Follow

Dosen Australian National University Bahas Bahaya Mercury di Unhas

Editor: Khintan | Senin, 24 September 2018 - 15:03 Wita | 84 Views
Dosen senior Fenner School of Environment and Society Australian National University (ANU), Dr Sara Beavis, membawakan kuliah umum berjudul "Artisanal Small Scale Gold Mining (ASGM)  : Legacies and Future Opportunities For Students from Faculties of Agriculture, Marine Science and Fisheries, and Forestry". Foto: Madeline Yudith/Identitas.

Dosen senior Fenner School of Environment and Society Australian National University (ANU), Dr Sara Beavis, membawakan kuliah umum berjudul “Artisanal Small Scale Gold Mining (ASGM)  : Legacies and Future Opportunities For Students from Faculties of Agriculture, Marine Science and Fisheries, and Forestry”. Kegiatan yang dihadiri mahasiswa  S1 dan S2 dari fakultas pertanian,  perikanan, dan kehutanan ini berlangsung di Ruang Rapat A LT4 Gedung Rektorat Unhas.

Pada kesempatan ini, Sara, seorang engineering geologist, peduli pada keadaan tambang emas di Indonesia. Sara memulai kuliah umumnya dengan menunjukkan data terkini terkait keadaan tambang emas di Indonesia.

“Saat ini,  sudah ada 500.000 tambang emas skala kecil yang aktif beroperasi dengan hasil tambang 62,5 ton per tahunnya,”katanya, Senin (24/9).

Hasil tambang dengan jumlah fantastis ini merupakan dampak penggunaan mercury (Hg) dalam jumlah yang cukup besar. Secara regional,  sekitar 156 ton mercury digunakan pertahunnya untuk mendapatkan hasil tambang yang lebih banyak dengan waktu singkat.

Penggunaan zat beracun ini memberikan efek negatif pada area tambang. Tanah yang terkontaminasi mengalami perubahan struktur akibat aktivitas pertambangan yang tidak sehat ini.

“Kita harus memikirkan apa yang akan kita lakukan untuk memecahkan masalah ini, to improve the landscape,”ucap Sara.

Lebih lanjut, dosen pecinta ilmu alam tersebut mengharapkan adanya peningkatan kesadaran seberapa beracunnya zat mercury pada area pertambangan. Kemudian, ia juga mengajak kita untuk melihat kesempatan apa yang ada untuk memperbaiki alam yang sudah rusak.

Madeline Yudith

BACA JUGA