Follow

Kesaksian Koordinator Kesatuan Aksi Mahasiswa Unhas 1998

Editor: Renita Pausi Ardila | Senin, 21 Mei 2018 - 12:14 Wita | 728 Views
Hasbi Lodang. Foto: Andi Ningsih/identitas

Tanggal 21 Mei, Indonesia resmi menginjak 20 tahun reformasi. 32 tahun kepemimpinan Soeharto saat itu sangat dikenal sebagai rezim otoriter. Bukan kelompok besar yang mampu menjatuhkan kepemimpinan Soeharto tanpa kelompok-kelompok kecil yang memekik kebebasan.

Demi mewujudkan keadilan pada masyarakat, mahasiswa saat itu juga cukup andil dalam perjuangan reformasi. Lalu seperti apa cerita di balik perjuangan mewujudkan reformasi? Berikut kutipan wawancara reporter identitas Andi Ningsih bersama Koordinator Kesatuan Aksi Mahasiswa Unhas tahun 1998, Hasbi Lodang, Senin (7/05).

 Bagaimana awal langkah mahasiswa menyuarakan reformasi ?

Jadi saat itu kehidupan bangsa sangat kelam. Dulu kita mengistilahkan rakyat lebih takut pada rezim Soeharto ketimbang takut tuhannya, karena begitu luar biasa kita dikekang. Melihat kondisi yang sangat mencekam saat itu akhirnya kami sesama teman-teman seluruh Senat Mahasiswa se-Makassar berkeinginan membentuk kelompok diskusi kecil, yang diberi nama Alinasi Mahasiswa Pro Demokrasi (AMPD). Kami selalu adakan diskusi rutin tujuannya untuk membicarakan bagaimana melakukan reformasi dan  bagaimana rezim segera berakhir.

Saat itu bagaimana tantangan yang dilalui Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi ?

AMPD saat itu tidak mendapat tempat di kampus untuk melakukan gerakan-gerakan sempalan karena tidak dibawah struktur formal. Jadi kita tidak mendapat dukungan penuh dari kampus. Namun bukan berarti kami menarik langkah.

Sembari meminta kesadaran teman-teman mahasiswa untuk kritis kami juga memulainya dengan membentuk kelompok kecil untuk melakukan diskusi rutin dari pondokan satu ke pondokan yang lain lantaran tidak adanya dukungan kampus.

Setiap pergerakan yang kami lakukan tidak pernah bergerak lebih dari 300 orang sebelum krisis moneter. Namun tak terlepas dari itu, media massa justru mendukung gerakan mahasiswa pada saat itu. Jadi dukungan media tidak lepas dari suksesnya gerakan reformasi.

Lalu apa saja yang dilakukan Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi Saat Itu?

Selain aktif berdiskusi dan membagikan selebaran-selebaran sebagai pemantik pergerakan. Kami juga aktif turun aksi di jalan. Kami kan saat itu mengawal isu lewat surat menyurat kemudian ketemu langsung. Dari situlah AMPD melakukan advokasi terhadap buruh dan petani.

Pada kasus kerusuhan 27 Juli 1996,  teman-teman AMPD saat itu berorasi di jalan Diponegoro, depan kantor DPP (saat ini PDI Perjuangan). Saat itu kami tidak melihat Megawati sebagai orang partai tapi sebagai awal melakukan perlawanan secara massif tegaknya demokrasi.

Saat itu kami hanya menghadiri undangan Budiman Sudjatmiko di deklarasi DPRD. Tapi karena keikutsertaan teman-teman untuk menyuarakan demokrasi dan reformasi pada saat itu, pemerintah menuduh teman dari AMPD sebagai bagian dari aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) penyebab kerusuhan. Pemerintah Orde Baru kemudian memburu dan menjebloskan para aktivis Indonesia ke penjara.

Setelah kerusuhan itu banyak mahasiswa ditangkap di Jakarta, di penjarakan bahkan di culik. Kami akhirnya memutuskan kembali ke Makassar. Setelah peristiwa tersebut, kami lihat muncul gerakan vakum (down) karena ketakutan. Tapi justru sepulang kami dari Jakarta, teman-teman AMPD kemudian mendeklarasikan pembentukan partai mahasiswa pro demokrasi.

Apa yang membuat mahasiswa Makassar saat itu tidak gentar dengan peristiwa tersebut?

Demi mewujudkan reformasi secepatnya tentunya. Pada saat itu saya dan Akbra Endra dan Suparno memberanikan diri dengan beberapa teman yang lain. Akibat keberanian teman-teman aktif menyuarakan segera Indonesia melakukan revolusi, Akbra Endra saat itu di interogasi di Kodam dan dia juga pernah ditikam. Saya sendiri di interogasi di Polrestabes, Suparno juga pada saat itu ikut diinterogasi bahkan beberapa teman ada yang di strum.

Artinya intel pada saat itu sangat bekerja keras mengintai mahasiswa dan itu menjadi tantangan. Di saat terjadi krisis moneter mahasiswa baru berbondong-bondong melakukan pergerakan. Dan teman-teman pers lah yang melakukan propoganda lewat media sembari kami lakukan gerakan-gerakan di jalan.

Bagaimana pergerakan mahasiswa menjelang reformasi 1998 ?

Di aksi pertama itu saya masih ingat karena kita harus mengatasnamakan kampus maka AMPD diubah menjadi KAMUH (Kesatuan Aksi Mahasiswa Unhas). KAMUH inilah yang pertama turun di lapangan karebosi. Bergabung dengan IAIN dan IKIP (sekarang UIN dan UNM).

Kemudian tahun 1998 memasuki reformasi, Prof Mattulada dan Prof Muis yang idealismenya sangat luar biasa memberikan orasi, disitulah pertama kali guru besar di PTN seluruh Indonesia berani berteriak menyuarakan untuk segera Soeharto diturunkan dari jabatannya sebagai presiden.

Jadi sebenarnya kalau mau dirunut dalam kejadian reformasi, bisa dikatakan orang Unhas lah yang pertama menyuarakan reformasi.

Bagaimana AMPD dulu menyatukan gerakan khususnya di Makassar menuntut terwujudnya reformasi ?

Saya dulu salah satu yang memimpin aksi di kesatuan aksi mahasiswa Unhas di lapangan Karebosi. Saya mengatakan kepada teman-teman semua pada saat itu, jangan ada ego sentris. Tidak ada nama Unhas, IKIP, IAIN atau UMI dan perguruan tinggi apapun itu, kita harus menganggap bahwa kita semua adalah mahasiswa Indonesia. Kita ingin sama-sama memperjuangkan kelangsungan bangsa.

Bagaimana dukungan masyarakat saat itu terhadap pergerakan mahasiswa ?

Masyarakat justru mendukung penuh. Pada saat itu masyarakat bahkan memberikan secara sukarela makanan, air bahkan spanduk dan piloks.

Hal-hal apa bagi anda yang kemudian membekas dari peristiwa memperjuangkan reformasi ?

Yang tidak terlupakan itu, ketika saya ke Jakarta dengan teman AMPD, setelah terjadi kerusuhan 27 Juli 1997. Kami tidak tahu jalan, saat itu juga sudah terjadi kerusuhan di mana-mana, karena tidak ada kendaraan umum sehingga kami harus jalan kaki dari Jakarta Pusat ke Jatinegara bersama enam orang teman. Di tengah suasana yang mencekam kami berjalan melalui rel kereta api. Setiba di Jatinegara menumpanglah kami di rumah Almarhum munir.

Apa-apa saja menurut anda yang berhasil mahasiswa perjuangkan, selain reformasi ?

Keberhasilan kami bisa dilihat dari sudah terwujudnya kebebasan pers, terwujudnya demokrasi, trasparansi, dan rakyat sudah ada berkesempatan untuk mendirikan partai dan militer juga tidak bisa lagi berpolitik praktis, dan berhasil mencabut Dwi Fungsi Abri.

Apakah menurut anda reformasi sudah seutuhnya terwujud ?

Dulu kita sebenarnya menuntut revolusi total yang kemudian kita perhalus menjadi reformasi. Dalam artian semua antek-antek Orde Baru yang melakukan korupsi harus diadili dan turun dari jabatannya. Tidak boleh lagi menduduki kursi politik.

Kami tak mengizinkan tempat bagi antek-antek Soeharto masuk dalam pemerintahan. Disamping itu sudah banyak yang puas dengan keberhasilan diturunkannya Soeharto dari jabatannya. Tapi nyatanya belum seutuhnya sebenarnya karena masih banyak antek Soeharto yang tidak diadili.

Apa setelah reformasi berhasil dilakukan, sudah tidak ada lagi gerakan yang dilakukan AMPD ?

Pasca reformasi, tugas kami, AMPD selalu melakukan komunikasi, rembuk nasional untuk menyatukan visi dan keinginan apa yang menjadi tugas kedepan setelah Soeharto turun. Pertemuan rembuk nasional gerakan nasional mahasiswa disepakati, jadi jaringan nasional gerakan mahasiswa tahun 1999 dan di Makassar pertemuan pertamanya.

Apa harapan anda terhadap 20 tahun reformasi Indonesia ?

Kita harapkan bisa melihat Negara Kesatuan Republik Indonesia ini menjadi bangsa yang sudah bebas berbicara, berkumpul, pers pun ikut bebas. Untuk itu mahasiswa harus tetap berada di garda terdepan, menyuarakan keadilan dan kebenaran.

Data Diri

Nama Lengkap : Hasbi Lodang

TTL                       : Enrekang, 18 Juli 1973

Pendidikan        : S1 Unhas

Mantan Koordinator AMPD Makassar 1997-1999

Koordinator Kesatuan Aksi Mahasiswa Unhas 1998

Ketua Presidium Nasional Aktivis 1998 (2018)

Reporter: Andi Ningsih

BACA JUGA