Follow

Mengenang Kinerja Wartawan Cetak Terdahulu

Editor: Ayu Lestari | Senin, 26 Februari 2018 - 17:54 Wita | 145 Views

“Dulu demi akurasi, untuk menulis nama orang, kami bertanya pada orang yang bersangkutan bagaimana ejaannya? Ada artis ditulis di media namanya Yenni. Di media lain Jenny, Jeanny. Pokoknya berbeda-beda tapi yang dimaksud makhluk yang sama. Saat ketemu dia (red si artis) saya sodorkan notes, saya suruh dia menuliskan namanya. Ternyata dia tuliskan Lani,”

Kutipan percakapan yang diselipkan penulis Bre Redana dalam salah satu halaman bukunya “Koran Kami With Lucy In The Sky” merupakan kritikan untuk media online yang kini  berkembang pesat, namun sering lalai dalam melakukan verifikasi.

Buku ini mengisahkan semangat wartawan-wartawan senior dengan kecemasannya akan koran yang mulai ditinggalkan masyarakat. Penulis bertanya, bila media cetak kelak menghilang, apakah masih ada yang menanyakan keberadaannya?

Media cetak memang sudah tua, hingga tergerus media online yang kian berkembang.  Dari situ lah penulis menunjukkan kegelisahannya. Sesekali ia mengenang kerja jurnalistik di masanya,  ketika turun ke lapangan hanya berbekal pulpen dan buku kecil, tak ada alat perekam. Masa-masa itu jelas menjadi pengalaman berharga bagi para wartawan senior.

Dalam buku diceritakan sosok Santosa Santiana (pemeran utama) yang akrab disapa SS dan juga merupakan nama penanya di koran. Saat karirnya lebih dari 35 tahun, ia memutuskan untuk pensiun dengan mengadakan perpisahan bersama kerabat-kerabat terdekat di kantornya. Perpisahan dengan temannya bukan berarti menutup ruang pertemuan mereka, khususnya Nindityo, sahabat SS yang memiliki bisnis wellness center.

Singkat cerita, Nindityo memikirkan bagaimana membuat dan merintis kembali koran pada masa dimana media cetak hampir tertinggal. Ia berpikir spirit media hilang, dan hanya wartawan-wartawan pensiunan yang memiliki spirit itu.

Ia pun akhirnya menemui sahabatnya, Suropati di Magelang. Mereka mulai menyusun rencana untuk membujuk SS agar dapat bekerja sama dengannya dalam membuat koran, Nindityo menyebutkan satu nama yang dapat membantu membujuk SS yaitu Lucy, anak dari Thereza, seorang gadis lulusan dari perguruan tinggi di Milan, Italia dan sempat menjadi staf public relations perusahaan Italia di Singapura karena kepandaiannya dalam berbahasa Itali.

Lucy hadir di tengah pensiunan wartawan dengan membawa semangat baru. Lucy berhasil memukau SS dengan kecerdasannya. Lucy berbeda dengan anak seusianya yang hanya fokus pada gadget saja. Dengan kemampuan yang dimilikinya, Ia akhirnya bergabung dalam pembuatan koran.

SS menyetujui untuk membuat koran dan mengembalikan kejayaan media cetak, Nindityo mengumpulkan kembali teman-teman lamanya dengan menggandeng beberapa anak muda untuk ikut membantu proses pembuatan koran.

Novel setebal 200 halaman ini lebih menerangkan masa lalu tokoh utama sebagai penulis hingga menjadi seorang wartawan, dan sedikit membahas bagaimana kelanjutan pembuatan koran.

Sayangnya, novel ini tidak menjelaskan proses kinerjanya dalam mengembalikan eksistensi koran cetak, sehingga akan membuat pembaca penasaran dengan cerita perkembangan apa yang akan terjadi selanjutnya dengan koran. Penulis lebih menampilkan curahan hati SS bersama Lucy, Perempuan muda yang dijulukinya Lucy in The Sky. Lucy in The Sky juga merupakan salah satu judul lagu band legendaris The Beatles.

Terlepas dari kekurangan tersebut, buku ini menarik untuk dibaca, utamanya yang bergelut di media. Banyak pesan-pesan moral yang dapat dipetik untuk dijadikan sebuah pembelajaran. Penulisannya juga dikemas semenarik mungkin, menggunakan bahasa lugas sehingga mudah dimengerti.

Beberapa halaman buku terdapat quote yang menarik dan menginspirasi pembaca. Novel ini sangat cocok bagi anda yang tertarik untuk mengetahui lebih jauh kerja-kerja jurnalistik, baik zaman dulu maupun zaman now.Selamat membaca!

 

Resky Ida Suriadi,

Mahasiswa Jurusan Agroteknologi

Fakultas Pertanian Unhas

Angkatan 2017

 

BACA JUGA