Follow

Maam Ria, Dosen Tegas dan Cerita Mahasiswa Mengundurkan Diri dari Kelasnya

Editor: admin | Sabtu, 10 Maret 2018 - 11:28 Wita | 162 Views
Foto: istimewa

Beragam cara dosen memberikan nilai pada mahasiswanya, ada yang melihat dari keaktifan mahasiswa di kelas, hasil ujian, kuis harian dan berbagai metode penilaian lainnya. Seperti halnya dengan dosen Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Ria Jubhari, ia mempunyai metode sendiri dalam memberikan nilai.

Dosen yang akrab disapa Maam Ria ini menilai dari beberapa parameter yang menjadi standar kelulusan di tiap awal semester. Di kelas ia dikenal oleh mahasiswa sebagai Dosen yang tegas dan disiplin dalam mengajar. Tak ada tawar-menawar bagi mahasiswa yang melanggar. Berikut ini kutipan wawancara khusus Reporter identitas, Andi Ningsi bersama Ria Jubhari.

Bagaimana metode saat anda mengajar dan berinteraksi dengan mahasiswa di kelas?

Saya dalam mengajar di kelas menganggap mahasiswa saya adalah tempat belajar. Kita saling belajar. Di mata kuliah writing 1 misalnya, saya harus exspose mahasiswa sedemikian rupa pada beberapa jenis teks yang dibagi dalam lima macam deskripsi. Saya kasi waktu selama 8 minggu. Belajar deskripsi dan ada final project. Di di final project saya suruh buat tabloid. Nah itu dikerjakan per kelompok.

Di tabloid itu berisi materi selama satu semester, saya suruh ringkas dan menyuruh mereka menghubungkan antara materi satu dan materi lainnya. Bagaimanapun harus nyambung. Itu ada waktunya. Walaupun kerja kelompok saya bisa tahu, saya secara intensif memfasilitasi mereka.

Di situlah mahasiswa dilatih berfikir kritis dan belajar mengorganisir ide-ide secara kreatif. Kadang kalah kalau ada tugas. Saya menggunakan facebook grup. pernah ada kelas saya berurutan listening dan writing saya infokan jadwalnya. Begitupun bila saya akan telat masuk kelas.

Anda dikenal sebagai dosen yang objektif dalam memberikan nilai kepada mahasiswa. Bagaimana tolak ukur penilaian anda?

Saya punya perencanaan di awal. Saya betul-betul sudah mengetahui apa yang akan saya ajarkan di kelas. Saya sebenarnya sudah menyiapkan format penilaian yang menjadi indikator kelulusan mahasiswa di awal semester.

Jadi di pertemuan pertama selalu saya sampaikan bahwa yang akan dinilai nanti itu seperti ini dan juga konsentrasinya yang saya sudah input di microsoft excel. Jadi mahasiswa sudah tahu betul apa penilaiannya.

Bagaimana anda mengetahui sejauh mana kapasitas dan kemampuan mahasiswa di kelas?

Ini adalah efek dari 15 mahasiswa dalam satu ruangan kelas, saya mengetahui secara detail apa yang terjadi di kelas dan sejauh mana mahasiswa menangkap materi yang disampaikan.

Menurut mahasiswa yang anda ajar, banyak mahasiswa yang mengundurkan diri di kelas karena tidak mampu mengikuti metode mengajar anda. Bagaimana pendapat anda?

Iya betul. Semeseter lalu bahkan di mata kuliah listening juga begitu ada 16 mahasiswa yang saya ajar. Bahkan pernah hanya 7 orang di kelas. Tapi itu bukan masalah bagi saya, justru saya bisa melihat siapa yang merespon dan memberikan jawaban dari materi yang diajarkan.

Saya bayangkan kalau kelasnya besar akan sulit menguasai kelas dan itu pasti akan sulit untuk mengetahui apakah mereka menangkap materi atau tidak. Karena mereka akan ogah-ogahan, sebab merasa tidak diperhatikan.

Hal-hal apa yang biasa anda lakukan sebelum masuk di kelas?

Saya tipikal dosen yang tidak akan menginjak kelas sebelum saya tahu apa yang akan saya berikan ke mereka. Begitupun mereka saya tuntut sebanyaknya kerjakan tugas. Saat di kelas saya bisa tes mereka dengan mengacak untuk saya tanya satu-satu. Mereka juga saya suruh untuk bawa kamus dan kalau ada yang saya dapati tidak bawah, saya langsung suruh keluar. Saya punya perencanaan dan mengetahui apa yang akan saya ajarkan di kelas.

Katanya, anda tipikal dosen yang sering datang lebih awal dibanding mahasiswa. Apa alasannya ?

Saya tidak mau membuat mahasiswa saya menunggu. Saya membayangkan 1 kepala menunggu selama 5 menit. Jika ada 15 oang dalam satu kelas itu berarti 15 kepala di kalikan 5 menit, berapa banyak waktu yang akan mereka buang karena menunggu saya? Waktunya akan terbuang percuma, padahal banyak hal yang bermanfaat yang bisa mereka kerjakan.

Pecapaian terbesar seorang dosen menurut anda apa?

Sebagai dosen yang menjalankan tugas tridharma perguruan tinggi, secara pribadi yang saya anggap berhasil bila tulisan saya bisa dibaca oleh orang lain, baik tulisan sederhana ataupun tulisan hasil penelitian. Kalau segi mengajar, saya berhasil kalau mahasiswa bisa sekolah ke luar negeri dan kembali membawa ide-ide segar.

Apa yang biasa anda lakukan untuk mengevaluasi keberhasilan mengajar anda di kelas ?

Saya pribadi, sebagai seorang dosen menganggap mahasiswa saya sebagai klien dan saya selalu berusaha memuaskannya dengan metode apapun. Sebagai dosen, jika memungkinkan di akhir semseter seyogyanya kita mengevaluasi kelas kita sendiri. Kalau saya biasa evaluasinya dengan kasi di facebook grup 20 statement dan minta mahasiswa memberi angka 0 sampai 10 sesuai apa yang mereka rasakan dan menyuruh mereka menambahkan hal-hal lain yang bisa menjadi masukan. Dan itulah nanti yang bakal menjadi input untuk mata kuliah yang sama yang saya ajarkan untuk jadi poin tambahan saat saya mengajar di semester berikutnya.

Ke depannya, apa pesan anda terhadap dosen dan mahasiswa untuk dilakukan?

Dalam mengajar kita anggap apa yang kita kerjakan itu sebagai suatu proses. Begitu prinsip saya karena dalam proses itu kita melewati up and down, kita terlibat dalam proses itu dan butuh persiapan.

Seperti halnya menulis. Bagi saya menulis bukan produk tapi proses. Apalagi kita sebagai dosen, jangan kita suruh mahasiswa kalau kita saja tidak punya persiapan, karena tidak bisa suruh orang kalau kita saja tidak bisa. Sedang kita adalah contoh di depan.

Begitu juga mahasiswa, harus belajar dari proses, memanfaatkan waktu yang ada. Berusaha mengeskplor diri sendiri dan beresksperimen di kampus. Mahasiswa tidak perlu takut salah dan gagal karena kampus memang tempat belajar, jadi wajar kalau kita melakukan kesalahan. Justru ketika kita sudah bekerja dan melakukan kesalahan di situlah kita harus malu.

Reporter: Andi Ningsi

BACA JUGA