Bunga sebagai Kenangan

Di musim dingin tumbuh sebuah bunga, dinamakan darah. Nama yang melambangkan sebuah perjuangan dan saksi tragedi berdarah, ia dirawat dengan sangat hati-hati untuk mengenang hilangnya seorang ayah dari sebuah keluarga kecil.

Pagi itu cerah, tiba-tiba segerombolan orang lengkap dengan baju tentaranya mendatangi rumah Aurora, dengan perasaan bahagia ia menyambut dengan suka cita “Ibu… Ibu.., ada tentara yang mendatangi rumah kita,” dalam hati ia mengira keluarganya telah melakukan hal yang luar biasa hingga didatangi tentara.

Dengan sangat tergesa-gesa seorang wanita menuruni tangga dengan perasaan cemas “Masuklah ke kamarmu terlebih dahulu nak,” Aurora pun menolak dengan hati yang  penasaran, “Kira-kira ada hadiah apa, yah?” bibirnya yang mungil tersenyum manis.

“Segera tinggalkan tempat ini,” kata tentara itu. Ibu Aurora telah paham dengan apa yang terjadi, ia kembali mengingat peristiwa dua malam yang lalu “Aku akan pergi ke suatu tempat,  jaga Aurora, aku akan selalu menjaga kalian, ada tugas yang harus kuselesaikan,” ucap suami kepada istrinya, dengan nada yang sedikit serak dan mata yang berkaca-kaca.

Ia tak menyangka gosip-gosip tetangga yang terdengar, benar adanya. Namun ia tetap yakin, “Sambil memeluk erat suaminya, berharap tak akan terjadi apa pun.

Tak menunggu lama, dua tentara maju dan memborgol kedua tangan Ibu Aurora, “Dasar istri penghianat,” ucap tentara itu.

Aurora yang mengintip dari kejauhan. Lantas langsung berlari ketika melihat sebuah senjata api.

“Penghianat, penghianat, penghianat,” kata-kata itu terngiang-ngiang di kepala Aurora. Pertanyaan-pertanyaan menghantam ketenangan berpikirnya.

“Ada apa?, kenapa,?” perasaannya yang bercampur aduk dikelilingi awan kegelapan, kini hati yang cerah diselimuti awan mendung.

Setelah kejadian itu, Aurora bertahun-tahun dititipkan ke kerabat ibunya, disana ia menjalani hari dengan perasaan hampa, rasa heran yang berkecamuk dalam jiwanya dimana ia masih berumur 10 tahun waktu peristiwa itu. Usia yang terbilang muda untuk mendapat tekanan batin  dari sebuah peristiwa yang memilukan.

Enam tahun kemudian, Aurora memutuskan untuk kembali ke rumahnya, menyusuri ruang-ruang berdebu, sesekali ia mengibaskan tangannya untuk menghalau debu yang menghampirinya. Dengan tangan yang terasa gugup, detak jantung semakin cepat ketika mengambil sebuah foto yang telah usang, diusapnya foto tersebut. Terlihat sosok seorang yang gagah berani, tampak  dengan senyum yang lembut “Ini adalah foto ayahku,” air matanya jatuh tak terbendung, mengingat masa-masa indah yang telah hancur dalam sehari saja.

“Apa kabar ayah? Aku telah remaja saat ini, alangkah tidak beruntungnya dirimu tak melihatku tumbuh,”.

Ia memasukkan foto tersebut ke dalam tasnya lalu melanjutkan langkanya ke sebuah ruangan, pintunya terbuat dari kayu jati dengan corak batik berwarna coklat. Itu adalah ruangan kerja ayahnya.

Ia beranikan diri memasuki ruangan tersebut, memeriksa dengan detail setiap catatan-catatan dari ayahnya. Namun beberapa jam memeriksa meja tersebut ia tidak menemukan apa pun kecuali laporan pekerjaan dan tumpukan dari beberapa buku yang tersusun rapi di atas meja.

Ia mendorongkan badanya sejenak di sebuah kursi panjang berwarna hitam, lambat laun mulai tertidur dengan perasaan yang masih penasaran. Berjam-jam ia tertidur, hingga sore tiba terdengar seseorang singgah di depan rumah Aurora dan berjalan masuk dengan tergesa-gesa yang membuat Aurora terkejut dan terbangun dari tempatnya beristirahat.

“Paman,?” kata Aurora.  “Kenapa kamu kesini? Ingin merusak desa lagi,?” dengan nada yang mengancam, ia adalah tetangga Aurora pada saat masih tinggal di rumahnya. “Tidak paman, aku hanya rindu pada rumah ini dan keluargaku,” jawab Aurora.

“Pergi sekarang kalau tidak warga desa akan mengusirmu,” mengancam sekali lagi“ Tidak paman, tolong jelaskan padaku apa yang terjadi? Aku masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tolong jelaskan agar aku tidak lagi merasa gelisah,” Aurora memohon dengan berlinang air mata. “Baiklah,” ia menceritakan kisah kelam yang terjadi pada keluarga Aurora.

Ayah Aurora adalah seorang pejabat pemerintah yang terbilang berani pada saat itu, lantang menyuarakan hak-hak rakyat kecil. Suatu hari terjadi pergolakan politik yang berlangsung selama bertahun-tahun, hingga para petinggi Negeri Shovia terlibat dalam perebutan kekuasaan. Tiba suatu malam terjadi penculikan dan pembunuhan, yang diyakini sebagai dalang adalah ayah Aurora, karena sebelumnya ia sempat terlibat pertikaian dengan beberapa anggota pemerintahan.

Meskipun tidak dapat mempercayai cerita tersebut, ia tetap berkeyakinan ayahnya adalah seorang pejuang, dengan cinta dan kasih yang tidak bisa ia lupakan.

Penulis : Fika Saputri

Mahasiswa Ilmu Sejarah, FIB Unhas

angkatan 2018.

Share Post
Written by

aris4lar@gmail.com

No comments

LEAVE A COMMENT