Follow

Berbagi Cerita Berdirinya German Corner Unhas

Editor: Fitri Ramadhani | Kamis, 21 Maret 2019 - 13:40 Wita | 168 Views
Foto : Arisal

Ditemui identitas, Marianti menjelaskan latar belakang mendirikan German Corner, karena ketertarikan batinnya dengan Jerman. “Waktu kursus di Goethe Institute Jakarta selama 6 bulan dan kursus di Goethe Institute di Freiburg, Jerman, saya mendapat predikat lulusan terbaik,” ujarnya.

Berangkat dari situ, dia berpikir bisa membimbing kursus bahasa Jerman bagi juniornya yang belajar di Jerman. “Awalnya saya khususkan mahasiswa Farmasi karena ada program beasiswa yang ditawarkan pemerintah Jerman bisa sit in kuliah di sana selama beberapa bulan. Tapi kendalanya, kuliah Farmasi S1 itu berbahasa Jerman. Makanya, saya buka kursus khusus mahasiswa Farmasi,” ungkapnya.

Selain itu, Marianti mengakui, niatnya mendirikan German Corner didukung Dr. Ing. Widodo, salah seorang dosen teknik yang pada saat itu juga sangat sibuk karena jurusannya juga harus pindah ke Gowa.

“Pada waktu duta besar Jerman untuk Indonesia ke Makassar dengan didampingi divisi kulturalnya dan pemimpin Goethe Institute, saya meminta bantuan mereka untuk mendirikan . Akhirnya, dibantu Prof Dwia yang waktu itu sebagai WR IV, hingga berdirilah German Corner,” jelas Marianti.

Marianti mengakui, mengetahui bahasa Jerman ketika masih sekolah di SMA 1 Makassar. Tetapi, ketertarikannya dengan bahasa Jerman, tidak lepas dari pengaruh suaminya, Guru Besar Fakultas MIPA, Prof. Dr. rer. nat. Wira Bahari Nurdin.

“Hehe.. ceritanya sedikit romantis. Waktu itu, calon suami saya yang sekarang jadi suami saya, kuliah S3-nya di Jerman atas beasiswa Deutscher Akademischer Austausch Dienst (DAAD). Selesai S1-nya di jurusan Farmasi langsung melanjutkan S3 tanpa jalur S2. Dia hanya disuruh immatrikulasi 1 semester, mengulang 3 kuliah, ikut final dan mid test serta praktikum. Beliau menjalani kuliah dan ujian tersebut dalam bahasa Jerman,” terang Marianti.

Pucuk dicinta, ulam tiba. Begitu habis menikah, ternyata Marianti mendapat beasiswa DAAD kuliah di Jerman. “Jadi deh bulan madunya di Eropa. Alhamdulillah bisa keliling Eropa jika ada liburan semester. Itulah juga enaknya kuliah di Eropa bisa keliling banyak negara dengan biaya murah, seperti ke Paris, Amsterdam, Belgia, Spanyol dan negara lainnya,” ungkapnya.

Bukan itu saja didapatkan Marianti. Putra sulungnya, ternyata lahir di Berlin. “Sekarang anak pertama saya itu, kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik Elektro dan Informatikan, sudah tahun keempat, sedang menyusun skripsi,” ujarnya, sembari bilang, dari pernikahannya dengan Prof Wira Bahari, telah dikaruniai tiga anak. Anak keduanya sudah kelas 3 di SMP Swasta Nusantara, dan bungsu kelas 1 di SMP 12 Makassar.

Agar tidak lupa dengan bahasa Jermannya, selain selalu komunikasi dengan suami, Marianti juga dalam berkomunikasi dengan anak sulungnya dengan menggunakan bahasa Jerman. “Saya memang mengajari dia bahasa Jerman, dan sekarang dia bisa bahasa Jerman,” ujarnya.

Marianti berharap, untuk German Corner masih bisa tetap melayani mahasiswa yang ingin mengenal bahasa Jerman dan kultur Jerman. Mengenal pemberi beasiswa untuk kuliah di Jerman, bagaimana hidup dan survive di Jerman, serta tempat berkumpulnya alumni-alumni Jerman untuk membicarakan mengenai program penelitian dan pengabdian bersama (stammtisch).

Sosok yang tidak segan melemparkan senyum ramahnya itu, di luar tugasnya sebagai pengajar, pembimbing, dan penguji mahasiswa S1, S2, S3 pada program profesi apoteker, kini dia sedang mendapatkan beasiswa reinvitation program dari German Exchange Service DAAD. Makanya, selama tiga bulan ini sibuk meneliti, menulis buku farmasi klinik dari literatur berbahasa Jerman dan menulis Publikasi.

“Penelitian saya mengenai anti kanker dari tanaman asli pengobat Suku Makassar. Sebelumnya, saya juga melakukan penelitian di Seoul, Korea mengenai aktivitas pemutih (kosmetika) dari alga cokelat (sea weed), dan penelitian bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan Unhas mengenai produk lebah, seperti propolis dan madu yang dipakai pengobat Suku Makassar,” papar Marianti.

Marianti juga melakukan kerja sama penelitian dengan Oregon State University, University of Bonn Jerman, dan University of King Abdul Azis Saudi Arabia. Bahkan saat ini, dia sedang menunggu pendaftaran patennya untuk krem anti inflamasi dari propolis.

Selain prestasinya atas penelitian-penelitian tersebut, Marianti juga meraih penghargaan Grant World Class Professor, mampu setiap 2 tahun mendapat grant dari DAAD, dan menjadi invited speaker di seminar-seminar internasional di Kyoto, Wina, Melbourne, serta Kuala Lumpur. Bahkan, direncanakan tahun depan akan di Leuven, Belgia.

Kepada mahasiswa Unhas, ia berpesan agar mereka mempunyai cita-cita setinggi langit. “Kejarlah dengan bekerja keras sambil berdoa mengharap cita-cita itu dapat terwujud dan jangan berputus asa jika belum tercapai. Mmungkin Allah punya kehendak lain yang lebih baik dari yang kita tahu,” pungkasnya.

Penulis : Muflihatul Awalyah

BACA JUGA