Dobrak Kepercayaan Diri Disabilitas Netra lewat Diskusi

Penyandang disabilitas pada umumnya memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah, mereka kerap kali mendapat perlakuan tidak menyenangkan dalam lingkungan masyarakat. Misalnya dikucilkan dan tidak dihargai keberadaanya. Tak jarang banyak dari mereka yang tidak berani memiliki cita-cita tinggi, bahkan merasa takut untuk berbicara di depan umum.

Melihat fenomena ini, Rizky Yulia Ilmi, mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan angkatan 2017, bersama empat rekannya melakukan sebuah penelitian guna membantu para penyandang tunanetra. Keempat anggota tim yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa ini, yaitu Widya Anggraeny (Ilmu Pemerintahan 2017), Novya Muharrika Izzah Rifai (Ilmu Ekonomi 2017), Raudyatuh Zahra Latif (Psikologi 2017), dan Nur Wahidah (Ilmu Pemerintahaan 2018).

Ilmi, begitu ia disapa, terinspirasi melakukan penelitian ini setelah mengikuti sebuah kajian tentang penyandang disabilitas. Salah satu pembicara yang hadir dalam kegiatan itu merupakan seorang tunanetra.

“Dari situ saya melihat bahwa sebenarnya keterbatasan fisik tidak seharusnya menjadi penghalang bagi para penyandang disabilitas. Saya beserta teman-teman pun memikirkan ide untuk membantu mereka. Kebetulan setelah diskusi dengan salah seorang dosen, ide kami disetujui dan didukung, maka mulai lah kami mencari judulnya,” jelas Ilmi.

Penelitian yang mereka lakukan dimaksudkan untuk membantu meningkatkan keberanian dan membangun kepercayaan diri para penyandang disabilitas tunanetra.

“Biasanya penyandang disabilitas tunanetra itu kurang percaya diri, utamanya perempuan. Nah, di sini kita mau bantu mereka supaya mereka lebih berani dan percaya diri, karena sebenarnya mereka bisa ji melakukan hal-hal seperti yang dilakukan orang-orang normal pada umumnya,” katanya.

Ilmi menjelaskan, penelitian ini menggunakan dua metode, yaitu Love Circle dan Jigsaw. Penelitian ini melibatkan sepuluh orang responden yang berasal dari yayasan Yapti yang dinaungi Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Cabang Sulawesi Selatan. Namun, dalam perjalanannya hanya ada Sembilan responden yang bisa dilibatkan hingga tahap akhir. Satu orang sakit dan harus dipulangkan ke kampung halaman.

Metode Love Circle dilakukan dengan diskusi bersama teman-teman penyandang tunanetra dalam sebuah lingkaran. Kemudian, dilakukan pendekatan dengan mereka terkait kendala yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Hasil diskusi itulah yang menjadi masukan untuk teman-teman tim dalam memilih bahan diskusi untuk pertemuan selanjutnya. Sedangkan metode Jigsaw digunakan sebagai tahap evaluasi dalam setiap pertemuan.

“Metode Jigsaw itu kami jadikan sebagai tahap evaluasi. Misalnya, kita lihat bagaimana perubahan mereka. Metode jigsaw dipilih karena metode ini menuntut peserta untuk lebih aktif dalam sebuah kelompok. Tapi dalam kegiatannya kami tidak menitikberatkan pada objek ke subjek, tapi lebih kepada subjek ke subjek, jadi istilahnya tidak saling menggurui,” jelas Ilmi.

Ilmi juga menerangkan bahwa selama tahap penelitian, dalam setiap pertemuan terlihat perubahan-perubahan kecil, mereka mulai bisa menerima diri sendiri, lebih percaya diri ,dan lebih mudah berbaur. Selama enam pertemuan itu, peneliti menemukan perubahan yang cukup signifikan.

Untuk tahap evalusi sendiri, dilakukan dengan dua metode, pertama melalui wawancara terhadap responden mengenai perkembangan yang mereka rasakan. Kedua, wawancara dari pihak yayasan, apa saja perkembangan yang mereka lihat dari peserta.

Selain itu, perkembangan peserta juga dapat dipantau berdasarkan catatan perkembangan yang dimiliki oleh tim peneliti. “ Jadi selama enam pertemuan ini, kami betul-betul melihat perubahan nya, yang awalnya sangat takut berbicara di depan umum, jadi lebih berani”, jelas Ilmi.

“Selain dari teman-teman peserta dan pihak yayasan, ada juga dari kita sendiri. Jadi kita punya buku yang setiap pertemuan itu kami catat perkembangannya teman-teman peserta,” ungkapnya.

Salah satu kendala yang dihadapi adalah sulitnya mengontrol para peserta ketika beradaptasi dengan lingkungan luar. Namun, hal tersebut mampu diatasi seiring berjalannya waktu.

“Awalnya kami agak kewalahan juga, apalagi ketika harus membawa mereka beraktivitas di luar ruangan, di lingkungan yang sama sekali baru bagi mereka, kami tentunya harus ekstra hati-hati,” jelas Ilmi.

Dalam penelitian yang dilakukan sepanjang April sampai Juni ini, Ilmi bersama keempat rekannya turut didampingi Dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan, Ashar Prawitno S Ip M Si.

Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam bentuk jurnal dan artikel online. Selain itu, ada juga buku panduan cetak, sehingga hasil penelitian ini bisa diterapkan oleh siapa saja.

Kedepannya Ilmi berharap, penelitian ini bisa membantu penyandang disabilitas tunanetra untuk lebih percaya diri. Mereka juga bisa lebih menghargai arti kehidupan dan memiliki pengetahuan laiknya orang normal.

Urwatul Wutsqaa

Written by

urwatulwutsqaa@gmail.com

No comments

LEAVE A COMMENT