Follow

Memelihara Kabut

Editor: Ayu Lestari | Sabtu, 03 Februari 2018 - 15:26 Wita | 147 Views

Juni 2017

Perempuan itu masih duduk di Gazebo Pojok Taman. Sesekali beringsut memperbaiki posisi duduknya. Kadang duduk bersila, kadang juga menyelonjorkan kedua kakinya sambil digerak-gerakkan. Tangannya terus saja menggerakkan pulpen di atas sebuah buku yang sejak tadi tergeletak di hadapannya. Entah ia hanya sekadar mencoret tidak jelas atau benar-benar tengah menulis sesuatu. Apapun itu gerak tubuhnya jelas menunjukkan kalau ia sedang gelisah.

Sementara aku masih saja setia duduk di koridor lantai tiga. Mengamati perempuan berkerudung merah muda bermotif yang duduk memunggungiku itu di bawah. Buku Madilog karya Tan Malaka yang hendak kubaca telah tergeletak di sisiku sedari tadi. Sejak aku mulai mengamati perempuan itu.

September 2017

Titik-titik hujan perlahan berjatuhan, mengingatkanku akan sepotong lagu anak-anak. Tik…tik…tik… Bunyi hujan di atas genteng…. Langit yang tadinya cerah mendadak berganti menjadi gelap. Gumpalan awan hitam terlihat bergerak menuju suatu sisi di atas sana.  Sepertinya hujan akan segera turun. Pas sekali dengan momen saat ini. Duduk selonjoran di koridor lantai tiga sambil bersandar pada sebuah tiang. Madilog-nya Tan Malaka masih setia menemaniku sejak beberapa bulan lalu. Moment ini akan lebih sempurna lagi jika segelas teh turut melengkapi. Sore yang mendadak kelabu.

Ketika itu aku merasakan sesuatu mendorongku untuk duduk di pembatas koridor. Tempat paling pas untuk mengamati seliweran mahasiswa di bawah sana. Entah sejak kapan mengamati kesibukan orang lain terasa menyenangkan bagiku. Mungkin sudah menjadi kebiasaan. Seperti saat ini. Tiga orang perempuan tampak berjalan terburu-buru menuju gedung dekanat, berusaha menghindari titik hujan yang semakin deras. Gazebo di sudut sana mulai didatangi beberapa orang, sementara yang sudah duduk di sana justru beralih ke tempat lain. Mencari perlindungan yang lebih aman.

Saat itulah mataku tiba-tiba menangkap sosok perempuan. Perempuan yang beberapa bulan lalu membuatku terhanyut mengamatinya. Ia masih duduk di gazebo yang sama dengan dulu, tetapi posisinya menghadap ke arahku. Kali ini ia mengenakan kerudung hitam, kemejanya juga berwarna dasar hitam. Hanya motif kotak-kotak pada kemejanya yang sedikit berwarna. Beberapa bulan lalu ia terlihat gelisah dan sekarang mengenakan pakaian berwarna gelap. Aku mulai berpikir apa hidupnya sesuram itu? Ia tampak membiarkan kabut hitam tumbuh dalam dirinya.

Desember 2017

Apa dia mahasiswa sini?”

Pertanyaan itu tiba-tiba saja menggangguku ketika tidak sengaja melihat si perempuan kabut duduk lagi di gazebo. Pertemuan pertama adalah kebutulan, pertemuan kedua adalah keharusan, dan pertemuan ketiga adalah takdir. Merujuk pada kalimat yang pernah kubaca dalam novel milik kakakku itu, kuputuskan menghampiri perempuan kabut. Ini seharusnya takdir.

Aku tidak menyangka wajahnya benar-benar seperti berkabut jika dilihat dari jarak dekat. Kesan pertamaku setelah mendekatinya membuatku semakin yakin bahwa perempuan ini adalah perempuan kabut. Dan entah karena kehadiranku tampak begitu mencolok atau memang ia yang sensitif, matanya tiba-tiba saja menatapku. Mau tak mau mata kami terpaksa bertemu. Bukan moment romantis ala novel remaja, melainkan moment mengerikan. Aku hanya mengangguk sambil mengambil tempat duduk di hadapannya.

“Mahasiswi sini?” tanyaku.

Perempuan kabut mengangguk. Terlihat canggung dan tidak nyaman dengan keberadaanku. Aku berusaha mencari topik pembicaraan lain.

“Duduk di atas sana jauh lebih nyaman daripada duduk di sini. Apalagi kalau sedang penat,” ucapku sambil menunjuk lantai tiga, tetapi ia tampak kurang peduli. Hanya mengikuti arah telunjukku, lalu diam lagi. “Jangankan mengusir penat. Mau bunuh diri pun bisa. Tinggal lompat saja.”

Segaris senyum samar tampak terukir di wajahnya. Tampaknya ia sudah lupa cara tertawa. Akhirnya jadilah kami hanya duduk-duduk seperti itu. Aku juga sedikit ragu untuk terus menanyainya. Satu hal yang pasti, ia hanya bertahan sekitar setengah jam duduk bersamaku. Sangat lebih cepat dibanding kebiasaannya selama ini. Benar. Ia tidak tahu kalau aku pernah mengamatinya. Ia memasukkan buku catatan dan pulpen ke dalam tasnya, lalu bangkit hendak pergi. Dan seperti sebelumnya, aku hanya mengamati hingga ia pergi. Saat itulah aku baru sadar lupa menanyakan namanya.

Oleh : Yusriah Ulfah Winita

Penulis adalah Mahasiswa Departemen Sastra Asia Barat

Fakultas Ilmu Budaya

Angkatan 2014

BACA JUGA