© Copyright Identitas 2020
 

Diam dan Dengarkan: Menyadari Keterpautan Diri dengan Alam Semesta

Mengisolasi diri di rumah menjadi sebuah keharusan di tengah pandemi saat ini. Namun, bagi sebagian orang kebiasaan tersebut bukan hal mudah, apalagi jika mereka menyukai aktivitas di luar rumah dan keramaian. Bukan hal yang mustahil jika kegiatan ini menjadikan orang jenuh dan bosan.

Agar terhindar dari kejenuhan ada banyak hal yang dapat kita lakukan, seperti menonton film dokumenter. Sebuah film berjudul “Diam dan Dengarkan” menjadi salah satu film dokumenter yang sangat direkomendasikan untuk ditonton di masa pandemi sekarang.

Diam dan Dengarkan adalah sebuah film dokumenter yang lahir dari perenungan di masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Ceritanya dimulai saat bumi terbentuk hingga hari ini dan bagaimana bumi menyikapi setiap kondisi yang terjadi.

Film garapan rumah produksi Anatman Pictures ini dirilis pada 27 Juni 2020 lalu, dan bisa ditonton secara gratis di YouTube.

Pengerjaan film dokumenter tersebut dilakukan saat masa pandemi sehingga tidak dapat syuting ke mana-mana. Ini membuat Anatman Pictures harus menyiasatinya dengan memakai footage public domain, creative common, dan asas fair use, dengan tetap memperhatikan hak cipta karya.

Untuk pemilihan narasumber, Anatman Pictures meminta bantuan praktisi kesehatan holistik Reza Gunawan dan pendiri Burgreens, Max Mandians. Mereka diwawancara secara daring melalui via Zoom.

Film yang juga disebut sebagai serial “Heal The World” ini terdiri dari enam segmen dan berdurasi 1 jam 26 menit 14 detik. Dengan menonton film tersebut akan membuat kita memutar ulang memori dan menyadari apa saja yang telah manusia lakukan terhadap bumi, sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan dan kepunahan spesies lainnya.

Pada segmen pertama, menyajikan sepenggal video berjudul “Kiamat yang Tak Terhindarkan” dengan narator aktris Christine Hakim. Bagian tersebut diceritakan perjalanan kehidupan manusia yang mengeksploitasi bumi sejak 12.000 tahun yang lalu.

Di segmen kedua, Dennis Adhiswara menjadi narator pada video berjudul “Mens Sana In Corpore Sano”. Segmen ini dijelaskan korelasi antara kesehatan mental dan kesehatan raga yang sesungguhnya sangat erat kaitannya.

Kemudian dilanjutkan dengan segmen ketiga berjudul “Kerajaan Plastik” dengan narator Arifin Putra. Di bagian ini, narator mengajak kita untuk memikirkan tentang dampak yang ditimbulkan oleh sampah plastik dan cara mengatasinya.

Cerita terus bergulir hingga segmen keempat yang dinaratori oleh Eva Celia. Segmen yang berjudul “Air, Sumber (Gaya) Hidup” ini, menjelaskan tentang fungsi air yang identik dengan sumber kehidupan, bergeser menjadi sumber gaya hidup. Tanpa orang sadari, mereka telah mencemari air sebagai sebuah elemen penting kehidupan.

Untuk bagian kelima berjudul “Kehutanan yang Maha Esa”, dinaratori oleh Nadine Alexandra. Pada bagian ini dipaparkan tentang urgensi keanekaragaman hayati dalam kehidupan. Selain itu, juga banyak disinggung mengenai dampak ulah tangan manusia terhadap rusaknya hutan.

Terakhir, segmen keenam berjudul “Samudera Cinta” yang dinaratori oleh Andien Aisyah. Pada segmen ini banyak disinggung tentang hubungan antara tingkat kebahagiaan manusia dengan keberadaan uang. Melalui segmen terakhir tersebut, kita diajak untuk bersyukur atas segala sesuatu yang dimiliki dan diberikan oleh tuhan.

Dari segi visual, film ini menggunakan motion graphic dan infografis untuk membantu penonton agar lebih mudah mencerna informasi. Namun, dari sisi audionya masih perlu ditingkatkan agar production value-nya tetap terjaga. Sound design dan scoring music juga harus tetap diolah sebaik mungkin.

Selain itu, pemilihan gambarnya pun perlu diperbaiki. Misalnya pada segmen tertentu terdapat gambar berbau pornografi, sehingga mereka yang di bawah umur tidak direkomendasikan menonton, padahal tujuan awalnya untuk film edukatif.

Meski demikian, secara umum film ini sangat bagus untuk ditonton. Selain menghibur, juga memberikan kita pengetahuan baru mengenai kehidupan di dunia ini. Film tersebut juga menampilkan fenomena yang ada dan disesuaikan dengan kondisi Indonesia, sehingga berhasil merangkum suara orang-orang yang memperjuangkan lingkungan.

Muh. Fajrul

Data Film:

Narrative By:

Christime Hakim, dkk

Producers:

Tasya Anindita, dkk

Creative Department:

 Fikri, dkk

Sound Engineer and Sfx:

Hari Kurnia

 Created By:

Mahatma Putra

 

No comments

LEAVE A COMMENT