Follow

Anwar Arifin Jebolan Wartawan Kampus

Editor: Khintan | Kamis, 03 Januari 2019 - 11:46 Wita | 271 Views
Foto: Santika/Identitas

Prof Dr Anwar Arifin, Guru Besar Ilmu Komunikasi Unhas telah jatuh cinta pada dunia kepenulisan sejak kecil. Kesukaannya itu membawanya mengarungi dunia kepenulisan termasuk dunia jurnalistik.

Prof Dr Anwar Arifin sejak kecil sudah mencintai dunia kepenulisan. Menjadi seorang sastrawan diimpikannya sejak duduk di bangku sekolah dasar.

“Cita-cita saya memang ingin menjadi penulis dari kecil. Tapi kemudian masuk STM dan sempat membuatnya kabur. Tapi saya sering menulis cerpen waktu itu,” katanya dilansir makassar.tribunnews.com.

Keinginan itu muncul bukan tanpa sebab.  Selepas membaca buku karya ulama yang juga sastrawan besar Indonesia, Buya Hamka, dari pamannya, ia pun tergugah ingin mengikuti jejaknya.

Ia makin cinta dunia kepenulisan setelah menempuh pendidikan di bangku kuliah. Tahun 1968-1974 ia menyandang status sebagai mahasiswa Publisistik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin.

Di samping kuliah, pria kelahiran Sengkang, Sulsel, 11 Desember 1947 tersebut menjadi wartawan di Mimbar Publisistik. Pengalaman berkesan saat menjadi jurnalis ialah ketika ia berkesempatan mengikuti kunjungan Wakil Presiden RI, Bung Hatta ke beberapa daerah di Sulawesi Selatan pada 1968 silam.

Selain sebagai jurnalis, putra dari pasangan Arifin Daeng Manrafi dan Andi Patellongi Petta Tjaja juga sebagai aktivis di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Keberadaan Jusuf Kalla (JK) yang menjadi tokoh menonjol di HMI dan KAMI kala itu, membuat Anwar Arifin tertarik untuk bergabung di HMI dan KAMI. Melalui organisasi itu, Anwar akhirnya bisa dekat dengan JK dan para tokoh mahasiswa masa itu, Aksa Mahmud, Alwi Hamu dan lainnya.

“Gara-gara kesibukan menjadi wartawan, aktif di HMI, KAMI dan Dewan Mahasiswa itulah juga yang menyebabkan saya termasuk terlambat selesai kuliah. Padahal teman seangkatan saya sudah banyak yang selesai duluan,”kenangnya.

Tapi, ia mengaku tidak menyesalinya. Justru, katanya, pengalamannya sebagai wartawan dan aktivis mahasiswa membuatnya lebih terpacu untuk berbuat lebih.

Kira-kira tiga tahun setelah meraih gelar Bachelor of Arts di Publisistik Unhas (1969), Anwar Arifin diangkat sebagai dosen tetap Unhas. Sembari menjadi seorang dosen di Unhas (1972-2000), Anwar Arifin pun mendapatkan izin untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia (1987) dan Universitas Kebangsaan Malaysia (1987-1988).

Perjalanan panjang yang ia lalui, karier suami Syamsinar ini makin berkibar. Ia kemudian terpilih menjadi anggota Dewan Pers RI (1993-2000), Rektor UVRI (1996-2001), hingga menjadi anggota DPR/MPR RI selama dua periode: 1999-2004 dan 2004-2009. Selain tu, ia juga berhasil melambungkan namanya di dunia pendidikan dengan mendapatkan sejumlah gelar guru besar di beberapa universitas. Di antaranya guru besar Fakultas Ilmu Komunikasi UPI Y.A.I, Universitas Veteran RI Makassar, dan Universitas Muslim Indonesia Makassar.

Sementara ‘warisan’ yang dianggapnya monumental saat masih di Unhas adalah mendirikan dan menerbitkan surat kabar kampus identitas pada 7 Desember 1974. Melalui identitas inilah Unhas melahirkan jurnalis, penulis, dan profesional lainnya. Para jurnalis hasil diklat identitas pun kini banyak berkiprah di berbagai media, baik media lokal maupun nasional.

Kegemarannya menulis pun tidak ia sia-siakan hingga menginjak usia senja. Sebisa mungkin, ayah tiga anak ini berusaha tetap produktif mengekspresikan pikirannya dalam sebuah tulisan.

Lebih dari 50 judul buku telah berhasil ia terbitkan. Judul-judulnya pun beragam. Bahkan, dengan diterbitkannya buku berjudul “Bersyukur : Kumpulan Puisi dan Cerpen” sebagai buku ke-55 yang ia tulis membawa namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia”. Buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” atau biasa disingkat ASPI adalah judul buku terbitan Yayasan Hari Puisi Indonesia yang diluncurkan tahun 2017.

Sederet prestasi dari dunia kepenulisan memberinya penghargaan yang datang silih berganti. Namun tak lantas membuatnya besar kepala. Ia terus berusaha lebih untuk meningkatkan kemampuan menulisnya. Hal itu dibuktikan dengan diterbitkannya buku ke-57 berjudul “Pancasila, Ideologi Tengah Tanpa Oposisi” pada tanggal 17 September 2018.

Begitulah sepenggal kisah Anno, guru besar Ilmu Komunikasi Unhas yang tak pernah berhenti berkarya dan menuliskan gagasan-gagasannya lewat sejumlah buku yang ia terbitkan.

Nadira Shidiki

BACA JUGA