Follow

Mahdon, Pengawal Rektor Lima Periode

Editor: Renita Pausi Ardila | Jumat, 01 Juni 2018 - 14:49 Wita | 239 Views
Mahdon. Foto: Andi Ningsi/identitas

Pantang pulang kampung, kini berhasil menjadi pengawal rektor dari masa ke masa 

 Jejak langkah kali ini adalah seorang lelaki yang sangat dekat dengan sivitas akademika Unhas, ia adalah pengawal rektor sejak tahun 2002 dari masa kepemimpinan Prof Dr Ir Radi A Gany, hingga saat ini, Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu MA.

Diakhir 2017 kemarin usia Mahdon sapa akrabnya, sudah menginjak 50 tahun. Itu berarti jika dihitung ia telah menghabiskan waktunya hampir 18 tahun  mengabdikan diri sebagai pengawal rektor.

Mahdon sangat dikenal dengan sifatnya yang humoris serta mahir mencairkan suasana, tetapi ia sangat tegas jika itu berurusan dengan jam kerja. Itulah karakter yang melekat pada pribadi anggota satpam ini.

Lelaki rantauan asal Nusa Tenggara Barat ini pernah merasakan pahitnya kegagalan. Ceritanya diawali pada tahun 1989 saat pertama kali menginjakkan kaki di Kota Daeng. Kedatangannya saat itu untuk berkuliah di kampus merah ini, tapi apalah daya takdir tak memihak padanya. Padahal ia sangat ingin berkuliah di Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik kala itu.

Karena tidak lolos, terpaksa ia hanya bisa melamar pekerjaan. Mencari pekerjaan tidak mudah, Mahdon harus kesana kemari dan akhirnya hanya mendapat penolakan. Berselang mencari pekerjaan Mahdon putus asa, nalurinya pun mengingatkan ia tentang kampung halaman. Namun, niat kedatangannya di Makassar mengurungkan rindunya agar tetap bertahan.

Katanya, malu rasanya pulang tanpa buah tangan sedikitpun. Ia pun tetap bertahan perjuangkan hidupnya ditanah rantauan tanpa sanak saudara. Saat itu Mahdon hanya menumpang di kos temannya asal Bima. Ditengah susahnya mencari pekerjaan, ia pernah menjadi sopir pete-pete bahkan pernah menjadi buruh. Tapi menurut anak rantau ini “yang terpenting halal,” katanya.

Awal karirnya di Unhas, ia menjadi sopir sekertaris rektor dimasa jabatan Prof Dr Basir Hasanuddin. Kemudian pada tahun 2002 dia ditunjuk sebagai pengawal rektor, selanjutnya tahun 2005 dirinya terangkat menjadi pegawai negeri sipil sebagai Satuan Keamanan Unhas.

“Tidak kuliah di Unhas, saya putuskan melamar kerja di Unhas dan ditunjuk sebagai sopir sampai menjadi pengawal rektor. Saat itu kerja keras dan tanggung jawab menjadi prinsip saya,” ujarnya.

Lelaki yang pernah ikut Pendidikan Pelatihan Dasar Kepolisian ini berhasil mendapat kepercayaan rektor dari masa ke masa. Awalnya mantan sopir pete-pete ini pengawal Prof Rady A Gany, setelah Prof  Dr dr Idrus Andi Paturusi naik menjadi rektor Mahdon masih menduduki posisinya sampai masa jabatan Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu MA, rektor perempuan pertama di Unhas.

Bahkan diperiode kedua kedudukan Prof Dwia sebagai rektor, Mahdon diberitahu langsung, “Mahdon, kita sama-sama lagi yah,” katanya mencoba mengikuti perkataan Prof Dwia saat itu.

Satu hal yang menjadi tugas penting Mahdon setelah pertama kali mengawal rektor perempuan, “saya lebih over protecting. Seperti pengamanan saya lebih perketat untuk menjaga keselamatan Prof Dwia,” jelasnya.

Selama dirinya mengawal rektor, Mahdon pernah mendapat teguran dari setiap rektor. Tapi baginya, itu dianggap sebagai motivasi. “Teguran dari bos (rektor) itu menjadi parameter saya untuk mengevaluasi diri dan berusaha tidak mengulangi kembali,“ tegasnya.

Anak pertama dari sepuluh bersaudara ini senang sekali jika diajak bercerita tentang keamanan. Seringkali ia berbagi ceritanya dengan para satpam baru, baik itu berupa saran ataupun kritikan. Semua itu karena kecintaannya di dunia keamanan.

Dibalik keberhasilannya mengawal tiga rektor dari masa ke masa, Mahdon sebelum melamar pekerjaan di Unhas, ia telah membekali dirinya dengan bergabung di Rindam XII Wirabuana Makassar. Disana pelajaran yang dia dapatkan cukup beragam. Mulai cara melayani tamu, hormat, cara membuka pintu dan tersenyum pun diajarinya, ia menghabiskan waktunya disana hampir sekitar satu tahun lamanya.

Memiliki jabatan khusus dibandingkan satpam lain, Mahdon merasa itu sangat cukup. Justru ia ingin fokus mengabdi untuk birokrasi lewat dari jabatannya itu. “ Semoga sekarang dan kedepannya rektor Unhas tetap aman-aman saja dan tidak ada rintangan,” kata lelaki kelahiran Bima ini sambil menutup wawancara, Selasa (02/01).

Dhirga Erlangga

BACA JUGA