Follow

Membaca adalah Kewajiban dan Investasi

Editor: Ayu Lestari | Selasa, 24 April 2018 - 14:25 Wita | 131 Views
Ilustrasi : Sri Hadriana

Menyisihkan separuh uang untuk membeli buku adalah pemandangan yang sering kudapati di tempatku berorganisasi (identitas). Membeli buku tiap bulannya, betapa rajinnya mereka. Dibandingkan denganku yang harus berpikir beberapakali baru mau beli buku. Suatu ketika aku pernah menanyakan alasan mengapa seniorku kerap beli buku, dijawabnya bahwa bukan perut saja yang perlu diisi tapi juga otak. Membeli buku adalah kewajiban dan membacanya sebuah investasi masa depan.

Mendengar jawaban itu, sontak menimbulkan tanya pada diriku sendiri. Hingga hari ini, uangku banyak kuhabiskan untuk apa? Selama ini untuk membaca buku saja, aku sering sekali meminjam dari orang-orang terdekatku. Tak jarang orang yang melihatku menenteng buku, kerap juga ingin meminjamnya. Tapi aku menampiknya dengan dalih, juga meminjam dari seorang teman.

Yah, harus kuakui saya cukup bersimpati dengan mereka yang lebih memilih membeli buku bacaan ketimbang membeli pakaian baru atau sejenisnya. Mulai sekarang setidaknya aku juga harus berpikiran sama seperti mereka. Kurasa memang betul, kita butuh investasi seperti itu, sebab uang bukan satu-satunya yang bisa dijadikan investasi.

Kita perlu belajar dari hal-hal kecil, semisal menabung untuk beli buku. Sebab persoalan membaca tak dijadikan budaya oleh bangsa kita sendiri. Dari hasil pengamatanku sebagian besar orang-orang yang kutemui lebih banyak bermesraan dengan gawainya, ketimbang nimbrung dengan buku bacaan. Biasanya orang mengistilahkannya sebagai generasi tunduk.

Tak heran artikel yang ditayangkan di Kompas.com dengan judul “Minat Baca Indonesia Ada di Urutan ke-60 Berdasarkan studi (Most Littered Nation In the World) yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu.

Aku selalu iri ketika mendengar cerita tentang negara-negara maju yang masyarakatnya sangat rajin membaca. Seseorang yang tak perlu kusebutkan namanya pernah menceritakan pengalamannya saat berada di negeri sakura. Aku sangat menghafal mati cerita itu. Suatu ketika saat ia naik transportasi umum. Sebuah pemandangan asing yang tak pernah dijumpainya di Indonesia. Orang-orang sibuk membaca buku. Ia yang sedang asyik dengan gawainya diam-diam mengamati, hingga kedua bola matanya tertuju kepada seorang anak kecil, seusia anak sekolah dasar. Ia pun mendekati anak kecil tersebut, dengan rasa penasaran ingin mengetahui buku  apa yang sedang dibacanya.

Setiap ingin mendekat untuk mengintip, anak itu selalu melirik heran dan menghindar. Ia pun  pun menghentikan rasa penasarannya, ketika anak kecil tersebut lantang menyuruhnya untuk membaca bukunya sendiri dan tidak mengusiknya. Mendengar ucapan anak kecil itu, ia serasa mendapat tamparan keras, melihat anak seusianya sangat tekun membaca. Berbeda jauh dengan anak-anak seusianya di Indonesia.

Kegiatan membaca di Indonesia memang belum jadi budaya. Para akademisi maupun pemerintah tengah berupaya membangun kesadaran masyarakat untuk gemar membaca. Berbagai cara dilakukan,  seperti pengadaan perpustakaan di institusi pendidikan, menciptakan taman baca maupun perpustakaan keliling. Kendati, upaya itu belum membuahkan hasil.

Belum lagi, upaya tersebut harus menghadapi tantangan perkembangan teknologi, khususnya internet yang kini bisa dikatakan telah menghipnotis hampir semua kalangan. Seperti penggunaan sosial media sebagai ajang berekspresi yang tak terikat waktu, mulai dari pagi hingga pagi kembali.

Budaya membaca di Indonesia kini lindap. Pola pikir menjadi semakin praktis dan miskin pengetahuan umum. Padahal kebiasaan membaca dapat melatih otak dan pikiran kita.

Siapapun yang hobi membaca akan memiliki fokus atau konsentrasi yang baik. Membaca juga bisa mengasah kemampuan menulis, atau bahkan mencari inspirasi tulisan yang bagus. Kita bisa mendapatkan ide yang melimpah untuk dijadikan bahan menulis. Kuncinya, untuk menjadi penulis yang hebat, jadilah pembaca yang rakus mengutip kata Tomi Lebang (senior identitas).

Awal-awalnya membaca memang sering mengundang kantuk, namun lama kelamaan akan menyenangkan. Apalagi keindahan bahasa dalam sebuah buku mampu mengurangi stress. Jadi obati stresmu dengan membaca.

 

Andi Ningsi

Mahasiswa Sosial Ekonomi Perikanan, Angkatan 2015

Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas,

Litbang SDM Pk identitas Unhas Tahun 2018

 

BACA JUGA