Follow

Bertaruh Hidup

Editor: Urwatul Wutsqaa | Minggu, 29 Maret 2020 - 21:00 Wita | 229 Views
Ilustrasi : Azzahra Nabilah

Kata Sutan Sjahrir “Hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan”.

Kata-kata tersebut memang sudah akrab didengar. Saya mendengar kembali kutipan diatas, sebulan lalu saat berdiskusi kecil di sebuah teras Rumah Toko (Ruko) milik teman. Kala itu malam Senin, kami berbincang hingga pukul 3 subuh. Pembahasan kami berkutat pada tokoh di masa lampau. Saking asyiknya, kami cuek saja mendengar bisingnya kendaraan yang tak pernah absen walau telah dini hari. Memang jarak jalan raya dengan tempat kami berdiskusi hanya sekira sepuluh jengkal.

Satu pembahasan usai, berlanjut ke pembahasan berikutnya. Obrolan kami awet malam itu, mungkin karena kami sama-sama dari disipliln ilmu Sejarah. Diantara beberapa hal yang kami bahas, ada satu hal yang ingin saya bagikan ke pembaca identitas. Pembahasan mengenai prinsip hidup dan bagaimana seharusnya kita menjalaninya. Seperti apa yang dikatakan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia yang saya kutip di awal tulisan saya.

Bagi saya, sosok tokoh nasional satu ini begitu istimewa. Selama hidupnya, Sutan Sjahrir berjuang, berkorban bahkan kebanyakan menderita demi cita-cita mulianya, membebaskan rakyat Indonesia dari segala penindasan. Bahkan sampai akhir hidupnya, ia meninggal dengan status tahanan politik Indonesia. Kemampuan berdiplomasinya cukup membuat saya kagum. Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, bangsa ini dihadapkan dengan berbagai persoalan. Salah satunya upaya mendapatkan pengakuan internasional atas kemerdekaan. Langkah yang ditempuh Sutan Sjahrir kala itu dalam bentuk perundingan dan perjanjian. Banyak kelompok menilai langkah Sjahrir merugikan Indonesia dalam berdiplomasi. Tapi Sutan Sjahrir tetap pada apa yang diyakininya. Ia tidak membiarkan perasaan-perasaan lain menghalanginya, ia tetap berpikir jujur. Menurutnya, akal budi harus sanggup berpikir dan bertindak menurut keadaan dan perubahan.

Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari Sutan Sjahrir. Terutama kumpulan nasihat yang sempat disampaikan semasa hidupnya. Kawan dengan cerutu di tangan, seakan memaksa kami malam itu memahami kalimat Sutan Sjahrir. Katanya ini bukan sekedar quote yang tersebar di media sosial. Tapi ucapan seorang tokoh nasional yang merasakan kegelisahan hidup dalam lingkungannya.

Walau kebanyakan kita mengenal kalimat diatas berasal dari Sutan Sjahrir, tetapi kami di lingkungan anak Sejarah mengetahui Syahrir nyatanya juga mengutip dari Friedrich Schiller, yang hidup di abad ke-18. Umumnya dikenal sebagai filsuf dan sejarawan Jerman.

Walau malam semakin pekat, kalimat yang tidak terlalu panjang ini menggetarkan hati. Kami sangat terkesan meskipun tidak cukup waktu membahasnya lebih jauh. Sjahrir, mengingatkan kita pada hidup yang tak lain menjadi pentas pertarungan. Hidup ibarat panggung yang harus selalu diperjuangkan.

Zaman menawarkan berbagai rupa persoalan, silih berganti tak ada habisnya. Untuk kokoh berdiri di panggung pertarungan, tentu kita harus selalu siap bertempur dan terbiasa terbentur. Kemenangan akan menjadi milik orang-orang yang terbiasa mempertaruhkan hidupnya.

Sama halnya dengan mahasiswa, ia rela meninggalkan kemapanan hidup di kampung halaman. Mereka memasuki kampus di kota-kota untuk meraih hal yang lebih dari sebelumnya.  Begitulah masyarakat modern diciptakan, hari ini harus lebih dari pada hari sebelumnya.

Mulai saat meninggalkan rumah, hidup mulai dipertaruhkan. Saat berkuliah, terkadang kita dihadapkan pada pilihan ingin lulus lebih cepat, atau berlama-lama di kampus. Tentu pilihan yang diambil sudah dipertimbangkan, tak ada yang dibuang percuma. Niat kita tentu tertuju ke masa depan yang ingin dimenangkan.

Kita terbiasa pula dihadapkan pada masalah finansial. Diantara kita, ada yang harus mempertaruhkan waktu luangnya untuk bekerja mencari uang demi menambal ongkos hidup sekolah di kota. Sebagian yang lain akan memilih mempertaruhkan waktunya aktif berorganisasi, atau memilih sekadar fokus belajar dan beristirahat. Kerap kali, ketika kita menemui kegagalan, kita akan mendegarkan omongan orang terdekat yang sering kali menuduh. Sedikitnya itu yang membuat kita percaya bahwa hidup tidak berjalan begitu saja. Ada semacam ombak-ombak yang mengoyang kita.

Dengan tujuan yang ingin dicapai, dibutuhkan komitmen agar dapat memastikan kita dapat terus berjuang. Seberapa pun terjal jalan yang kita lalui untuk mencapainya. Tetap kita akan terus konsisten bertaruh karena kita tidak tahu kemungkinan-kemungkinan apa saja yang kita temui saat berusaha menuntaskan apa yang  ingin kita capai.

Dalam hal menentukan pilihan pun, ketika mantap memilih pilihan yang satu, yang lain pasti akan kita lepas. Pada proses menentukan pilihan, terkadang kita dilema, takut sampai salah menentukan pilihan. Kenyataanya, tidak seperti itu, bukan pilihan yang salah tetapi kemampuan terhadap pilihan, belum maksimal. Kita hanya perlu berbenah dan kembali mencoba. Kegagalan tidak akan datang terus menerus bagi orang-orang yang mau bertaruh kemudian berusaha karena tak ada jalan pintas untuk menjadi tuan bagi diri sendiri. Sekali lagi, kita butuh bertaruh untuk menang.

 

Penulis adalah Litbang SDM PK identitas 2020,

Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah Unhas,

Angkatan 2016.

BACA JUGA