Follow

Leila S Chudori, Merangkai Sejarah Jadi Cerita

Editor: admin | Senin, 16 April 2018 - 13:51 Wita | 205 Views
Leila berfoto bersama karyanya usai kegiatan Resensi HMM FT Unhas beberapa waktu lalu. Foto: Renita/identitas.

If you want to be writer, you have to be a good reader, pesan Leila S. Chudori, penulis novel yang sering kali memasukkan nuansa sejarah dalam novelnya, mulai dari kasus 65 hingga kisah aktivis 98. Leila yang juga memiliki latar belakang jurnalis, lebih sering menulis tentang pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan perlawanan.

Pada 10 Februari lalu, Leila menghadiri bedah bukunya yang berjudul “Pulang”. Kegiatan  ini diselenggarkan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin, Fakultas Teknik Unhas di Auditorium Prof A Amiruddin, Fakultas Kedokteran Unhas. Reporter identitas, Fatyan Aulivia berkesempatan wawancara khusus dengan Leila S Chudori, mengenai ketertarikannya menulis novel bergenre sejarah. Berikut hasil wawancaranya:

Mengapa Anda menulis novel dengan latar sejarah? 

Sebetulnya tujuan saya lebih menulis novel tentang keluarga.  Jadi Laut dan Pulang sama-sama tentang keluarga, cuman bedanya kalau di novel Pulang keluarga tertimpa peristiwa 65 dan Biru Laut itu tentang peristiwa 98. Karena tentang anak-anak yang hilang, saya tertarik bahwa masih ada pekerjaan rumah yang belum diselesaikan oleh  pemerintah. Apakah pemerintah sebelumnya maupun sekarang dan nanti. Mereka harus menyelesaikan. Seperti anak-anak  yang hilang sampai sekarang belum ketahuan nasibnya. Harus ada penyelesaian. Fiksi saya ini menceritakan sisi psikologi, emosi. Bagaimana antara orang tua adik kakak  dengan peristiwa politik yang menimpa keluarga. Mau gak mau kan jadi sejarah yang muncul.

Bagaimana cara merangkai peristiwa sejarah tadi jadi cerita?

Di awal tahun 2003, majalah Tempo tempat saya bekerja, memutuskan untuk menerbitkan Edisi Khusus Soeharto. Bersama kawan-kawan lain, saya diminta untuk menjadi tim penggarap. Selain sisi politik dan bisnis, saya juga berpikiran bahwa begitu banyak pelanggaran hak asasi manusia selama berdirinya orde baru. Ada yang cenderung dilupakan orang, penculikan para aktivis tahun 1998.

Nezar Patria, alumni Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada adalah kolega saya di majalah DR maupun Tempo. Ia adalah salah satu korban penculikan. Saya meminta Nezar untuk menuliskan kembali sebuah kesaksian sebagai korban penculikan yang pernah disiksa dan disekap.

Di tengah penelusuran kasus penculikan itu, saya sedang dalam proses riset dan penulisan novel “Pulang”. Ketika novel “Pulang” selesai diluncurkan Desember 2012, saya langsung bertemu dengan Nezar dan korban lainnya untuk sebuah wawancara panjang

Dari pertemuan-pertemuan ini, maka terciptalah seorang sosok bernama Biru Laut yang saya jadikan tokoh utama di Novel terbaru saya. Membangun tokoh/karakter adalah bagian yang paling sulit sekaligus menggairahkan dan menyenangkan. Kita menciptakan sebuah karakter artinya kita juga sekaligus membangun ‘sejarah tokoh tersebut’.

Dalam membuat novel sejarah tentu membutuhkan riset yang mendalam. Lantas, apa saja kesulitan anda dalam melakukan hal itu?

Beda Novel Pulang dan Laut. Saya mewanwancarai semua tokoh-tokoh itu. Terkadang dari mereka akan memberitahu orang atau tokoh lain. Membaca pustaka,  ada banyak sekali buku yang berkaitan dengan itu dan saya mengunjungi tempatnya. Dalam novel Pulang,  Saya ke Paris dua kali dan mengunjungi beberapa tempat untuk merasakan feel-nya kota itu.

Di antara novel yang Anda tulis, buku mana yang paling berkesan saat Anda menulisnya?

Itu semua ‘anak-anak saya’ (red. karya) jadi semua berkesan, gak boleh bedain anak. Saya tidak mau. Semua memiliki proses yang masing-masing unik.

Profesi mana yang paling Anda senangi, jurnalis atau sastrawan?

Dua-duanya menantang, tapi kalau wartawan itu kan kita kerja sebagai tim jadi hasil kerja tim ada kebanggaan institusi. Kalau novel hasil karya saya juga meskipun kalau selesai dipromosikan  dengan tim seperti Gramedia. Ada kawan-kawan saya yang juga membantu launching. Jadi itu menjadi kerja tim ketika sudah selesai, mempromosikannya itu kerja sama tim. Kalau Jurnalis ketika proses, itu sudah tim. Bedanya itu. Tapi masing-masing ada kebanggaan tersendiri.

Apakah Anda mempunyai tokoh penulis favorit?

Ohh banyak sekali tokoh favorit saya. Alice Munro pemenang nobel sekarang bukunya ada di tas saya sedang kubaca. Sebelumnya saya juga membaca karya  Mario Vargas Llosa. Biasanya buku pemenang nobel itu saya beli dan baca, tapi tidak semua jadi favorit.

Apa pesan untuk generasi mahasiswa yang mempunyai minat dalam bidang kepenulisan?

Pertama-tama kalau mau menulis itu harus senang baca, kalau gak senang percuma. Harus senang baca biarpun membacanya satu bulan satu buku. Lama-lama tingkatkan satu bulan dua atau tiga. Kenapa? Jika membaca karya orang lain anda bisa terserap di situ. Anda belajar oh inilah cara membuat orang terserap. Ini tidak berarti harus ngikutin gaya dia. Tapi kalau kita baca bisa terbawa itu. Jadi seseorang yang mau nulis harus senang baca, itu yang paling penting. Yang lain-lainnya itu teknis.

BACA JUGA