Follow

Negara Agraris yang Tak Laris

Editor: Ayu Lestari | Rabu, 21 Februari 2018 - 16:44 Wita | 101 Views

“Terus, yang ingin jadi petani siapa,? pertanyaan ini seharusnya dijawab oleh mahasiswa. Saya sampaikan itu berdasarkan data yang saya peroleh,”

Begitu kata Presiden  Joko widodo saat menghadiri sidang terbuka dies natalis Institut Pertanian Bogor (IPB) ke-54 di Kampus IPB, Rabu (6/9/2017). Ia seakan menyindir lulusan IPB yang kebanyakan bekerja di dunia perbankan.

Sebagai negara agraris, Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang melimpah. Posisi Indonesia juga dinilai amat strategis. Mulai dari letak geografis yang berada pada daerah tropis, dengan curah hujan yang tinggi, sehingga banyak jenis tumbuhan yang dapat hidup dan tumbuh dengan cepat. Jika dilihat dari sisi geologi, Indonesia terletak pada titik pergerakan lempeng tektonik, sehingga banyak terbentuk pegunungan yang kaya akan mineral. Perairan Indonesia juga kaya akan sumber makanan bagi berbagai jenis alga, ikan, dan hewan laut lainnya.

Indonesia juga dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar penduduknya berpencaharian sebagai petani. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2016, Indonesia memiliki 31,74 persen atau sebanyak 38,29 juta angkatan kerja yang aktif di sektor pertanian. Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa hampir dua juta pekerja sektor pertanian beralih ke sektor lainnya dalam jangka waktu setahun.

Pertanian di Indonesia menghasilkan berbagai macam tumbuhan komoditas ekspor, di antaranya padi, jagung, kedelai, dan sayur-mayur. Tak hanya itu, Indonesia juga terkenal dengan hasil perkebunannya, seperti karet, kelapa sawit, tembakau, kapas, kopi, dan tebu.

Berdasarkan catatan sejarah, Indonesia pernah mengalami masa swasembada pangan, khususnya komoditas beras pada tahun 80-an. Namun di sisi lain, Indonesia kerap mengimpor bahan pangan dari negara luar. Persoalannya cukup dinamis, mulai dari persediaan yang terbatas, harga berbagai komoditas pangan yang sering bergejolak, hingga praktik nakal dalam rantai distribusi pangan.

Negara agraris namun tak laris. Label Agraris tapi masih kurang diminati masyarakatnya sendiri. Berdasarkan data, angkatan kerja di negara kita ini mengalami penurunan setiap tahunnya. Mayoritas sarjana pertanian pun mangkir dari disiplin ilmunya sendiri. Ironisnya, sarjana pertanian yang diharapkan sebagai motor penggerak pangan nasional enggan berkontribusi bagi perekonomian bangsanya. Apakah kita tidak malu jika negara berlabelkan agraris ini mengimpor pangan dari luar setiap tahun? Meskipun ada maksud lain di balik kebijakan impor yang ambil pemerintah, tapi apakah itu dapat dijadikan solusi bagi negeri ini yang katanya negara agraris?

Harapan kita adalah agent of change (agen perubahan) oleh pemuda. Generasi muda memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan pertanian di Indonesia yang strategis, sebab Sektor Pertanian  mampu menyediakan kebutuhan pangan masyarakat, juga bahan baku bagi sektor industri, dan meningkatkan devisa negara melalui ekspor yang  menyediakan lapangan kerja, serta menjaga keseimbangan ekosistem di Indonesia. Sayangnya, minat generasi muda terhadap pertanian semakin berkurang. Selama ini, pekerjaan petani dipandang sebagai pekerjaan tradisional yang kurang bergengsi. Pertanian selalu digambarkan sebagai bidang pekerjaan orang tua dengan pakaian lusuh, dan harus panas-panasan.

Paradigma itulah yang merasuki benak generasi muda, sehingga minatnya di bidang  pertanian semakin menurun. kendati, pertanian tetap tak bisa dipandang rendah, sebab pertanianlah satu-satunya penjamin ketersediaan pangan, sehingga para generasi muda dapat mengambil peran dalam pengembangan pertanian berkelanjutan dengan berbagai cara seperti, mengambil peran dalam proses pembuatan kebijakan di sektor pertanian.

Kebijakan pertanian yang dibuat pemerintah perlu mendapat pengawalan dan masukan yang kritis, sehingga generasi muda dapat menyampaikan gagasan yang mendukung kemajuan pertanian di Indonesia. Pengawasan juga dapat dilakukan oleh para generasi muda, karena tidak sedikit program pemberdayaan petani atau bantuan petani yang dinikmati langsung oleh petani secara merata.Selain itu, generasi muda juga dapat berkontribusi langsung melalui program pencerdasan, pendampingan, dan pemberdayaan petani. Hal tersebut dapat dilakukan dengan membangun kelembagaan petani, sehingga posisi tawar petani dapat menjadi lebih kuat.

Tantangan saat ini adalah, bagaimana mengubah paradigma generasi muda sehingga berminat di bidang pertanian. Terlebih lagi masih banyak sarjana muda kita yang seolah tak lagi dihubungkan dengan pertanian, dan lebih tertarik pada pekerjaan lain. Paradigma berpikir haruslah diubah, bahwa pertanian bukan hanya sekedar pekerjaan yang identik dengan kemiskinan, pakaian lusuh, cangkul, dan terik matahari. Pertanian merupakan sektor strategis untuk memajukan sektor-sektor lainnya.Untuk itu, tentu perlu ada kerjasama yang kuat antara pemerintah dan masyarakat itu sendiri, khususnya kalangan pemuda yang telah mengenyam pendidikan di bidang pertanian. Regulasi yang tepat akan menghasilkan output yang berkelanjutan dan kredibel.

Nirwan

Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian

Angkatan 2015

 

 

 

 

 

BACA JUGA