Follow

dr Syafri, Direktur RS Unhas Sukses dari Manajemen Waktu

Editor: admin | Selasa, 04 Desember 2018 - 14:49 Wita | 89 Views
Foto: identitas/Santika

“Saat itu, saya akan memberikan pelayanan sebagai dokter anastesi di ruang operasi, Ketika akan membius ternyata orang tersebut adalah guru SMA saya. Suatu kesyukuran, bisa memberikan pelayanan yang terbaik. Senang rasanya bisa berkontribsusi pada orang yang sudah berkontribusi kepada diri kita,” katanya bersungguh-sungguh.

Sepenggal cerita di atas, dikisahkan Dr dr Syafri K Arif Sp An KIC KAKV sesaat ketika ditanya pengalaman tak terlupakan selama menjadi dokter. Ia dengan cepat melempar ingatannya waktu menjalankan tugasnya, sebagai dokter anastesi, dan bertemu dengan gurunya di ruang operasi.

Melakoni dua profesi sebagai dosen sekaligus dokter, Syafri, begitu ia disapa, merupakan tantangan besar. Bukan hanya bagi dirinya, tapi juga teman sejawatnya di Fakultas Kedokteran (FK) Unhas. Pekerjaan itu menuntutnya untuk bekerja ekstra, guna menghasilkan dokter yang terampil di bidang kesehatan serta berahlak mulia.

“Menjadikan anak didik kita, dokter sekaligus dosen, itu luar biasa. Di situlah cerminan keberhasilan didikan kita,” ujarnya.

Baginya, perlu cara-cara luar biasa untuk mendapatkan sesuatu yang besar. Seakan prinsip itu seperti jimat yang mengantarkannya menjajaki karir selama 23 tahun belakangan ini.

Rutinitas super sibuk, serta posisi sebagai Direktur Utama Rumah Sakit, yang terbilang baru dijabatnya, membuat ia harus terlibat dengan berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan visi misi rumah sakit Unhas.

Namun jangan salah, seabrek kesibukan itu, tak menjadi alasan dokter ahli di bidang anastesi ini lalai menjalankan kewajibannya sebagai pendidik. Syafri sadar persoalan mengajar harus tetap didahulukan. Sebab bagaimanapun juga, jabatan yang diembannya kini tak lain hanyalah tugas tambahan.

Tak heran, bila Syafri enggan memindahkan jadwal mengajarnya, sekalipun ada kegiatan penting bersamaan yang musti dikerjakan. Syafri memiliki keyakinan, ketika dosen terbiasa menunda pembelajaran di kelas, maka di waktu berikutnya, ia akan kesulitan mendapatkan jadwal tepat dengan mahasiswa lagi.

Sosoknya sebagai pekerja keras, telaten juga berwibawa, dapat dilihat dari posisi yang pernah diembannya hingga saat ini. Beberapa diantaranya, Ketua Program Studi Anastesi FK Unhas sekaligus Direktur Pelayanan dan Penunjang Rumah Sakit Unhas tahun 2010, Wakil Dekan II Bidang Perencanaan dan Keuangan FK Unhas tahun 2014.

Tak hanya itu, ia juga pernah dipercaya jadi Kepala Instalasi Perawatan Intensive RS Wahiddin Sudirohusodo, serta Koordinator Sistem Emergensi dan Traumatologi FK Unhas. Jabatan organisasi lain pun tak luput dari kehadiran namanya, yaitu sebagai Ketua Perhimpunan Dokter Anastesi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, serta Wakil Ketua Umum Perhimpunan Dokter Icu Indonesia.

Memang, Syafri sudah unggul di masa mahasiswanya di tahun 1985. Tujuh tahun lamanya mengenyam pendidikan S1, ia pernah mendapat penghargaan sebagai mahasiswa teladan.

“Dulu saya Ketua angkatan Fakultas Kedokteran, di masa mahasiswa, saya juga anggota BPM mewakili angkatan dan tergabung di organisasi ekstra kampus yaitu HMI komisariat FK. Tahun 1989 saya mendapat penghargaan sebagai mahasiswa teladan,” ungkitnya sambil mengenang masa pendidikannya itu.

Laki-laki yang mengidolakan tokoh presiden pertama Indonesia ini, Lahir dan besar dengan didikan kedua orang tua, ibu yang merupakan seorang guru SMA serta ayah yang bekerja sebagai wiraswasta. Patut diacungi jempol, keberhasilannya menjejaki keterampilan di dunia medis, ada pada manajemen waktunya yang baik. Bagaimana mengatur waktu seefisien dan seefektif mungkin. Ia mengatakan semua orang perlu belajar mengatur waktu, karena masing-masing orang punya kesibukan tersendiri.

Seperti kata pepatah “sambil menyelam minum air”, begitulah yang dilakukan lelaki yang hobi bersepeda ini. Terkadang ia harus menjalankan rutinitasnya secara berbarengan. Misalnya, waktu membimbing mahasiswa dilakukannya sambil menyelesaikan pekerjaannya sebagai direktur utama di Rumah Sakit Unhas.

Saat ini, Syafri berkeinginan di bulan Januari 2019 akan membuka program pelayanan fertili septi atau program bayi tabung bagi orang-orang yang susah memiliki keturunan. Hal tersebut tak lepas dari visinya, memusatkan segala keunggulan terkait dengan kesehatan di Rumah Sakit Unhas. Apalagi Unhas khususnya rumpun kesehatan melahirkan banyak SDM kesehatan.

Ia juga berkeinginan memadukan, dan mendukung semua keluaran rumpun kesehatan seperti kedokteran, spesialis, fisioterapi, FKM, psikologi, dan keperawatan. Lalu, menjadikan Rumah Sakit Unhas sebagai wahana dalam menunjang pendidikan mereka. Apalagi Rumah Sakit Unhas saat ini sudah menyandang akreditasi B, terkhusus pendidikan utamanya pada pelayanan.

Syafri mengatakan, tantangan selama jadi direktur utama ialah bagaimana mengoptimalkan rumah sakit yang telah dibangun dengan dana yang besar, bagaimana agar dosen bisa bekerja, aktif, dan betah bertugas di Rumah Sakit Unhas untuk memberikan pendidikan, dan pelayanan.

Ia pun mengharapkan, agar ke depan mahasiswa dapat menerima tantangan. “Kompetitor luar biasa ketat sekarang. Dosen juga begitu, paling besar tuntutannya adalah penelitian dan publikasi,” tuturnya.

Reporter: Andi Ningsi

BACA JUGA