Doktor di Usia 25 Tahun

“Mengetahui passionnya sejak awal, menjadikan Qonita sukses menggapai gelar doktor di usia muda”

Meraih gelar doktor tentu tidak mudah dicapai dalam waktu singkat. Apalagi jika kuliah di luar negeri. Namun, alumni Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, Qonita Kurnia Anjani, berhasil menyelesaikan studi S3-nya di Queen’s University Belfast. Di usia yang terbilang masih muda, 25 tahun.

Qonita sapaan akrabnya, mengaku sudah tertarik dengan pengembangan obat-obatan sejak semester satu di Unhas. Saat semester tiga, ia mulai menekuni bidang penelitian tentang teknologi penghantaran obat. Khususnya teknologi yang memungkinkan obat bisa masuk ke dalam kulit. Sejak saat itu, ia kerap mengikuti lomba yang berhubugan dengan penelitian di bidang farmasi. Ia pun pernah menyabet medali emas dalam kompetisi  8th European Exhibition of Creativity and Innovation, tahun 2016.

Wanita kelahiran 1995 ini mengaku, sampai menuangkan ketertatikan itu dalam skripsinya yang banyak membahas tentang gel. Belakangan ia tahu, ternyata di luar negeri sudah dikembangkan teknologi serupa yang lebih praktis, yaitu microneedle. Qonita, menjelaskan, bentuknya seperti patch yang dilengkapi dengan jarum-jarum mikro, yang dapat menghantarkan obat tanpa darah dan rasa sakit.

Dari situ, alumni Peserta Student Exchange Officer untuk Indonesia pada International Pharmaceutical Students Federation (IPSF) ini, mulai membaca jurnal dan referensi tentang microneedle. Ia juga membuat daftar professor yang menekuni bidang tersebut di berbagai belahan dunia. “Saya menghubungi profesor yang ternyata sudah memiliki banyak hak paten dan publikasi, yang berhubungan dengan microneedle. Di situ permintaan saya disambut baik, akhirnya professor itulah yang menjadi dosen pembimbing saya di Queen’s University Belfast” ujarnya.

Perempuan berdarah Palu ini, awalnya terdaftar beasiswa sebagai mahasiswa S2 di Queen’s University Belfast, dengan masa studi dua tahun. Setelah melewati tahap initial review (evaluasi progres penelitian tiga bulan pertama), dosen pembimbingnya di Queen’s University Belfast melihat potensi penelitian yang ia garap, sehingga ia pun didorong lanjut penelitian S3. Pertimbangannya, penelitian yang Qonita garap memenuhi standar untuk program PhD. Awalnya ia menolak, apalagi mengingat beasiswa yang didapatkan hanya dua tahun, sedangkan untuk studi PhD membutuhkan waktu normal minimal 3 tahun.

Waktu itu, alumni Unhas angkatan 2012 tersebut cukup dilematis karena merasa tidak mampu bertahan hidup di luar negeri, dengan tambahan satu tahun tanpa bantuan beasiswa. Apalagi dosen pembimbingnya hanya membantu menanggung uang SPP, tidak biaya hidup Qonita.

Pada akhirnya, perempuan yang pernah aktif di BEM Farmasi ini memutuskan mengikuti ujian diferensiasi terlebih dahulu, semacam ujian sidang tahun pertama untuk PhD yang menjadi batu loncatannya berpindah ke program PhD. Di samping rasa syukur karena bisa lanjut PhD, ia mengaku resah karena perjanjian awal beasiswa yang hanya dua tahun, pengurusan pengalihan itu sempat mengalami kesulitan. Ia juga terkendala masalah visa yang memang validitasnya hanya 2,5 tahun.

Setelah melewati berbagai pertimbangan, akhirnya ia nekat melanjutkan pendidikan dengan sisa waktu yang ada. “Saat itu saya benar-benar mengerahkan segala kemampuan dan tenaga untuk mengejar tenggat waktu yang tersedia. Alhamdulillah, saya dapat selesai dalam waktu dua tahun tiga bulan” ujarnya.

Dalam pendidikan PhD yang dijalani Qonita, penelitian yang diambil berjudul Development of Antibiotic Microneedle Delivery Systems for Tuberculosis Treatment. Berfokus pada pengembangan teknologi microneedle patch untuk obat-obatan tuberkulosis. Qonita menyadari, Indonesia termasuk negara tertinggi ketiga kasus tuberkulosis terbanyak di dunia. Angka kematian juga tinggi karena pasien kadang tidak patuh minum obat, sehingga banyak terapi yang dilakukan gagal. Oleh karena itu, ia berpikir mencari alternatif pengobatan lain dengan mengaplikasikan teknologi microneedle. “Jadi di masa yang akan datang, diharapkan pasien tersebut dengan penyakit tuberculosis bisa menempelkan patch ke kulit untuk pengobatannya, sebagai ganti dari minum tablet” jelasnya.

Saat ditanya tentang kesan kuliah di luar negeri, wanita yang hobi memasak itu tertawa dan mengatakan bahwa kuliah di luar negeri tidak seindah foto-foto di instagram. Banyak sekali tantangan yang harus dihadapi saat kuliah diluar negeri. Ia mengungkapkan kendala-kendala yang dihadapinya saat kuliah di negeri orang. Mulai dari jauh dari orang tua, cuaca, hingga perbedaan budaya.

Menurut Qonita, saat kuliah di luar negeri sangat penting untuk mendapatkan dukungan dan lingkungan yang baik. Tak lupa, alumni MAN Insan Cendekia Gorontalo tersebut juga membagikan tips dan trik untuk mahasiswa yang ingin mengikuti jejaknya berkuliah hingga di luar negeri. Menurutnya, hal paling utama yaitu berdoa, berusaha semaksimal mungkin dan mengerti passion dalam diri. “Passion tidak didapat dengan instan, harus melalui banyak proses hingga mengerti betul apa yang bisa diperjuangkan. Perbanyak pengalaman dengan ikut lomba-lomba, seminar dan lainnya. Banyak-banyak cari masalah, tetapi lebih banyak cari jalan keluarnya,” katanya menyarankan.

Setelah menyelesaikan segala urusannya di Belfast, Qonita berniat menjadi dosen dan peneliti. Sembari menunggu pendaftaran dosen dibuka, ia pun berencana untuk melanjutkan program post Doctoral selama satu tahun.

Anisa Luthfia Basri

Written by

urwatulwutsqaa@gmail.com

No comments

LEAVE A COMMENT