Follow

Casing SOS Smartphone Millenial, Inovasi Pendeteksi Korban Pasca Bencana

Editor: Wandi Janwar | Selasa, 21 Mei 2019 - 22:00 Wita | 140 Views
Dokomentasi Pribadi

Belakangan ini Indonesia sering kali dilanda bencana alam. Misalnya saja, gempa yang terjadi di Lombok dan Tsunami yang meluluhlantahkan Kota Palu. Hal tersebut tentu sangat berbahaya dan bisa mengancam keberlangsungan hidup manusia.

Berdasarkan data UNISDR disebutkan, potensi bencana tsunami di Indonesia menempati peringkat pertama dari 265 negara di dunia. Untuk setiap bencana yang terjadi, tentu akan menelan korban jiwa. Namun kendala yang sering dihadapi yakni susahnya mendeteksi posisi korban pasca bencana. Sehingga menyebabkan lambatnya pengeksekusian dan bertambahnya korban.

Melihat hal itu, tiga mahasiswa Unhas yang tergabung dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC), berinisiatif membuat inovasi untuk antisipasi banyaknya korban bencana. Ketiga mahasiswa itu yakni, Fauzan Alif Anwar (Teknik Informatika), Muhammad Zul Fahmi Sadrah (Teknik Informatika),dan Amalia Widyanis (Fisika).

Dalam karyanya, mereka menciptakan pemancar sinyal darurat yang ditanamkan di casing hand phone. Adapun nama produk mereka adalah Casing SOS Smartphone Millenial (COMEL).

Di bawah bimbingan Dr Indrabayu, ketiga mahasiswa Unhas ini memanfaatkan perkembangan teknologi yang digunakan di seluruh aspek. Ketua tim PKM, Fauzan mengatakan, inovasi yang mereka buat yakni memanfatkan casing hand phone yang ditanamkan RFID sebagai pemancar sinyal.

“Inovasi dari program PKM kami yaitu dengan memanfaatkan casing hand phone dari masyarakat sebagai pemancar sinyal darurat disaat bencana alam terjadi.  Casing ini dirancang  kan RFID sehingga tidak akan terpengaruh oleh hilangnya sinyal seluler pasca terjadinya bencana alam,” ujarnya.

Salah satu anggota tim, Zul menambahakan, teknologi ini nantinya bisa ditanamkan di semua casing hand phone masyarakat, karena ukuran dari RFID ini hanya setebal kartu ATM.

“Kita bisa memastikan COMEL dan casing hand phone biasa sulit untuk dibedakan, karena teknologi RFID yang ditanamkan kurang lebih hanya setebal kartu ATM,” tuturnya.

Amalia Widyanis

BACA JUGA