© Copyright Identitas 2020

Ketika mentari tak lagi bangun dari peraduannya

Gunung bagaikan kapas yang lalu lalang beterbangan

Air tak lagi mengalir pada tempatnya

Dan suara tangis yang meraung dimana-mana

 

Ketika saat itu tiba semua berlari tanpa arah dan tujuan

Semua manusia berhamburan

Tamatlah sudah

Menangis, merintih penuh penyesalan, apa gunanya?

 

Mengapa bumi ini?

Pertanyaan bodoh yang terus saja berulang

Tanpa menengok sejenak ke belakang

Kini Bumiku tak seramah dulu lagi

 

Ketika langit tak kunjung berhenti menangis

Air matanya yang berlinang memporak-porandakan semuanya

Makhluk tak kasat matapun ikut muncul membawa sejuta sengsara

Dan ketika awan bertiup sekencang-kencangnya

 

Tidakkah kita membuka mata?

Bumi sudah lelah dengan segala sandiwara kita

kekuasaan yang kadang lebih penting dari rasa kemanusiaan

Lupa akan segalanya

 

Aku, kamu dan kita semua adalah harapan bumi

Tak sadarkah kita dengan semua teguran dan cobaan yang terus berdatangan

Tuhan hanya ingin kita kembali pada jalan yang telah digariskan

Hijaukan, lestarikan, dan damaikan

Penulis: RM. Alifuddin Purnomo Kahar,

Mahasiswa Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik,

Angkatan 2018.

 

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT