Follow

Rihlah ke Bumi Arung Palakka

Editor: Ayu Lestari | Jumat, 20 April 2018 - 04:30 Wita | 233 Views

Setiap insan punya kisah dan cerita menarik dalam hidupnya, baik kisah inspiratif, motivatif, juga cerita perjalanan. Pada kali ini, saya akan membagikan cerita perjalanan saya menuju Kabupaten Bone atau lebih dikenal dengan istilah Bumi Arung Palakka.

Pada 5 Januari lalu. Saya bersama 14 orang teman, sebut saja Pemuda 14ngit  melakukan tour ke beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan, seperti di Kabupaten Barru, Sengkang dan Bone.

Kami berangkat pada sore hari, setelah berkumpul di pelataran Masjid Kampus Unhas. Dua buah mobil telah siap mengantar kami mengunjungi Bumi Arung Palakka. Selama di perjalanan, saya menghabiskan waktu dengan memperhatikan aktivitas manusia. Ada yang sibuk berjualan di sisi jalan, ada juga yang berkendara dengan kendaraan elitnya. Tak lama kemudian, kami singgah sejenak untuk mengerjakan shalat maghrib.

Setelah shalat maghrib, kami kembali melanjutkan perjalanan hingga ke Kabupaten Barru, lalu memilih singgah di tempat makan untuk mengisi perut yang sudah keroncongan sedari tadi. Namun, Rasa mual yang mendera membuatku memilih untuk tidak makan.

Setelah teman-teman mengisi perutnya, selanjutnya kami menuju Kabupaten Sengkang. Perjalanan menuju Kota Sengkang menghabiskan waktu sekitar dua jam. Kami akhirnya tiba di rumah Ichsan, teman kami. Beberapa teman memilih istirahat, dan sebagian memilih makan.

Keesokan harinya, setelah mandi dan sarapan, saya pergi menikmati suasana di Lapangan Merdeka Sengkang. Letaknya 2 km dari rumah Ichsan. Di sekitar lapangan terdapat Masjid Agung yang berdiri di samping kiri jalan raya, membuat saya cukup untuk menyaksikan suasana Sengkang di pagi hari. Tak lama kemudian, kami akhirnya berpamitan untuk menuju Bumi Arung Palakka, Kabupaten Bone.

Di Kabupaten Bone, kecamatan pertama yang kami masuki adalah Kecamatan Ajangale. Kebetulan pada kunjungan kami kali ini sedang musim jagung, sehingga sejauh mata memandang hanya dijumpai perkebunan jagung yang mulai menguning. Di sana, kami singgah bebeberapa jam di rumah teman kami, Gaffur. Kami dijamu Barobbo, makanan khas Bone, dan berbagai makanan lain yang cukup membuat kami kenyang.

Destinasi selanjutnya, kami memilih silaturahim ke rumah senior yang berada di Kecamatan Dua Boccoe. Jaraknya tak jauh dari Kecamatan Ajangale. Pada Kecamatan Dua Boccoe, jarak rumah antar penduduknya agak jauh. Bentangan perkebunan jagung menggambarkan bahwa mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani.

Dua jam melalui jalan berbatu dan berlumpur, kami akhirnya sampai di rumah Kak Arfan, mantan Ketua Umum UKM LDK MPM Unhas periode lalu. Setiba di sana, kami disambut hangat oleh keluarganya dan lagi dijamu dengan makanan khas Bone. Kali ini menunya lebih komplit. Tak lama bertandang di rumah senior, kami akhirnya melanjutkan perjalanan.

Target selanjutnya adalah rumah Bagas  yang berada di Kecamatan Ulaweng. Ulaweng sendiri adalah bahasa bugis yang juga diartikan sebagai emas. Daerah ini termasuk daerah yang sejuk. Berada tepat di dekat pegunungan, dengan hamparan sawah serta pohon yang menjulang tinggi membuat kami memilih singgah beberapa jam. Kami shalat maghrib disana sembari istirahat dengan berbincang hangat untuk memulihkan tenaga menuju daerah selanjutnya.

Menjelang malam, kami melanjutkan perjalanan ke Kecamatan Tonra, tanah kelahiran saya.Warga Tonra mayoritas bermatapencaharian sebagai petani. Tampak hamparan padi di kanan dan kiri jalan. Tak jarang Tonra menjadi lumbung devisa para petani, tetap panen dua kali, meskipun pada musim paceklik. Tonra juga memiliki area tambak yang cukup luas, sehingga kita bisa melihat warung makan bertengger di tepi jalan. Biasanya menyediakan ikan bandeng.

Salah satu destinasi yang paling banyak diminati warga lokal maupun pendatang adalah Pantai Pasir Putih. Penduduk lokal menamai pantai tersebut  dengan nama Pantai Tete. Memang terdengar vulgar tapi memang begitulah sebutan dari warga setempat. Pantai ini juga sering dijadikan sebagai pusat pelatihan rawa laut bagi tentara, sehingga banyak terdapat camp dan areal pelatihan.

Saya dan teman-teman memutuskan untuk bermalam di rumah Ashar, teman SMA saya sampai sekarang (kuliah). Kami tiba sekitar pukul 00.00. Setibanya,teman-teman langsung tidur.

Ahad pagi, sebelum berangkat ke Pantai Tete, kami makan barobbo ditemani teh hangat, sembari ngobrol ringan tentang perjalanan kami yang sudah masuk hari ke-3. Tidak perlu waktu lama, kami packing dan bergegas ke dalam mobil menuju Pantai Tete. Setibanya di sana,  kami memutuskan bermain bola.

Saya juga mengajak teman-teman melintasi laut yang nampak surut. Kami akhirnya tiba di pulau tak berpenghuni. Beberapa teman memilih keliling pulau, ada juga yang rihat di atas pohon, serta merekam hal-hal yang dianggap mistik di pulau itu. Ada banyak permainan yang kami peragakan di sana. Sebelum kembali, kami makan bersama di bawah pohon.  Setelah puas dengan kegiatan di sana, kami pun memutuskan untuk kembali ke Makassar dan  pamit pada keluarga Ashar.

Rihlah atau rekreasi bukan hanya sekadar melepas penat dan menambah pengalaman. Jalinan ukhuwah di antara kita menjadi faktor utama. Berkumpul dengan sahabat dan saling berbagi adalah hal yang tentunya akan dirindukan. Dengannya, rasa persaudaraan di antara kita akan semakin erat. Mari memaknai persahabatan ini lewat kutipan wasiat Imam Syafi’i “Jika kamu memiliki sahabat yang membantumu dalam ketaatan, maka genggam erat tangannya. Karena mencari sahabat itu sulit, sedangkan meninggalkannya sangat mudah”. Tetaplah jaga persahabatanmu!

 

Andi Muhammad Subhan

Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan Unhas

Angkatan 2016

BACA JUGA