Follow

Drg Eka Erwansyah, Bekerja dan Melayani Sepenuh Hati

Editor: admin | Rabu, 21 November 2018 - 19:38 Wita | 198 Views
Foto: identitas/Arisal

“Memberikan manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri”

            Prinsip kemanusiaan di atas merupakan pegangan hidup pria yang lahir, dan besar di Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat. Dr drg Eka Erwansyah MKes SpOrt sebelumnya tak pernah berniat menjalani profesi sebagai dosen dan dokter gigi. Takdirlah yang membawanya menekuni profesi tersebut. Malah ia bercita-cita menjadi seorang tentara gagah berani.

Eka yang kini menjabat sebagai Ketua Departemen Ortodonsi FKG Unhas, menghabiskan masa SMA di Sumbawa, lalu melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Unhas tahun 1989. Selama masa studi, Eka sempat drop. Tahun kedua dan ketiga, ia kehilangan arah juga motivasi belajar. Namun semua itu dapat dilaluinya secara perlahan.

Pria kelahiran Sumbawa Besar, 28 Desember 1970 ini, mulai mencari semangat dan jati diri di lembaga kampus. Eka mulai mengasah kemampuan berorganisasi dengan berbaur di Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat FKG, hingga menjadi ketua Badan Eksekutif Mahasiswa FKG Unhas tahun 1993-1994. Lalu di tahun 1995, Eka ditunjuk jadi ketua Pelaksana Pertemuan Ketua BEM Nasional.

Semasa kuliah, Eka yang juga kini sebagai Konsultan di PT Telkom merasakan betapa sangat kentalnya jiwa sosial juga sukarelawan para mahasiswa di FKG Unhas saat itu. Tiap tahunnya akan ada kegiatan pengabdian masyarakat, berupa bakti sosial yang dilaksanakan minimal tiga kali dalam setahun. Mereka bahkan melakukan bakti sosial sampai ke Papua.

Pengalaman sembilan tahun berstatus mahasiswa, tujuh tahun kuliah, plus dua tahun jadi dokter Koas, selama itu pula banyak tuntutan yang lahir dari dirinya. Eka melihat FKG saat itu belum dikembangkan dengan baik. Akhirnya Eka merasa perlu ikut andil.

Walau di awal dirasanya, dunia mengajar bukanlah sesuatu yang menarik. Mengajar bahkan adalah proses yang membosankan baginya. Namun demi mewujudkan tuntutan–tuntuannya selama jadi mahasiswa, dorongan kuat untuk terlibat langsung dalam dunia akademik sebagai pengajar di awal tahun 2000-an disanggupinya.

Metode yang dipakai ketika mengajar adalah memberikan rasa santai  kepada mahasiswanya. Di kelas, Eka tergolong kelompok pengajar yang bersuara nyaring. Senantiasa memperlihatkan antusiasnya yang tinggi ketika mengajar. Ia berusaha menanamkan kepada mereka, betapa belajar adalah suatu kegiatan yang menyenangkan.

Menjadi ketua departemen, menunjukkan bahwa Eka memiliki jiwa empati yang tinggi.Waktu senggangnya dicurahkan untuk mengenal lebih jauh mahasiswanya. Mendalami kebutuhan mereka dalam pembelajaran. Tak hanya itu, ia juga selalu siap membantu anak bimbingannya, saat ada kendala selama proses studi.

Seperti di Tahun 2017, Eka harus menerima laporan bahwa terdapat 118 mahasiswa FKG yang sudah berada di ambang masa drop out. Di antara mereka terdapat mahasiswa angkatan 2012 dan 2014. Ini adalah masalah yang harus diselesaikannya, supaya tidak menimbulkan gejolak dan mempengaruhi akreditasi Fakultas.

Kemampuan Eka bekerja cepat di awal tahun 2017, sehingga per 31 Desember, ia berhasil mengurangi angka drop out. Sisa 18 mahasiswa yang belum di wisuda.

“Namun ada juga cerita sedih ketika ada mahasiwa yang tidak selesai. Sebagai dosen sudah maksimal memfasilitasi bagi mahasiswa untuk selesai. Namun terdapat mahasiwa yang tidak bergerak sama sekali untuk menyelesaikan studinya,” katanya kepada reporter identitas.

Salah satu konsultan rubrik tanya jawab Koran Tribun ini juga berpesan kepada mahasiswa, agar kiranya tidak seharusnya kita cepat berpuas diri saat telah selesai menjalani pendidikan.

“Pesan saya untuk mahasiwa Unhas, mahasiswa  harus memiliki motivasi, harus kuat dan menjadi agent of change bagi lingkungan sekitarnya,” jelasnya.

Cerita lain di balik sosoknya sebagai pengajar, Eka juga merupakan relawan kemanusiaan. Saat terjadi gempa bumi di Palu dan Donggala, Eka turut serta menjadi relawan di Tim Relawan DVI  Unhas. Ketua perhimpunan dokter gigi cabang Makassar ini menganggap dirinya harus terlibat langsung sebagai relawan gempa.

Eka sangat menjunjung tinggi prinsip kemanusiaan, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. “Memberikan manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri,” tuturnya.

Reporter: Muh Saleh

BACA JUGA