Follow

Bahas Bahasa dan Budaya, FIB Unhas Undang Dosen UGM

Editor: Khintan | Senin, 29 Oktober 2018 - 21:29 Wita | 151 Views
Dr Sudaryanto , salah satu dosen UGM memberikan kuliah umum di Aula Prof Mattulada, Senin (29/10). Foto: Meilani/Identitas.

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (FIB Unhas) menggelar kuliah umum bertajuk Penelitian Bahasa dan Budaya di Era Millenial, Senin (29/10). Kegiatan ini merupakan rangkaian acara Festival Sastra Indonesia (FSI) VI yang akan berlangsung hingga 31 Oktober di Aula Prof Mattulada. Acara ini dihadiri oleh dekan, wakil dekan, ketua prodi program pascasarjana FIB, dan para peserta Festival Sastra Indonesia VI.

Dalam sambutannya, Dekan FIB, Prof Dr Akin Duli, MA, menyampaikan bahwa budaya dan bahasa memegang peranan penting dalam meningkatkan sumber daya manusia, guna mendukung kemajuan teknologi dalam revolusi industri 4.0 yang saat ini sedang dibicarakan.

Selanjutnya, materi kuliah umum dibawakan oleh salah satu dosen linguistik Universitas Gadjah Mada, Dr Sudaryanto. Ia merupakan perintis Linguistik Indonesia sekaligus penulis berbagai buku mengenai penelitian. Dalam ceramahnya, Dr Sudaryanto mengatakan bahwa setiap manusia secara hakiki pasti berbudaya, sebagaimana budaya merupakan ciri utama pada manusia.

“Budaya hanya mungkin ada jika mengandung dua hal penting. Pertama, akal budi harus dikembangkan dan kedua yaitu kerjasama yang terpelihara. Akal budi yang dimaksud dalam hal ini yakni kesadaran,” tutur lelaki kelahiran 1944 ini.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa bahasa verbal adalah bagian penting yang melekat pada manusia karena mampu mengembangkan akal budi serta memelihara kerjasama. Dua hal ini yang akan mengantar pada suatu kebudayaan yang unggul.

Di sesi akhir kuliah umum, Dr Sudaryanto menjawab masalah yang kerap dihadapi oleh mahasiswa S1, S2 bahkan S3 yaitu mengenai penulisan tugas akhir.

“Sampai hari ini, masalah penulisan tugas akhir masih menjadi masalah yang menyiksa. Seseorang yang melakukan penelitian adalah mereka yang melihat suatu masalah yang layak diteliti sehingga menjadi hal yang problematik. Namun, saat ini kesulitan yang dihadapi adalah kesulitan dalam menemukan masalah yang layak sehingga menyebabkan dalam kesulitan-kesulitan lain seperti kesulitan memperoleh data,”tutupnya.

M33

BACA JUGA