Follow

Dendam untuk Para Sarjana

Editor: Ayu Lestari | Rabu, 05 September 2018 - 11:41 Wita | 513 Views
ilustrasi : Muh Nawir

Satu per satu wisudawan memasuki Gelanggang Olahraga (GOR) Unhas. Para keluarganya menunggu di luar gedung, menyambut putra-putri mereka yang baru saja meraih kemenangannya. Menjadi wisudawan dengan gelar baru, sarjana dan alumni. Tak hanya keluarga, para sahabat dan teman-temannya pun menunggu untuk merayakan hari bahagia itu. Seperti juga aku yang menunggu keluarnya Ayi dari sekumpulan orang-orang yang mengenakan toga itu.

Aku mengamati diam-diam ekspresi bahagia yang terpancar dari setiap orang yang memakai toga. Mereka disambut gembira oleh keluarga dan teman-temannya. Poster-poster selamat yang menampilkan foto dan nama mereka terpampang di mana-mana. Betapa irinya hatiku melihat sekumpulan orang-orang itu. Sialnya lagi, aku tak bisa lari dari sini. Keadaan memaksaku harus datang ke tempat ini, memberi selamat untuk sahabatku, Ayi.

Aku mencari-cari keberadaan Ayi. Sudah setengah jam aku berdiri menunggu di tempat yang telah disepakati, namun ia tak kunjung datang jua. Aku menelponnya berkali-kali. Sial, telponnya sedang tidak aktif. Ahh.. Ayi, kemana dirimu? Aku sudah ingin lari dari tempat ini. Tempat ini terlalu menyakitkan bagi orang gagal sepertiku.

Kunamai diriku sebagai orang gagal. Gagal mengambil hati Pembimbing Akademikku (PA). Karenanya, aku tak bisa menyelesaikan seminar akhir yang tinggal sedikit lagi. Hingga pada akhirnya, selama hampir 7 tahun berkuliah, aku harus menerima Surat Keputusan Rektor berisi pernyataan Drop Out.

PA-ku memang tak bisa merubah keputusannya untuk meluluskanku pada mata kuliahnya sendiri. Ia berang, karena masih ada dua mata kuliah yang belum kuselesaikan. Aku meminta untuk tutup strata mata kuliah itu, namun ia tetap bersikeras tidak meloloskanku.

Pembimbing akademikku memang dikenal sebagai dosen killer, ia terlalu bapakisme dalam mengajar. Tak bisa dibantah pendapatnya. Sedangkan aku tak bisa menerima ilmu yang disampaikan dosen-dosen begitu saja. Kebanyakan mereka terlalu mendoktrin dengan teori-teori yang dipahaminya. Karenanya, aku dianggap pembangkang. Hingga sebagian dari mereka kadang kali tak meloloskanku di mata kuliahnya.

Pakkk… seseorang tengah memukul punggungku dari belakang. Sontak aku kaget. Gila, si Riri, adik kelasku yang paling cerewet. Ia pasti mengolok-olokku karena belum juga wisuda di semester ini. Ia memang belum tahu kalau sebenarnya Unhas sudah mengeluarkanku dari sini.

“Halo kak! Baik-baik jaki?” katanya sambil ketawa. Kampret, ia memang paling hobi menyindirku. Ingin kujitak kepalanya. Tapi kali ini ia beruntung, ibunya sedang bersamanya. Aku hanya tersenyum membalas pertanyaannya. “Wahh Riri. Wisudawan terbaik dih? Selamat nah!” kataku dengan nada yang gembira. Padahal itu hanya kamuflase. Aku harus tegar di depan adik kelasku ini. “Iya dong kak,” katanya. Ia lalu mengajakku berfoto. Sumpah! Ini hal yang paling kubenci seumur hidup, berfoto dengan wisudawan. Tapi yah sudah, ikutin aja deh si cerewet ini. Aku sudah malas melihat mukanya.

Aku kembali menelpon Ayi. Lagi-lagi nomornya tidak aktif. Bikin naik pitam saja itu anak. Dia sendiri yang bilang tadi, bakal menemuiku setelah wisuda. Aku curiga, jangan-jangan ia sedang berlama-lama dengan calon tunangannya, atau berfoto bersama teman-teman yang lainnya. Ahh, kujitak nanti kepalanya kalau ketemu.

Setelah menunggu lebih dari satu jam, aku akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah. Aku berharap semoga saja tidak bertemu dengan wisudawan yang lainnya. Mereka seperti belati yang mencincang hatiku dengan kalap. Di antara buku-buku dan kopi hangat, aku menuntaskan segala kesedihan hari ini. Aku berpikir untuk kembali memulai usaha perikananku. Usaha yang pernah dibanggakan dosen-dosen itu di depan para adik kelasku yang kini menyandang gelar sarjana. Aku bersumpah! Aku pasti bisa mempekerjakan mereka di perusahaanku nanti. Aku akan menjadi bos untuk para orang-orang yang bergelar sarjana perikanan itu. Anggap saja ini sebagai pembalasan dendam terbaikku.

 

Penulis : Ayura

Mahasiswa Perikanan Unhas.

 

 

BACA JUGA