Follow

Awas Hoax di Era Milenial

Editor: Khintan | Sabtu, 08 Desember 2018 - 08:20 Wita | 257 Views
Istimewa

Kasus hoax di era milenial ini sudah tak dapat lagi dipungkiri. Banyaknya sarana untuk mendapatkan dan menyebar informasi hoax tersebut, membuatnya tak dapat terbendung lagi.

Sekitar dua bulan lalu,  Poppy mendapat sebuah pesan singkat di WhatsApp nya. Pesan yang berisikan informasi gempa akan terjadi di Makassar itu sempat membuatnya kaget. Selang beberapa menit, telepon genggam yang dipegangnya kembali bergetar. Sebuah pesan kembali masuk di WhatsApp nya. Kali ini, pesan tersebut berisikan info tsunami terjadi di Kabupaten Sinjai.

Merasa ada yang aneh dengan kedua pesan tersebut membuat Poppy tak tinggal diam. Mahasiswi Jurusan Keperawatan itu kemudian menghubungi salah satu temannya yang tinggal di Sinjai. Ternyata berita yang didapatnya itu adalah hoaks. Untung saja, Poppy tak menyebarluaskan berita tersebut.

Sebagai sivitas akademika yang memiliki pemikiran ilmiah, tentunya sudah dapat membedakan antara informasi hoaks atau tidak. Namun, apa jadinya jika sivitas akademika lah yang membuat dan menyebarkan hoaks tersebut? Sangat disayangkan, bukan?

Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi Unhas, Riska, mengatakan bahwa ia sering mengahabiskan waktu luangnya dengan bermain Sosial Media (Sosmed). Sekitar tiga sampai empat kali dalam sehari ia membukanya. Hal tersebut dilakukan untuk berkomukasi dengan teman-temannya. Selain itu, ia juga sering kali membaca berita dan artikel di Sosmed kemudian menyebarkannya jika dianggap menarik.

“Biasanya dalam sehari saya membuka Sosmed tiga sampai empat kali. Saya membaca berita dan artikel atau mungkin juga sharing infromasi yang saya dapat,”ungkapnya, Rabu (7/11).

Hal serupa juga diungkapkan oleh Mawar, Mahasiswi Jurusan Fisika Unhas. Ia mengatakan bahwa hampir setiap waktu luangnya digunakan untuk memegang Hand Phone (HP). Dalam sehari, Mawar biasanya menghabiskan waktu sekitar lima jam untuk hal itu.

“Jujur, sebenarnya kan ini zaman milenial jadi kalau ada waktu luang pasti HP lagi ku pegang. Dalam sehari bisa sampai lima jam,” ungkapnya, Selasa (6/11).

Lebih lanjut, Mawar menjelaskan bahwa ketika sedang membuka Medsos hal yang paling penting ia lakukan adalah membalas chat. Hal tersebut bertujuan untuk mendapatkan informasi dari teman-temannya di Medsos. Sering kali ia mendapat info kemudian disebar juga ke teman Medsosnya.

“Yang paling penting itu chat, biasanya info dari jurusan semuanya dari chat WhatsApp. Terus kalau ada informasi saya dapat dan selama itu bisa bermanfaat saya share mi,” jelasnya.

Di Unhas sendiri, mahasiswa telah dibekali ilmu tentang cara membedakan sebuah informasi itu hoaks atau tidak. Hal itu disisipkan dalam sebuah materi di Basic Learning Skill. Character and Creativity (Balance), tahun 2017 lalu.

Muh. Ashry Sallatu, Dosen Hubungan Internasional Unhas yang juga merupakan penyusun materi BCSS, mengungkapkan alasan disisipkannya materi cara membedakan sebuah informasi hoaks. Gego, sapaan akrabnya, menyatakan bahwa saat ini mahasiswa sangat rawan terindikasi berita hoaks, sehingga perlu untuk diberikan pembekalan sejak dini.

“Kita punya cara berpikir ilmiah dan seharusnya sudah tahu mana benar atau tidak. Sayang sekali kalau orang di kampus justru termakan hoaks apalagi menyebarkannya. Nah itu kita mau memperisapkan adik-adik agar tahu apa dampaknya itu hoaks,” ungkapnya, Kamis (8/11).

Salah satu Dosen Ilmu Komunikasi Unhas, Muliadi mau turut berkomentar terkait hal ini. Ia mengatakan bahwa ketika seseorang mendapatkan sebuah informasi maka hal yang perlu diperhatikan adalah melakukan verifikasi. Mahasiswa harus cross-check informasi tersebut dengan berbagai media, terutama media-media mainstream. Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa informasi yang didapat tersebut sangat perlu untuk disaring. Sebab informasi tersebut merupakan langkah pertama untuk mengambil sebuah tindakan.

“Saat mendapat sebuah informasi sangat perlu untuk melakukan cek dan ricek. Hal yang pertama kita lakukan adalah melakukan verifikasi dengan mengecek ke media-mediamainstream,” paparnya, Rabu (14/11).

       

Reporter: Wandi Janwar

BACA JUGA