, jadi saya baru pertama kali menjadi salah satu pemeran dalam sebuah film, kasarnya masih anak baru sekali dalam industri perfilman.” Kata Fildzah, Sabtu (2/3).

Lebih lanjut, perempuan kelahiran Makassar, 19 Maret 1996 menceritakan alasan mengapa akhirnya dirinyalah yang terpilih. Menurut sutradara dan tim rumah produksi Paramedia Film kepada Fildzah untuk memerankan tokoh Maipa dibutuhkan wanita berdarah Indonesia, berparas khas Indonesia juga aktif di dunia teater. Tentu poin tersebut telah dimilikinya. Pertimbangan lain yang tak kalah pentingya, dirinya seorang presenter yang sudah sering berhadapan dengan kamera.

Perempuan yang pernah jadi Top 10 Miss Indonesia 2013, mewakili Sulawesi Selatan ini mengungkapkan rasa syukurnya telah membintangi film Maipa Deapati dan Datu Museng yang telah tayang Januari 2018 di Bioskop. Ia mengatakan banyak pelajaran dan tantangan telah didapatkannya. Terutama kemampuan untuk mengeksplorasi sesuatu yang ada dalam dirinya, yang sebelumnya  justru belum ia temukan.

Tak hanya mendapat ilmu memperdalam seni berperan saja, tapi juga ilmu bekerja tim, belajar kreatif, serta detail juga bisa ditimbanya. Gadis yang baru berusia 21 tahun ini mengaku sangat senang berbagi ilmu dan pengalaman kepada orang lain, apalagi kali ini dapat dilakukannya lewat film. “Lewat film ini, tentu kita bisa menghibur dan mengedukasi banyak orang pada saat yang bersamaan.” tutur Fildza kepada identitas.

Semenjak memasuki dunia perkuliahan. Perempuan yang pernah menjadi delegasi Indonesia dalam gelaran “Black Sea Festival” di Kiten, Bulgaria, memang tak pernah menghentikan langkah untuk tetap berkarir. Buktinya, dia merambah masuk ke dunia jurnalistik, dengan menjadi reporter dan presenter di TV Lokal. Di sela perkuliahan dan berprofesi di bidang jurnalistik, ia tetap memanfaatkan waktu untuk menambah pengalamannya dengan siaran, pembawa acara, bernyanyi, main keyboard, tari tradisional dan ikut teater.

Begitulah yang dikerjakan Fildzah, impian dari kecil menjadi professional anchor dan pekerja seni diwujudkan dengan terus belajar dan berusaha keras. Menghargai waktu, hingga tak ada waktu kosong yang dibuang percuma. “Kalau ada waktu kosong diupayakan untuk tetap mengisinya dengan suatu kegiatan yang bermanfaat.” ujar Fildza mengakhiri wawancara.

Muh. Nawir

 

BACA JUGA