Follow

SM Noor, Professor Hukum Internasional yang Gandrung Buku Sastra

Editor: Sri Hadriana | Kamis, 07 Desember 2017 - 09:20 Wita | 199 Views
(Foto: Andi Ningsi/identitas)

Mungkin tak banyak professor di Universitas Hasanuddin (Unhas) yang seperti Prof Dr Syamsuddin Noor. Bang Noor, begitu kerap ia disapa, adalah guru besar di Fakultas Hukum, namun juga adalah penulis cerpen dan novel sastra. Beberapa buku kumpulan cerpen dan novelnya sudah diterbitkan. Salah satunya berjudul ‘Perang Makassar’, yang diterbitkan Penerbit Kompas Gramedia.

Bagaimana awal mula kecintaannya terhadap dunia menulis? Bagaimana ia menjalankan keduanya, sebagai pakar ilmu hukum internasional dan juga penulis novel? Berikut kutipan wawancara Reporter Identitas, Andi Ningsi saat ditemui di kediamannya
(1/12/2017).

Bapak dikenal sebagai professor ilmu hukum internasional, tapi juga menerbitkan sejumlah novel. Bisa diceritakan awal mula prof menyukai sastra?

Saya tertarik sastra sejak SD karena saya dulu memang sering ikut lomba massanja (istilah dalam lomba pementasan kesenian di Makassar). Saat SMP, saya sering buat puisi-puisi cinta. Saat masuk di bangku SMA, saya sudah mulai menulis cerpen dan puisi. Memang dari dulu saya gandrung membaca buku-buku sastra, saat SD saya sering meminjam buku di perpustakaan.

Saya membaca cerita tentang tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, novel Siti Nurbaya,
Deru Campur Debu. Saat SMA saya sangat tertarik dengan cerita-cerita silat berseri dari Cina yang ditulis Kho Ping Ho. Itu juga yang menyebabkan saya banyak terpengaruh terhadap filsafat Cina dan akhirnya mengantarkan saya menjadi pakar politik Cina di Unhas.

Kenapa tidak memilih masuk di fakultas sastra misalnya ?

Itu karena kecelakaan, saya terlambat mendaftar waktu itu. Sebetulnya saya mau
mendaftar di ilmu budaya, tapi pendaftarannya sudah tertutup. Sisa fakultas hukum yang terbuka. Akhirnya saya memutuskan mendaftar di sana.

Kenapa tidak coba mendaftar di tahun berikutnya prof?

Memang saya sempat khawatir sekali saat itu, karena saya memang suka sastra. Tapi setelah saya kuliah di fakultas hukum, saya baru sadar ternyata banyak seniman di sana. Ada Amir Sarifuddin, Saenal Abidin Farid yang banyak menulis sejarah Wajo, sempat bergaul juga saya dengan pelukis namanya Mustafa Jalle.

Dari situ saya sadar, ternyata bisa sambil belajar hukum, belajar sastra juga. Sementara menjalani perkuliahan, saya banyak bergaul dengan anak sastra termasuk Alwi Rahman, ikut berdiskusi di Dewan Kesenian Makassar (DKM), bergaul dengan Husni Jamaluddin, Rahman Arge. Saya saat itu akrab dengan senior DKM, akhirnya setiap ada pementasan saya selalu ikut.

Ternyata di DKM tak hanya ada anak sastra tapi ada sarjana IKIP, ekonomi dan sebagainya. Sepeti teman saya di Teater Merah Putih namanya Yudhistira Sukatanya (sastrawan). Itu pergaulan saya semasa mahasiswa. Ada proses interaksi kuat dengan dunia sastra dan seni di tengah menjalankan studi.

Bagaimana caranya menjalani dua hal ini, menjadi ahli hukum internasional tapi juga
menulis fiksi yang berbeda dengan ilmu yang digeluti?

Sebetulnya tidak ada yang aneh. Inikan saya punya bakat di bidang penulisan sastra, terutama novel karena memang talenta saya sudah terbina sejak SMP dan SMA. Tetapi di bidang studi itu kita punya kewajiban. Ada pandangan dari tokoh sastra seperti Dr Daud Jusuf seorang mantan menteri pendidikan dan kebudayaan tapi juga doktor di ilmu ekonomi, dia juga seniman besar.

Dia mengatakan, biasanya bakat-bakat yang dimiliki para seniman itu jika tercurah ke bidang ilmu, biasanya mereka akan punya nalar yang lebih tinggi. Itulah yang terjadi pada diri kami. Seperti dia yang banyak menggeluti bidang, tapi tidak lupa dengan kewajibannya, mereka memiliki visi yang ekstra dan punya ambisi besar. Itu
membentuk kami punya inovasi untuk bergerak menuju ke jalan itu. Tidak terkecuali saya.

Saya punya ambisi tinggi, saya dulu mendaftar beasiswa di Fulbright dan Ford
Foundation. Saya pernah ke Jakarta satu tahun, saya lulus di Ford Foundation sudah ada professor yang mau menangani saya di salah satu universitas di Amerika Serikat. Sayang saat itu American Culture, pengelola semua beasiswa ke sana, mengatakan saya
tidak jadi berangkat, karena usia saya melebihi 30 tahun, sedangkan batasnya hanya 30. Usia saya saat itu sudah masuk 31 dan sudah saya urus, tapi tetap tidak bisa. Itu membuat saya frustasi, hanya karena terperangkap pada usia.

Jadi bagaimana kemudian Anda bisa bangkit dari keterpurukan?

Saya terpuruk lama sekali, 10 tahun. Waktu itu saya sudah tidak peduli. Andai
saja, saya terus tidak peduli, mungkin saya sudah pensiun. Tapi suatu ketika, saya diberikan spirit oleh Rektor Unhas saat itu, Rady A Gany. Dia mengatakan, saya memiliki kecerdasan luar biasa dan saya diyakinkan agar tidak menyerah.

Akhirnya, saya memutuskan mengambil formulir masuk. Saya saat itu juga mengajak Alwy Rahman, tapi dia cuek. Jadi saya jalan sendiri. Saat selesai S2, saya disuruh lanjut S3 lagi, masih Prof Rady A Gany. Dia bilang saya harus lanjut, sampai-sampai dia telepon Asdir II Aminuddin Salle untuk ambilkan saya formulir dan mengisikan saya. Akhirnya saya selesai doktor.

Saya dulu sambil kuliah, juga banyak menulis di koran Pedoman Rakyat. Ada memang disediakan khusus untuk saya analisis mengenai masalah-masalah internasional. Jadi saya orang pertama yang memulai penulisan kolom di Makassar. Saya kumpul bundelnya dan masih ada sampai sekarang.

Jujur sangat menguntungkan saya, karena untuk ke guru besar harus ada tulisan
sebagai penunjang, akirnya saya kumpulkan dan kirim termasuk buku-buku. Saya hanya enam bulan sudah jadi professor.

Bisa dibilang percepatan gelar guru besar didukung oleh tulisan-tulisan yang prof buat, bisa diceritakan?

Iya, itu karena tulisan-tulisan saya. kebetulan pada waktu itu, ada tulisan saya berbahasa Inggris dan memang ada persyaratan memiliki tulisan berbahasa Inggris yang sudah dimuat. Nah saya sempat menulis sebagian skripsi saya tentang Laut Cina Selatan kemudian saya jadikan tulisan. Saya kemudian mengirim ke Singapura.

Ada waktu itu namanya Jurnal Of South is Asia studies, akhirnya tulisan saya
dimuat. Itulah yang saya kirim ke Dikti untuk kredit poin tambahan bersama beberapa tulisan di Pedoman Rakyat, juga hasil dari beberapa penelitian, termasuk buku-buku fiksi yang saya tulis. Jadi intinya seniman memang harus punya ambisi untuk mencapai sesuatu yang kita impikan.

Kebanyakan novel dan cerpen yang prof buat banyak tentang kisah percintaan dengan latar belakang yang berbeda-beda, seperti Putri Bawakaraeng dan Perang Makassar. Kenapa?

Itukan di dalam dunia sastra, ada dikenal satu aliran namanya romantisme, dan itu sangat dipengaruhi oleh subjektivitas penulis. Kita menulis seolah-olah bercinta, kalau tidak ada itu susah. Dan itu juga keinginan publik terutama kalangan muda seperti mahasiswa.

Katanya novel Perang Makassar, judul awalnya Sombaopu, Imperium Terakhir. Bisa diceritakan?

Ceritanya kenapa Perang Makassar, awalnya saya ingin menulis disertasi tapi judulnya saya kasi ‘Aspek Hukum Internasional Perang Makassar’. Karena saya lihat itu perjanjian Bongayya, perjanjian internasional pertama di Asia Tenggara.

Saya kumpul datanya atas petunjuk teman Edward Polinggomang dia juga kasi saya
beberapa data. Kemudian saya ajukan ke fakultas hukum, tapi ditolak karena dianggap sebagai sebuah sejarah bukan penelitian hukum. Padahal maksud saya sejarah hukum internasional.

Penguji semua menolak mungkin mereka tidak paham dan saya sempat kecewa sekali. Sesudah saya doktor, ada teman namanya Ali Samad (alumni antropologi pemilik penerbit Pustaka Pena) didukung Ishak Ngeljaratan. Saat itu saya diminta membuatnya dalam benuk novel. Ishak saat itu bilang kalau kita buat seperti sejarah, maka akan kering dan tidak ada yang tertarik membacanya. Kalau ditulis dalam bentuk novel, saya kira akan laku. Kita akan membaca penuh perasaan, kita menangis, apalagi ada kisah percintaan di dalamnya. Jadi saya buat waktu itu judulnya Sombaopu, Imperium Terakhir, lalu saya kasi Ali Samad.

Tiba-tiba naskah itu diambil Nasrullah Nara, waktu itu dia Kepala Biro Kompas di Makassar, belum di Jakarta. Dia baca naskahnya, katanya menarik dan kompas sangat mencari cerita seperti ini.

Saya disuruh perbaiki naskah-naskahnya. Kompas minta judulnya diubah. Kata
Nasrullah judul Perang Makassar nilai jualnya lebih tinggi dibanding Sombaopu,
hanya beberapa orang yang tahu. Tapi Perang Makassar, hampir seluruh Indonesia tahu. Akhirnya diterbitkan buku saya oleh Kompas.

Pernah kepikiran untuk membuat novel dengan setting persoalan-persoalan internasional, misalnya konflik di Laut Cina Selatan. Kan matching sama ilmunya
prof?

Belum pernah kepikiran. Saya kalau menulis harus perfect. Saya tipikal orang kalau menulis kadang butuh waktu untuk konsentrasi penuh. Seperti cerita Baruga yang bersambung di Identitas. Itu karena saya kurang waktu, padahal teman banyak yang menyuruh menyelesaikannya. Dan saat ini, ada penelitian yang saya buat dan dibiayai oleh Dikti, tentang Koneksitas Indonesia Dalam Sengketa Laut Cina Selatan. Saya masukkan proposalnya dan itu diterima. Ada juga novel saya sekarang, judulnya Surga Antara Cinta. Ceritanya tentang pasangan yang saling mencintai, tapi beda agama. Intinya tetang toleransi. Sisa mau diedit kecil.

Apa cita-cita prof ketika masih di bangku sekolah?

Waktu SD mau masuk SMP ingin jadi kepala desa, karena ada Om saya kepala desa.
Pakaiannnya bagus sekali, ia sering minum kopi di rumah. SMA ada sepupu saya masuk Akabri, kalau dia datang gagah sekali dengan seragamnya, saya kemudian ingin juga sepertinya. Hingga akhirnya saya pecinta membaca buku sastra bisa terpengaruh dengan bacaan sastra.

Memang keluarga prof suka membaca?

Tidak juga. Saya dapat bacaan di perpustakaan SD. Seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, dulu waktu SMP guru bahasa Indonesia juga wajibkan membaca dan pada akhirnya saya benar-benar jatuh hati dengan sastra.

Berapa buku yang sudah ditulis dan diterbitkan?

Ada buku-buku hasil penelitian, kumpulan esai. Kalau semua buku saya tulis kurang
lebih 8 buku dan memang seorang professor harus menulis.

Esai-esai di harian Pedoman Rakyat lalu ada niat untuk diterbitkan?

Belum, ada juga sebagian kurang valid datanya. Seperti yang saya tulis mengenai masalah-masalah internasional, itu kejadian-kejadian spontan, jadi saya tulis berdasarkan spontanitas juga.

Bisa diceritakan proses kreatif atau hal-hal apa yang banyak menginspirasi prof dalam menghasilkan tulisan?

Kalau tulisan ilmu, itu sebetunya bukan pengaruh luar terinspirasinya, itu memang hasil riset yang saya punya. Saya punya ambisi untuk mengembangkannya. Kalau fiksi itu memang dari imajinasi. Kadang-kadang ada hal di sekitar kita lihat, ada juga terinspirasi pengalaman pribadi. Seperti cerita saya Putri Bawakaraeng. Kan itu sebagian adalah pengalaman saya mendaki Gunung Bawakaraeng dan pada saat saya
mendaki itu sudah ada pengaruh cinta. Tapi cintanya itu tidak teraplikasi dalam novel.

Putri Bawakaraeng bercerita tentang seorang mahasiswa hukum pencinta alam, terus ia gemar mendaki Gunung Bawakaraeng. Lalu ada putri bangsawan seorang antropolog yang jarang sekali mendaki, terus diajari olehnya. Mereka kemudian bisa saling jatuh cinta. Itu, kitakan mencari inspirasi yang lebih unik.

Terus sebetulnya padanan cinta sudah ada di dalam jiwa, cuman saat itu cinta saya
mengelabui publik karena pacar saya adalah anak kedokteran, istri saya sekarang. Banyak yang bertanya pacar saya dulu anak sastra atau antropolog. Padahal seumur hidup saya tidak pernah pacaran dengan orang sastra. Banyak orang tertipu.

Buku yang telah ditulis prof, mana yang paling disukai dan paling berkesan?

Sebetulnya, kalau novel saya paling respek pada Perang Makassar, karena itu paling berkesan bagi saya. Saya tahu betul seluk beluknya tentang Sultan Hasanuddin Karaeng Somba. Dia memang manusia pejuang kemanusiaan, tentang bagaimana taruhan-taruhan hidupnya, dan problematik diantara keluarganya. Itu menarik sekali. Sebetulnya dia itu pahlawan.

Cerita yang diterbitkan oleh Kompas sebenarnya belum selesai tapi sudah diminta, jadi saya berusaha mengedit dan buat sinopsis-sinopsisnya akhirnya. Sekarang saya sedang membuatnya, mudah-mudahan selesai sebelum saya meninggal.

5 Buku karangan orang lain yang disukai? Pengarang favorit siapa?

Banyak, antara lain Pramoedya Ananta Toer. Dia punya karya Bumi Manusia sangat luar biasa sekali, sangat mempengaruhi saya. Ada juga novel Aspar judulnya Cintaku Nun di Pulau, cerpen Sapardi Djoko Damono, kalau di Makassar HD Mangemba serta Mattulada.

Bagaimana Prof melihat penulis-penulis muda sekarang, dan zaman yang berubah. Dahulu kan tulisan di ketik di mesin tik, lalu dikirim ke media. Sekarang serba digital, dikirim via Imel tayangnya di website?

Saya meihat gerakan dari penulis muda itu cukup tinggi. Cuman kadang mereka tidak konsisten dalam menulis. Itu bisa jadi karena mereka sudah ada di zaman milenial, jadi tidak fokus dan cepat sekali berubah dalam menulis ide cerita. Sekarang ini susah sekali kita mendapatkan penulis yang konsisten. Kalau kita dulu ada wadah komunitas yang memang mewadahi. Tapi sekarang saya harus akui, kecerdasan mereka cukup tinggi apalagi jaringan internasionalnya.

Dulu tulisan-tulisan saya sampai sekarang bahkan masih manual. Biasa selesai saya ketik, baru saya kasi tukang ketik, anak saya. Kalau saya buat cerpen. Saya gaptek. Sudah susah karena usia saya sekarang ini, sudah susah menyesuaikan.

Apa saran Prof bagi generasi muda yang menyukai menulis sastra?

Satu-satunya cara harus konsisten menyelesaikan satu karya yang dibuat. Jangan karya-karya instan, seperti di online yang dibatasi halaman. Saya respek sama anak muda yang menulis novel. Jangan berhenti, orang-orang seperti saya masa yang mengisi tulisan di koran terus. Di mana anak muda?

Anda dikenal sebagai professor yang tidak biasa. Santai dan egaliter terhadap mahasiswa. Bagaimana memang menurut prof, hubungan dosen dan mahasiswanya?

Dosen-dosen yang kaku itu kadang menyembunyikan kebodohannya. Saya saat mengajar saya bilang ada tanggapan, saran atau caci makian. Supaya fleksibilitas, jangan banyak tekanan. Jangan susah sekali senyum, ketersinggungannya tinggi. Inikan sudah
SCL (Student Centre Learning), demokratis sekarang pendidikan.

Kemarin saya sempat melihat prof memutarkan film ke mahasiswa di saat kuliah. Hal yang tak biasa dilakukan oleh dosen lain. Bagaimana idealnya metode pengajaran untuk mahasiswa di era sekarang?

Dalam SCL ada namanya memberi motivasi kepada mahasiswa, memberi gambaran faktual tentang peristiwa dan pengalaman apa yang kita ingin ajarkan. Untuk metode pengajaran, sebetulnya apa yang dilakukan oleh dosen itu sudah ideal, sudah ada slide, cuman kadang ada dosen slidenya kayak koran, seharusnya kasi contoh dan kasi nonton film apa saja, begitu metode yang saya gunakan. Tidak membaca yang ditulis di slide. Seharusnya harus kerangka saja.

Bagaimana pendapat prof melihat fenomena dosen dan guru besar yang malas masuk mengajar?

Ya, karena banyak proyeknya. Dia suruh asisten masuk, dia mau kaya cepat tidak
puas. Saya juga kadang tidak masuk tapi karena ada acara keluarga. Yang paling
susah kalau skripsi dan ada mahasiswa mau dibimbing. Saya pengalaman jadi ketua jurusan, banyak mahasiswa mengeluh. Apalagi dosen punya jabatan di luar, biasa saya suruh untuk mereka ganti pembimbing.

Bagaimana pendapat prof tentang banyaknya dosen yang jadi tim sukses calon kepala daerah?

Tidak boleh kalau PNS. Dalam UU dilarang tapi kalau konsultan hukum boleh-boleh
saja atau konsultan apapun itu diperbolehkan. Asalkan tidak muncul sebagai tim sukses. Menurut UU PNS itu tidak boleh, sekarang di KPU sudah dalam verifikasi KTP untuk memastikan pekerjaannya apa. Jika didapati PNS itu disingkirkan.

PNS akan diberi peringatan, karena dia dianggap ikut berpolitik. Kita memang punya hak pilih, tapi ada koridornya. Jadi ada beberapa di fakultas hukum professor yang memang jadi konsultan.

Reporter: Andi Ningsi

 

BACA JUGA