Follow

Listrik, Pemicu Strata Sosial

Editor: Sri Hadriana | Senin, 04 Desember 2017 - 17:27 Wita | 51 Views

Jantung berhenti, manusia mati.

Energi listrik menjadi denyut nadi pembangunan yang menggerakkan hampir semua aspek kehidupan. Hal tersebut menggambarkan kehidupan suatu wilayah yang tidak dialiri listrik. Tanpa listrik, warga tidak dapat menjalankan aktivitasnya dengan baik.

Oleh karena itu, Jurnal Celebes yang berkonsorsium dengan Perkumpulan Wallacea dan Empati berencana membangun paket proyek terintegrasi: pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), pengembangan usaha, pengelolaan agroforestri, dan penguatan kelembagaan desa di Desa Buangin, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Di tengah perjalanan, aral melintang menghampiri. Setelah melaksanakan studi kelayakan dan rancang bangun desain PLTMH, rencana dibatalkan. Tiba-tiba muncul proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dari Kementerian Desa dan Transmigrasi  di lokasi yang sama. Tak lama kemudian, menyusul tiang listrik dari kontraktor PLN.

Permasalahan yang mereka hadapi itu dituangkan dalam sebuah karya berupa buku berjudul ”Berebut Cahaya di Mahalona, Potret Kelistrikan di Sulsel”. Tim penulis yang terdiri dari Eko Rusdianto, Suriani Mappong, dan Wahyu Chandra mengemas kegundahan yang mereka rasakan dengan gaya penulisan ringan, namun tak luput dari data.

Buku setebal 186 halaman ini diawali dengan perjalanan kru JURnalCelebes ke Desa Buangin. Di perjalanan mereka mendapati kondisi jalan yang sangat berlumpur hingga mampu merendam mobil yang mereka tumpangi. Saat mereka menginjakkan kaki di tepian Sungai Lamonto, mereka tercengang melihat hutan di bantaran sungai kecil itu telah dibabat dan dibakar untuk kebun lada. Maklum, di desa tersebut merica bisa dihargai hingga Rp. 200 ribu per kilonya. Untuk itu, warga berbondong-bondong menjarah hutan, kemudian menjadikannya ladang merica.

Desa yang baru saja ingin mereka alirkan listrik melalui PLTMH itu, tiba-tiba diserobot oleh Kementerian Desa dan Transmigrasi dengan membangun PLTS pada Februari 2016. Warga desa yang selama ini tidak pernah merasakan adanya listrik, tentu sangat senang dengan adanya PLTS. Tak lama kemudian timbul persoalan baru. Daya PLTS dirasa warga jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik mereka.

Setelah itu, di persimpangan jalan, PLN menawari daya listrik yang mumpuni dengan biaya yang bagi warga kebanyakan terbilang fantastis. Terang saja, untuk biaya pemasangan instalasi mereka harus membayar tiga juta rupiah kepada pihak PLN. Sehingga si miskin tak hanya miskin harta, tapi juga miskin listrik. Di desa Buangin, listrik menjadi tolak ukur tingkat kesejahteraan suatu keluarga.

Lebih lanjut, buku ini juga menjelaskan potret kelistrikan di Luwu Timur. Penggunaan listrik di daerah tersebut bagai buah simalakama. Biaya mahal yang dikeluarkan warga tak sebanding dengan pelayanan yang diberikan oleh pihak PLN. Fenomena pemadaman listrik menjadi hal biasa bagi mereka.

Namun, bukan berarti mereka anteng-anteng saja. Tak jarang mereka mengeluarkan keluhan dan olokan untuk PLN. Bagaimana tidak, barang elektronik mereka banyak yang rusak. Salah satunya bola lampu yang dapat digunakan selama setahun, hanya dapat bertahan selama sebulan. Tetapi semua itu sia-sia saja. Toh, pihak PLN selalu memberikan alasan yang terus berulang, seperti ada gangguan teknis, faktor alam yang menyebabkan pohon tumbang, dsb.

Data-data kronologis seperti keterangan waktu dan tempat yang kemudian didukung oleh tanggapan atau komentar dari beberapa orang kompeten dan sesuai dengan permasalahan yang dibincangkan di buku ini, membuat buku ini dapat dijadikan salah satu referensi bacaan yang dapat dipercaya. Dengan membaca buku ini kita tidak perlu ke Buangin untuk mengetahui keadaan listrik disana. Semuanya telah digambarkan dengan baik di dalam buku tersebut.

Namun buku ini tak luput dari keselahan ketik yang terkadang dapat memnbuat pembaca kurang nyaman. Terlepas dari itu, buku ini berhasil menyajikan potret kelistrikan di Desa Buangin berbasis data dilengkapi foto dokumentasi. Selamat Membaca!

Judul : Berebut Cahaya di Mahalona, Potret Kelistrikan di Sulsel
Penulis : Eko Rusdianto, Suriani Mappong, dan Wahyu Chandra
Tebal Buku : 186 halaman
Penerbit : JURnalCelebes
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, September 2017

Reporter: Khintan Jelita

BACA JUGA