Follow

Cerita Motivasi Tuk Rekonstruksi Psikis Anak Korban Bencana

Editor: Khintan | Selasa, 20 Agustus 2019 - 14:17 Wita | 84 Views
Foto: Santi Kartini/Identitas.

Gempa Lombok pada 29 Juli 2018 disusul tsunami dan gempa Donggala pada 28 September di tahun yang sama, menyisakan banyak luka dan memori pahit bagi banyak orang. Tak terkecuali anak-anak. Hati makhluk Tuhan yang masih murni itu turut roboh bersama bangunan tempat tinggal mereka. Trauma mendalam tentu singgah di hati dan pikiran mereka.

Sejumlah penulis menulis 28 cerita pendek sebagai cara menyembuhkan trauma pasca gempa yang dialami anak-anak korban gempa tersebut. Cerita-cerita di dalam buku yang terbit tahun 2019 ini menyiratkan pesan moral untuk membantu membangun kembali mental anak-anak tersebut.

Sejumlah penulis yang turut serta menyusun buku ini adalah; Fitriani Eka, Marianti Atkah, Arie Siregar, Deasy Tirayoh, Efierfita Ayulis, Hastira Soekardi, Indah Darmastuti, Ulfah Raihan, S. Gegge Mappangewa, Aina, Darmawati Madjid. Ada juga Irma Agryanti, Fachruddin Palapa, Jeli Manalu, Kak Ian, Raudal Tanjung Banua, Reski Indah Sari, Rena Asyari, Wardi Pena, R. Tia, Steffi Budi Fauziah, Sulis Nashwa Kirana. Selain itu,Susana Febryanty, Syaifuddin Gani, Tary Lestari, Imhe Puan Mawar, Yuditeha, dan Muhary Wahyu Nurba juga turut terlibat.

Penulis-penulis itu menyajikan kisah yang menggugah harapan melalui pesan moral baik tersirat dalam alur dan pribadi tokoh maupun tersurat di setiap akhir cerita pendeknya. Semisal, pesan membantu sesama, menunjukkan kepedulian dalam tindakan yang nyata dan tulus didapatkan pada kisah Putri Rosmarika dan Mawar Biru karya Fitriani Eka, Persahabatan Lilum dan Titanium karya Mariati Atkah, Andi dan Teman Barunya karya Arie Siregar. Pesan untuk menghargai orang lain disampaikan melalui dongeng Tikus Besar dan Kerbau Kecil yang ditulisSyaifuddin Gani.

Ada juga kisah yang judulnya diambil menjadi judul utama buku ini, yakni memetik keberanian karya Deasy Tirayoh. Cerita pendek itumenyelipkan pesan bahwa kita harus yakin kalau kita bisa menaklukkan ketakutan dalam diri. Setelah menaklukkan rasa takut itu, perasaan yang begitu bahagia akan muncul menyelimuti kita hingga ketakutan itu tidak lagi kembali. Pesan ini tentu sangat mendalam jika ingin disampaikan kepada anak-anak korban bencana alam untuk menghidupkan kembali kekuatannya agar mampu bangkit dari kesedihan yang larut.

Dalam kisah lain, terdapat pesan untuk tidak menyerah pada keadaan yang digambarkan oleh Fachruddin Palapa melalui cerita Anak Gembala Latemmamala. Begitu pula cerita Sepatu Kayu dari Indah Darmastuti yang ingin berpesan bahwa setiap kesempatan hanya datang satu kali, jadi kita perlu menggunakan waktu sebaik-baiknya. Jika pun sesuatu yang tidak sesuai harapan kita terjadi, kita tidak perlu menyesalinyasebab segala sesuatu itu ada hikmahnya selama kita mau menyadarinya.

Selain kaya akan pesan moral, buku ini juga memiliki cerita yang memperkenalkan salah satu adat di Indonesia, yakni adat Gorontalo. Kisahsoal tradisi itu dapat ditemui pada cerita berjudul Kota Serambi Madinah oleh Darmawati Madjid. Lalu, ada kisah Berburu Kupu-Kupu dari S. Gegge Mappangewa yang turut memperkenalkan salah satu tempat wisata di Sulawesi Selatan, Bantimurung. Tempat tersebut terkenal akan keindahan ragam kupu-kupunya.

Nilai tambah buku yang berukuran 18 x 23 cm ini juga dilihat dari segi pemilihan diksinya. Beberapa penulis menggunakan kata baru yang masih kurang populer.Di antaranya, kata menghidu yang berarti membau dan bubungan yang berarti atap atau pucuk rumah sehingga mampu menambah perbendaharaan kosa kata pembaca. Setiap cerita pun dilengkapi dengan ilustrasi yang membuat buku ini semakin menarik.

Dari segala keunggulan buku, tentu tidak luput dari kekurangan. Masih ada beberapa kata yang salah penulisan. Seperti tulisan “kehadiarn uli” pada cerita Satu Untuk Semua oleh Hastira Soekardi, halaman 38 yang semestinya ditulis “kehadiran Ruli”. Sama halnya dalam cerita Han dan Mr. Kecoa karya Ulfah Raihan terdapat kesalahan tulis “Mr. Han” yang seharusnya adalah “Mr. Kecoa dan “mengernyitkan dari” yang sebenarnya adalah “mengernyitkan dahi” pada halaman 54.

Meski buku ini terbit dengan tujuan menghibur anak-anak korban bencana alam, bukan berarti buku ini hanya cocok dibaca oleh mereka.Namun, buku ini juga sangat cocok dibaca dan dinikmati oleh semua kalangan untuk membangun jiwa dan pikiran yang positif. Selamat membaca.

Data Buku

Judul               : Memetik Keberanian, Kumpulan Cerita Anak

Penerbit           : Gora Pustaka Indonesia

Halaman          : 140 halaman

Tahun Terbit    : 2019

Muflihatul Awaliyah

BACA JUGA