Bissu dalam Perespektif Sosiologi

Keluarga Mahasiwa Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik (FISIP Unhas) menggelar bincang virtual menggunakan aplikasi Zoom, bertema Gender & Sexuality, Bissu Bukan Sekedar Waria Biasa (Dalam Perspektif Sosiologi) Kamis, (9/07).

Bincang-bincang yang berlangsung selama kurang lebih empat jam ini, membahas tentang kebudayaan suku Bugis, yaitu Bissu dan dibahas langsung Kandidat Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, Asrul Nur Iman, SSos MIKom dan Peneliti Bissu, Feby Triadi SPd MA.

Sebelum materi dimulai, panitia memperlihatkan sebuah video untuk memberikan gambaran Bissu. Kemudian barulah masuk pembahasan yang dibawakan pemateri pertama, Asrul Nur Iman. Ia mengawali topik bahasannya dengan menceritakan tentang Sulawesi Selatan yang mengenal 5 peran gender. Di antaranya ada oroane atau laki-laki, makkunrai atau perempuan, calabai atau laki-laki yang feminim (waria), calalai atau perempuan yang perkasa (tomboi) dan bissu yang bukan laki-laki maupun perempuan, melainkan seorang individu yang menunjukkan karakteristik ke-Tuhan-an, atau sakral. Bisa juga disebut sebagai individu terpilih penyambung lidah antara Tuhan dan manusia. Lima gender itu lanjut pemateri adalah berdasarkan jari manusia.

“Saat Bissu membuka telapaknya, lalu memegang jempolnya, dia (bissu) mengatakan kalau jempol itu adalah oronae, kelingking adalah makkunrai, telunjuk adalah calabai, jari manis adalah calalai, dan jari tengah adalah Bissu,” jelas Asrul mengutip wawancara Tim Historia dengan seorang Bissu, Almarhum Puang Matowa.

Pemateri pun melanjutkan bahasannya dengan menceritakan pengalamannya berkenalan dengan Bissu. Tepatnya di tahun 2011, pertama kalinya ia melihat Bissu saat pementasan I La Galigo yang diadakan di kota Benteng Ford Rotterdam Makassar. Lalu tahun 2015, ia kemudian bertemu dengan Bissu di Kecematan Segeri, Kabupaten Sengkang dalam penelusurannya untuk membuat tesis mengenai Bissu. Asrul mengaku bertemu beberapa Bissu yaitu Bissu Eka, Bissu Wa Nani dan Bissu Wa Sale’. Setelah melakukan penelusuran mendalam, di akhir tahun 2017 pemateri kemudian bertemu dengan beberapa Bissu di kabupaten Wajo, di awal tahun 2018 di kabupaten Bone dan di akhir tahun 2018 di kabupaten Soppeng.

Asrul juga menambahkan bahwa Bissu dianggap berhubungan secara dialektis dengan masyarakat Bugis. Begitu memperoleh wujudnya, ia dipelihara, dimodifikasi, atau bahkan dibentuk ulang oleh hubungan-hubungan sosial. Proses sosial yang terjadi kemudian memengaruhi bentuk identitas gender bissu.

Asrul juga mengutip beberapa wawancara dari para bissu yang pernah ia temui. Salah satunya Puang Matowa Bissu Ancu. “Maaf ya, karena sekarang banyak orang beranggapan waria, memang waria itu identik dengan Bissu tapi tidak semuanya Bissu yah, karena pikiran awamnya mereka itu beranggapan bahwa dilihat dari kepribadiannya memang calabai waria, tapi di situ kan beda, beda tata aturannya,” jelasnya.

Diskusi kemudian dilanjutkan Peneliti Bissu, Feby Triadi. Dalam sesinya, Feby menambahkan kalau Bissu mempunyai kepercayaan yang disebut attoriolong yang memiliki sembilan pranata. Yaitu kehidupan dunia, akhirat, sakit dan kematian, para dewa, makhluk halus, leluhur, keramat dan sakit, jimat, serta menyembah.

“Jadi para Bissu itu punya kepercayaan yang disebut attoriolong. Jadi para bissu sebenarnya menganut agama seperti Islam. Tetapi Islam itu kemudian dimodifikasi atau dileburkan dengan perangkat-perangkat kebudayaan di sana,” jelasnya.

Feby menambahkan, beberapa pandangan orang-orang bagi Bissu seperti dewan adat yang selalu ada untuk memberdayakan para Bissu dan para pemuka agama yang menolak secara senyap, tetapi tetap merangkul dengan harmonis. Pemateri juga menjelaskan konsep To Boto atau pasangan hidup para Bissu, yang artinya mereka adalah orang-orang yang tinggal bersama dengan para Bissu.

“Saat ini bissu diperhadapkan dengan dua kondisi. Pertama adalah mereka diacuhkan oleh orang-orang lokal dan memandangnya hanya sebagai bagian dari sisa-sia masa lalu, dan kedua adalah mereka dilihat menarik oleh asing, karena konsepnya yang kultural dan diakui oleh orang Bugis.” jelas Peneliti Bissu.

M113

No comments

LEAVE A COMMENT