Follow

Ami, Sosok di Balik Berdirinya Ika Unhas Belanda

Editor: Fitri Ramadhani | Kamis, 13 Desember 2018 - 09:00 Wita | 351 Views

 Ika Unhas Belanda merupakan Ika Unhas pertama yang berada di luar negeri.

Terbentuknya Ika Unhas Belanda tak lepas dari inisiasi dr Amalia Mulia Utami. Putri sulung dari pasangan Prof DR dr Andi Asadul Islam SpBS(K) dan Dra Mulianty Maninggara diamanahkan sebagai ketua dari Ika ini. Berawal dari ngumpul-ngumpul, Ami, begitu kerap disapa, berinisiatif membentuk wadah bagi para alumni Unhas yang tengah menempuh pendidikan di Belanda.

Mulanya tahun 2016, ada sekitar belasan mahasiswa yang sudah bergabung dalam wadah ini. Setahun berikutnya (2017) belasan mahasiswa ini mengajukan permohonan kepada Jusuf Kalla sebagai Ketua Ika Unhas untuk mendapatkan SK dari pusat. Permohonan ini pun direspon baik olehnya. Akhirnya, di tahun yang sama, 4 April, Prof Nurdin Abdullah, Gubernur Sulawesi Selatan sekarang lah yang melantik mereka.

“Sekitar Mei itu saya ke Indonesia pas ada rapat kerja Ika Unhas. Lalu, sempat presentasi program-program kami apa, kayak gitu sih. Sampai sekarang anggotanya sudah sampai 50-an. Beberapa sudah ada yang pulang tapi tetap masuk di bagian kami,” tambah mahasiswa Universitiet Van Amsterdam.

Setelah setahun lebih dilantik, Ika Unhas Belanda merasa masih sulit untuk mengadakan acara sendiri. Oleh karena itu, mereka bekerjasama dengan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Belanda atau Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni) Belanda untuk menyelenggarakan suatu acara.

“Kayak misal ada acara, jadi oke IKA Unhas bisa bantu apa nih? Kebanyakan seperti itu. Karena untuk bikin acara sendiri itu kita masih sulit ya, sebab orangnya nggak sebanyak Kagama yang banyak banget atau Iluni yang kuat karena memang mereka tempatnya tidak tersebar,” jelas Mahasiswa S3 Academisch Medisch Centrum.

Selain itu, salah satu kegiatan yang kerap ia dan anggota lainnya lakukan ialah menjemput tamu dari Makassar dan Unhas yang datang atau sekolah di Belanda. “It is fun sih, karena kita bisa ketemu dan kenalan dengan banyak orang,” tutur perempuan kelahiran Surabaya.

Di balik amanah yang dipegangnya, salah satu pembicara workshop “Cardiovascular, Forensic and Digital Pathology” di Unhas, Jum’at (9/11), pernah mendapatkan juara satu pada ajang “Association of European Cardiovascular Pathology” di Cologne, Jerman tahun 2016. Ia berhasil melengserkan 52 peserta dari negara lain.

Dosen Fakultas Kedokteran Unhas ini, meneliti terkait malformasi vaskular, kelainan pembuluh darah, selama setahun. Ia menemukan adanya perbedaan antara dokter klinis dan patologi dalam mendiagnosis penyakit tersebut. Sehingga, tak jarang mereka melakukan kesalahan dalam memberikan rujukan kepada pasien. Hal itu disebabkan, tak banyak orang Indonesia yang berkecimpung di dunia medis ingin mengkaji atau ahli dalam hal itu.

“Sebenarnya itu kayak iseng-iseng submit, terus abstrak diterima, kemudian presentasi. Waktu itu memang penelitian aku itu kayak dasarnya banget jadi orang udah ngomong yang tinggi banget tapi lupa dasarnya. Itulah kenapa saya terpilih menjadi pemenang, karena buat jurinya nggak usah ngomong yang tinggi-tinggi sedangkan dasarnya tadi masih belum jelas,” ungkapnya.

Perempuan yang tidak menyukai film bergenre horor ini, “Tv series (Drama, Thriller) yang pasti bukan horor. Soalnya hidup saya udah horror,” celetuknya, menyatakan, setiap kali ia mengikuti konferensi internasional, selalu saja dia menjadi satu-satunya peserta asal Indonesia.

“Dari ratusan orang, saya sendiri orang Indonesia. Dan memang belum ada yang mau tahu lebih detail tentang vascular malformasi. Mungkin tahun depan kita akan buatkan workshop khusus topik itu,” kata perempuan yang mengidolakan Sri Mulyani ini.

Ibu dari dua orang anak ini, menyatakan alasannya mengidolakan sosok menteri keuangan Indonesia itu. “Dia orangnya jelas dan tegas, pintar dan dia mengurus keluarganya dengan baik juga,” tutur alumnus SMA Nusantara, Makassar.

Ditanya mengenai trik khusus dalam membagi waktunya sebagai Ketua Ika Unhas Belanda, Mahasiswi dan istri dari dr Tom C Andriani SpB(K)V M Kes. Perempuan yang pernah bercita-cita menjadi TNI Angkatan Laut sewaktu berusia 3 tahun tersebut, tidak memiliki trik khusus dalam mengatur waktu menjalani ketiga hal tadi. Skala prioritas cukup baginya.

Nggak ada cara membagi waktu tapi pakai skala prioritas. Kayak sekarang saya harus ada di Indonesia untuk acara workshop ya saya ke Indonesia, anak saya tinggal di Belanda. Kalau pas keluarga lagi butuh ya ke keluarga,” pungkasnya.

Reporter : Khintan

BACA JUGA