Follow

Sabun Virgin, Pembersih Badan dari Minyak Kelapa Buatan Dosen Biologi Unhas

Editor: admin | Selasa, 19 Desember 2017 - 17:13 Wita | 576 Views
Foto: Sri Hadriana/identitas

Siapa yang tak mendambakan punya kulit wajah yang lembab, segar, dan terbebas dari kuman? Bukan hanya perempuan, pria juga menginginkan hal itu. Demi memuaskan keinginan, terkadang seseorang rela membeli produk kecantikan mulai harga murah hingga harga yang selangit.

Bagi mahasiswa yang ingin tampil bersih dan menawan, tapi tidak mengeluarkan uang yang banyak, dan paling penting, bahannya alami dan tidak mengandung bahan kimia, kini sudah banyak alternatif produk. Salah satunya dan patut dicoba yakni Sabun Virgin Coconut Oil (VCO).

Sabun VCO diciptakan oleh dua dosen Biologi Fakultas MIPA Unhas, Dr Zaraswati Dwyana M Si dan Dr Nurhaedar Nawir M Si. Keduanya juga dibantu oleh asisten laboratorium Fuad Gani.

 

Ide membuat sabun dari minyak kelapa berawal dari mata kuliah mikrobiologi industri. Dalam pelajaran ini, mahasiswa biasanya diberikan materi tentang cara membuat suatu produk dengan menerapkan prinsip bidang ilmu mikrobiologi. Ana dan Haedar, sapaan akrab mereka, ialah dosen pada mata kuliah itu.

 

“Mata kuliah itu banyak mengajarkan tentang produk yang bisa bernilai jual. Salah satunya pemanfaatan VCO,” kata Ana yang juga koordinator pada mata kuliah tersebut, ketika berbincang dengan Identitas.

Pada kegiatan praktikum, manfaat VCO dianalisis. Hasilnya, VCO mengandung asam laurat yang berfungsi anti mikroba, yakni mampu mengatasi masalah kulit. Seperti infeksi akibat bakteri, virus, jamur, kuman, dan penyebab lain infeksi. Fungsi lain, dapat menurunkan kolesterol, cara pemakaiannya bisa langsung meminum larutan tersebut.

Bersama Fuad, dua dosen itu pun tertarik pada fungsi VCO sebagai anti mikroba. Lalu, mereka punya ide untuk membuat beberapa produk dari minyak kelapa murni. Salah satunya sabun.

Dalam membuat produk ini, mereka terlebih dahulu mencari komposisi yang baik untuk menjadi minyak kelapa murni. Caranya, mengambil daging kelapa segar. Lalu,  mengekstrak menjadi santan. Saat, lapisan minyak sudah terpisah dengan protein, dilakukan fermentasi menggunakan fermipan. Adapun, untuk menjaga kandungan asam laurat, pada pembuatan VCO tidak dilakukan pemanasan. Proses ini membutuhkan waktu selama dua hari

“Kandungan VCO yang sangat berguna itu asam laurat, terutama sebagai anti mikroba. Nah kenapa kami berpikiran untuk membuat sabun dari minyak kelapa itu? Karena permukaan kulit itu, terutama muka banyak menempel kuman-kuman. Adanya VCO ini, diharapkan bisa mematikan dan mencegah pertumbuhan kuman-kuman di muka,” terang Ana.

Setelah memeroleh komposisi VCO yang diharapkan, Ana bersama rekannya itu mengolah menjadi sabun. Ana menuturkan, produk ini dibuat dengan prosedur kerja pembuatan sabun pada umumnya. Bedanya, produknya tidak menggunakan bahan kimia berbahaya. Adapun, ramuannya selain minyak kelapa murni yakni Natrium Hidroksida, Natrium Chloride, Gliseran, Asam Stearat, Asam Sitrat, Sukrosa, dan Etanol. Namun, Ana tidak menjelaskan secara gamblang komposisi yang tepat sehingga menghasilkan produk yang diharapkan.

Selama Satu tahun lebih meneliti produk ini, mereka menawarkan sabun VCO ke lingkup Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam pada 2015. Harga yang ia tawarkan cukup terjangkau, Rp 10 ribu. Hasilnya, produk itu mendapat pujian dari kosumen.

“Kita menawarkan ke mahasiswa. Karena mereka kan tahu dan lihat prosesnya, jadi tidak ada keraguan untuk pakai. Hasilnya, mereka suka. Setelah itu, banyak permintaan dari dosen dan mahasiswa. Jadi, dibuatlah dalam porsi besar,” ucap Ana.

Produk ini kian berkembang. Ana pun semakin giat mempromosikan sabun VCO. Awalnya, pemasaran dari ‘mulut ke mulut’. Lalu, ia menampilkan produk ini ketika ada pameran. Baik tingkat universitas, provinsi maupun nasional. Seperti, pameran Hari Teknologi Nasional beberapa bulan lalu.

Ana melanjutkan, tak cukup hanya dengan banyak orderan dan mendapatkan keuntungan secara finansial, jika produk tersebut tidak memiliki hak cipta. Ia pun mulai mengurus Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) di unit lembaga Unhas. “Sabun VCO sekarang on proses untuk mendapatkan HAKI. Sedangkan, VCO sudah mendapatken paten bernama Kaluku,” lanjut Ana.

Lebih lanjut, Ana mengutarakan harapannya atas produk ini. Ia berharap dapat mempertahankan produk Sabun VCO dan produksinya lebih ditingkatkan.

“Sekarang masih dalam proses kita pelajari untuk mednapatkan kualitas terbaik. Sekarang sudah diproduksi. Selanjutnya, mengurus HAKI dan ingin mendapatkan surat izin Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM),” pungkasnya.

Reporter: Sri Hadriana

BACA JUGA