Dosen Unhas Mengembangkan ZECC, ‘Kulkas’ Penyimpanan Tanpa Listrik

Inovasi tanpa listrik, menjaga mutu buah dan sayur tetap layak konsumsi sampai lima hari.

Pascapanen, sangat penting bagi petani untuk mempertahankan kualitas buah dan sayur, sehingga mendapatkan nilai jual yang tinggi. Namun fasilitas penyimpanan dingin petani di Indonesia masih sangat minim. Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia mencatat, produksi pertanian di Indonesia mengalami penyusutan sekitar 40 persen pertahunnya. Hal ini disebabkan oleh tidak layaknya penyimpanan dan penanganan produk pertanian.

Oleh karenanya, Dosen Fakultas Pertanian Unhas, Andi Dirpan STP M Si PhD melakukan pengembangan Zero Energy Cool Chamber (ZECC), yaitu teknologi penyimpanan yang tidak memerlukan listrik dan ramah lingkungan. Ia menceritakan teknologi ini didapat saat melanjutkan kuliah doktor di Jepang. Bedanya, Andi Dirpan melakukan modifikasi dengan sistem irigasi (pengairan) secara otomatis, juga mengatakan teknologi ini belum diterapkan di Indonesia.

“Dalam hasil studi literatur tidak ditemukan informasi penggunaan ZECC untuk menyimpan produk hasil pertanian di Indonesia khususnya Sulawesi Selatan. Maka dari itu, ZECC perlu dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan dan kemandirian energi di Indonesia,” tuturnya Rabu (02/09).

Selain tidak menggunakan tenaga listrik, sistem penyimpanan ini menggunakan bahan yang mudah ditemukan, seperti batu bata, pasir, plastik dan air. Saat melakukan pengujian, Andi Dirpan melibatkan Prof Dr Ir Hj Mulyati M Tahir, MS dan Muhammad Tahir Sapsal STP M Si yang juga dosen Pertanian Unhas. ZECC dibuat di halaman belakang rumah Andi Dirpan, di Kompleks Unhas Baraya Blk. G. 9.

Pembuatan ZECC dimulai dengan membangun fondasi dan dinding menggunakan batu bata, bentuk dan ukurannya disesuaikan dengan volume penyimpanan yang dibutuhkan. Dinding dibangun ganda untuk membuat rongga yang diisi dengan pasir. Kemudian, membingkai fondasi dengan kayu dan menutupnya dengan plastik. Hal ini dilakukan agar udara dingin yang ada di dalam tetap terjaga.

Selanjutnya untuk menyimpan buah dan sayur hasil panen, terlebih dahulu  disimpan dalam peti atau keranjang plastik agar terlihat rapih. ZECC bekerja dengan menguapkan air dari permukaan untuk menghilangkan panas dan menciptakan efek pendinginan yang dapat meningkatkan umur simpan hasil panen. Teknologi ini bisa dibuat dalam ukuran besar, sehingga cocok untuk petani dengan jumlah produksi besar.

Setelah dilakukan percobaan, mangga dan tomat memiliki permukaan kulit yang tetap halus dan tidak tumbuh jamur di permukaan kulit.

Dalam penelitian yang menggunakan mangga dan tomat dan membandingkan lama penyimpanan pada ZECC, suhu ruangan dan kulkas. Kedua bahan percobaan ini dipilih karena mudah untuk mendekteksi perubahan yang terjadi, baik dari bentuk fisik maupun mikroba (organisme berukuran sangat kecil) yang tumbuh. Pengujian dilakukan selama delapan hari.

Pada ZECC, bahan percobaan memiliki permukaan kulit yang halus, perubahan warna tidak begitu mencolok kurangnya bintik lentisel (bintik-bintik berbentuk lensa), serta tidak tumbuh jamur di permukaan kulit. Sedangkan pada suhu ruang, permukaan kulit lebih kasar (keriput), perubahan warna kulit sedikit mencolok, bintik lentisel mulai muncul pada hari ke-5 penyimpanan, serta tumbuh jamur pada sebagian sampel mangga.

Sementara itu, penyimpanan pada kulkas, mempunyai hasil yang kurang lebih sama dengan ZECC. Namun, pada akhir penyimpanan, objek menunjukkan adanya pertumbuhan jamur dan tekstur menjadi berkerut karena kelembapan yang terlalu tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa penyimpanan dengan metode ZECC baik untuk memperpanjang umur simpan buah dan sayur.

Meskipun tidak ada kendala, hasil penelitian ZECC masih belum diperkenalkan ke masyarakat, karena masih dalam tahap pengembangan. Andi Dirpan menuturkan kajian ini dimungkinkan akan dilakukan uji coba dalam lima tahun mendatang di perkebunan pisang dan tomat kabupaten Pinrang, termaksud melakukan pengujian pada musim hujan.

“Masih belum menyosialisasikan ke masyarakat meski penelitian ini sudah jalan 3 tahun. Mungkin 5 tahun sudah bisa diuji coba. Kedepannya akan menggunakan sampel cabe kecil. Sekarang proses pengairannya sudah otomatis jadi akan terus dilakukan pengembangan,” jelasnya

Andi Dirpan berharap penelitiannya bisa memperpanjang masa simpan produk hasil pertanian, terutama daerah Sulawesi Selatan sehingga bisa diterapkan oleh masyarakat khususya lokasi yang sulit terjangkau listrik.

Muh Rifqi Al Farizi

Share Post
Written by

aris4lar@gmail.com

No comments

LEAVE A COMMENT