Follow

Mengambil Jalan Lintas untuk Jadi Bos

Editor: Ayu Lestari | Jumat, 18 Mei 2018 - 15:45 Wita | 727 Views
Dokumentasi pribadi

Belum sarjana tapi sudah jadi bosBegitulah Ahmad Rafif Raya, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang kini telah menjabat posisi sebagai Branch Management di Panin Sekuritas atau ketua di bagian jual beli saham.

Semuanya bermula dari sebuah pertemuan. Tahun lalu, setelah memperoleh sertifikasi profesi di Jakarta, ia berkesempatan bertemu langsung dengan Direksi Panin Bank pusat. Dari pertemuannya itulah, dirinya dimintai untuk membuka sebuah perusahaan di Panin Bank, bernama Sekuritas.

“Perusahaan Sekuritas ini istilahnya perusahaan perantara. Jadi, investor yang ingin membeli saham tidak bisa langsung datang ke perusahaan itu, tapi harus melalui perantara dulu,” kata Afif (sapaan akrabnya) saat ditemui di ruangannya, lantai 3 Panin Bank.

Sebelum menjabat sebagai kepala bagian Sekuritas di Panin Bank, mahasiswa angkatan 2014 ini juga telah menghabiskan waktunya mempelajari seputar saham dan pasar modal. Ia lalu mengikuti pelatihan selama dua minggu di Jakarta, untuk mendapatkan sertifikasi profesi.

“saya kan masih mahasiswa. Perusahaan memang biasanya mensyaratkan harus sarjana dulu. Tapi bagi perusahaan yang bergerak di pasar modal, yang paling penting sebenarnya adalah sertifikasi profesi, misalnya kayak panin,” kata Dia.

Ketertarikan Afif pada dunia pasar modal bermula saat ia naik ke semester enam. Ketika itu, Mahasiswa Jurusan Akuntansi ini mulai berpikir untuk fokus pada bidang keuangan, sesuai dengan jurusannya. Saat mengikuti pelatihan sertifikasi profesi di pasar modal, Afif akhirnya memilih untuk mendalami pasar modal itu sendiri.

Sebelumnya, pendiri Komunitas Saham Pemula ini juga aktif berorganisasi sejak masih mahasiswa baru. Ia bahkan dipercayakan menjadi pemimpin FORKASI (Forum Kajian Akuntansi) saat masih semester satu, dan mengikuti berbagai kepanitiaan. Di samping itu, anak ketiga dari 5 orang bersaudara ini juga tak luput dari prestasi, di antaranya menjadi finalis Investment Analysis Paper di Universitas Islam Indonesia, finalis Sharia Economics Paper Competition di Institute Pertanian Bogor, finalis Trading Competition Universitas Brawijaya, dan beberapa kompetisi lainnya.

Pada semester tiga, Afif mulai merintis usaha, seperti usaha sablon, percetakan, jasa fotografi, dan menjadi bagian marketing usaha donat Ampa Bakery, yang kini telah memiliki sejumlah cabang di Makassar.

“Saya usaha, setidaknya tak merepotkan orang tua lagi untuk membayar UKT, juga untuk jajan pribadi saya,” kata dia.

Pahit manis dalam berwirausaha juga telah dilaluinya. Seperti saat membuka jasa fotografi, ia seringkali dibayar murah ketika hasil foto tidak sesuai yang diinginkan kliennya. Tak hanya itu, ia bahkan pernah ditipu.

Kesibukannya berwirausaha membuat Alumnus SMA Negeri 2 Tingimoncong ini menyisikan rutinitas kampus yang selama ini dijalaninya. Bahkan tak jarang ia mendapati sindiran teman yang kurang mengenakkan di hati.

“Karena fokus di situ, jadi mau nggak mau bakal jarang ke kampus, dan itu kedukaan pertama saya. Bahkan saya biasa dikatai sama teman, weh kenapa mako itu sibuk sekali,” katanya sambil tertawa.

Dari pengalaman jatuh bangun berwirausaha, anak dari Dia Raya ini akhirnya berfikir untuk bekerja sesuai passion-nya, sebagai mahasiswa akuntansi. Ia akhirnya memilih berkecimpung di dunia pasar modal.

“Saya memilih pasar modal, karena potensinya ke depan akan besar. Cuma kita di Makassar kurang awere terhadap dunia ini, padahal kita bisa berinvestasi di pasar modal hanya dengan modal 100 ribu saja,” ujarnya.

Sembari bekerja di Panin Bank, Afif juga menyusun skripsi. Baginya, bekerja sambil susun skripsi seperti juga menyelam sambil minum jus. Di sela waktu kerjanya dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore, ia manfaatkan untuk konsultasi dengan pembimbingnya.

“Saya tetap utamakan kerja. Di sini (bagian sekuritas) kan saya yang sebagai, jadi saya minta ijinnya sama diri saya sendiri. Saya juga sudah buat perjanjian dengan direksi pusat dan Direksi Bank Panin cabang Makassar, jadi ketika bimbingan skripsi, saya diberi kesempatan untuk keluar,” katanya.

Walau bisa dibilang sudah sukses di dunia pasar modal, Afif tak hentinya bekerja untuk meraih cita-citanya, menjadi investor murni tanpa harus bekerja lagi. “Kalau ada yang butuh dana saya bisa bantu. Untuk itu, saya akan menjadi profesionalisme di pasar modal. Sekarang kan saya masih di sini (bagian sekuritas), ke depan saya mau jadi direksi, terus jadi komisaris, lalu menjadi investor,” mimpinya.

Afif berpesan agar teman-teman mahasiswa tidak berhenti berjuang meraih mimpi-mimpinya, dan menjalani sesuatu sesuai passion sendiri, dan melihat peluang ke depan. Katanya, Sesekali kita juga harus bisa mengambil risiko daripada kehilangan peluang atau kesempatan “Intinya jangan melewatkan ikhtiar dan tawakkal,” pungkasnya.

Penulis  : Ayu Lestari

BACA JUGA