Follow

Mengejar Scopus Hingga ke Negeri Kanguru

Editor: Ayu Lestari | Kamis, 15 Februari 2018 - 05:40 Wita | 109 Views

Sebanyak 15 orang dosen dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin tiba di Bandara Townsville, Ahad (21/1) lalu.  Kedatangan sejumlah dosen ini untuk melanjutkan workshop yang bertajuk “Enhancing Indonesia’s Education Sector Capacity in the Marine Sciences”.  Kegiatan ini sendiri terbagi atas tiga bagian: Pertama, Workshop Persiapan Manuskrip Publikasi yang sudah dilakukan pada 4-5 Desember 2017; Kedua, Workshop penulisan manuskrip, kunjungan ke institusi yang terkait bidang ilmu kelautan, dan membangun jaringan dengan peneliti-peneliti ilmu kelautan di Australia; Ketiga, pengajuan manuskrip dan perencanaan publikasi selanjutnya.

foto bersama di bukit (Doc. Pribadi)

Kegiatan yang berlangsung selama 14 hari ini disponsori oleh Australia Award Fellowships Program bekerjasama dengan James Cook University (JCU) dan Unhas, khususnya FIKP.  Kedatangan kami disambut langsung di bandara Townsville oleh Dr. Naomi Gardiner, peneliti kelautan dari James Cook University dan Prof. Laurence Mc Cook, Ph.D yang mementori kegiatan kami selama di JCU.  Dari bandara, Naomi langsung membawa kami ke puncak bukit  yang ada di tengah-tengah kota Townsville sambil menikmati pemandangan kota di tengah teriknya matahari di musim panas.

Kami tidak berlama-lama, mungkin Naomi tahu kalau tamunya itu masih kelelahan habis menempuh perjalanan  Makassar – Jakarta – Singapura – Brisbane – Townsville sehingga mengajak kami agar langsung ke apartemen untuk beristrahat.  Sore itu, 5 kamar di Townsville Southbank Apartemen sudah siap menampung kami.  “Ternyata apartemennya sudah sangat lengkap. Mulai dari peralatan dapur sampai mesin cuci lengkap dengan pengeringnya sudah disediakan. Alhamdulillah…,” ucap Prof. Rohani yang didaulat jadi ketua kelas kami di Aussie.

Pukul 7.30, dua mobil mini bus berlabel James Cook University sudah ada di depan apartemen, Naomi dan Laurence kelihatannya yang akan membawa langsung kami ke kampus terbaik bidang ilmu kelautan sejagad ini, tempat dimana workshop selama dua pekan dilaksanakan.  Tidak lebih dari 30 menit perjalanan kami sudah tiba.  Suasana kampus terasa lengang karena memang mahasiswa lagi liburan.  Hari pertama di kampus diisi dengan acara penerimaan dari universitas dan berkeliling kampus melihat berbagai fasilitas riset dan sarana penunjang pendidikan seperti laboratorium dan perpustakaan.

Acara penyambutan dihadiri oleh Senior Deputy Vice Concelor JCU Prof. Chris Cocklin dan Dean of Marine Biology JCU Prof. Marcus Lane, dan sejumlah pejabat teras dan ahli kelautan dari JCU.   Dekan Marine Biologi JCU, Prof. Marcus Lane mengatakan, kerjasama dengan FIKP Unhas adalah suatu hal yang penting bagi kami.  “Kerjasama seperti ini perlu ditindaklanjuti ke bidang riset melalui riset dan publikasi bersama,” harap Marcus.  Yang menarik, setiap penyambutan tamu asing di universitas ini, selalu ada sambutan dari orang Aborigin (penduduk asli Australia) yang merupakan pemilik lahan di JCU yang telah mereka wakafkan demi kemajuan pendidikan.

 Workshop penulisan publikasi internasional ini tidak hanya melulu pemberian materi penulisan dan latihan, tetapi juga diselingi dengan berbagai pertemuan ilmiah dan membangun jaringan dengan para peneliti di Australia.  Seperti pada Kamis (25/1) siang, peserta workshop dari kalangan perempuan mengikuti pertemuan dengan dosen dan peneliti perempuan   James Cook bertajuk “Women in Science”.  Materi tambahan juga kadang diberikan di kampus James Cook yang berada di tengah kota saat malam hari, misalnya pada Rabu (24/1) malam, Russel Kelley memaparkan bagaimana berkomunikasi di dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Berpose saat di Billabong Sanctury (Doc. pribadi)

Hari Ahad (28/1), peserta workshop berekreasi mengunjungi Billabong Sanctuary yang berada di pinggiran kota Townsville.  Kunjungan ke kebun binatang ini sebetulnya pengganti dari rencana awal berkunjung ke salah satu pulau wisata di kawasan Great Barrier Reef Australia yang dibatalkan karena faktor cuaca dan gelombang laut yang tinggi.  Meski demikian, kunjungan ke kebun binatang yang dihuni oleh hewan-hewan endemik Australia ini cukup memuaskan peserta workshop dan melepaskan kepenatannya berkutat dengan manuskrip selama sepekan.  Betapa tidak, hewan-hewan seperti kanguru, wallaby, koala, dan wombats yang belum pernah kami jumpai langsung sebelumnya, bisa membelainya dan berpose bersama. “Sungguh pengalaman tak terlupakan,” ucap Dr. Mahatma, Ketua Departemen Ilmu Kelautan.

berpose saat di Australian Institut of Marine Science (Doc. Pribadi)

Keesokan harinya, Senin (29/1), peserta workshop berkunjung ke Australian Institut of Marine Science (AIMS). Agenda di pusat penelitian kelautan di Australia ini adalah melihat fasilitas penelitian dan pertemuan kolaborasi dengan peneliti-peneliti di AIMS, termasuk diskusi tentang pengolahan data penelitian dan trik-trik dalam menyiasati publikasi internasional.  Kesannya tak satu orang pun peserta workshop yang tidak berdecak kagum melihat fasilitas penelitian di AIMS ini. “Wajar mereka bisa menembus jurnal-jurnal papan atas. Tidak ada lagi keraguan dalam pengukuran dan pengambilan data,” ucap Rohani.  “Di AIMS inilah Prof. Jamaluddin Jompa menyelesaikan penelitian doktornya,” ungkap Prof. Laurence Mc Cook, Promotor Prof. Jamaluddin Jompa ketika menempuh pendidikan di James Cook University.

Kunjungan ke institusi berikutnya ke Great Barrier Reef Marine Park Authority (GBRMPA) pada Selasa (30/1).  Di tempat ini, peserta workshop berkenalan dengan para peneliti yang mengelola GBRMPA dan mendapatkan penjelasan bagaimana mereka mengelola kawasan konservasi laut yang diklaim terbaik pengelolaannya di dunia ini.  Sore hingga malam harinya di tempat yang sama digelar networking event  dengan peneliti-peneliti dari AIMS, GBRMPA, dan dari JCU dengan peserta workshop.

Hari-hari berikutnya kembali diisi dengan penyelesaian manuskrip dibawah arahan Dr. Naomi Gardnier dengan Prof. Laurence McCook di universitas yang didirikan tahun 1970 ini.  Kedua ahli biologi laut tersebut mendampingi dan membekali peserta workshop secara bergantian dengan baik dan penuh keakraban.  Tanpa terasa, waktu jua lah yang membatasi.  Sabtu (3/2), tiba saatnya peserta workshop kembali ke tanah air.  “Sampai jumpa lagi di Makassar. Tetap jaga pembelajaran mandirinya,” ucap Naomi ketika melepas kami di Bandara Townsville.

 

Ahmad Bahar

Dosen Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas

Pimpinan Redaksi PK identitas Unhas 2018

 

BACA JUGA