Follow

EFEK

Editor: Fatyan | Senin, 11 November 2019 - 14:11 Wita | 204 Views
ilustrasi: riauaktual.com

Tingginya tingkat kemiskinan dipengaruhi oleh kehadiran disabilitas.

Aku menyambar surat kabar yang sejak tadi di atas meja. Aku sudah mengetahui keberadaannya, hanya saja banyak hal di kepala yang memaksaku kehilangan fokus. Setelah berhasil mengalahkan kecamuk di batin, mataku secara otomatis membaca judul koran lokal hari ini.

Disabilitas atau difabel selalu menjadi bahan pembicaraan yang menarik. Topik ini selalu membuatku teringat dengan seorang tunanetra low vision yang hanya bisa melihat benda-benda dengan jarak setengah meter di depannya. Dia pernah memaksa masuk ke universitas tempatku bekerja sepuluh tahun yang lalu. Harus kuakui meski difabel, dia sangat cerdas berlogika dan berbicara. Dia sudah mampu mengubah pemahamanku tentang penggunaan istilah disabilitas dan difabel yang mana dalam KBBI keduanya tak layak digunakan. Maka diambillah kemudian dari disability dan different ability dan dipandang makna difabel lebih tepat karena merujuk pada perbedaan kemampuan dan bukan ketidakmampuan. Sayangnya hal tersebut tetap tak mampu membuat keputusanku berubah.

Rasanya masih seperti kemarin saat seorang gadis usia 19 tahun datang ke universitas meminta izin dengan baik-baik masuk ke jurusan psikologi yang mana merupakan salah satu pijakan baginya mengejar mimpi sebagai seorang psikolog. Dia datang dengan pakaian rapi dan rambut dipotong pendek serta ditemani oleh Ayahnya, pedagang makanan lulusan sekolah pertama.

“Kamu memang cerdas, tapi maaf, Nak Dini, kampus ini tidak menyediakan fasilitas bagi difabel, apalagi tunanetra. Meski nilai-nilaimu sangat baik, Bapak takut kamu belum bisa sejalan dengan sistem kampus kita. Apalagi belum ada difabel yang pernah kami terima sebelumnya.”

“Kalau begitu kapan sistem kampus ini bisa layak untuk difabel, Pak?” tanyanya dengan suara tenang seakan penolakan sudah selalu didapatkan.

“Kalau itu Bapak belum tahu, tapi kami mengupayakan segera menjadikan kampus ini layak difabel.”

“Sembari menunggu kampus ini layak difabel, saya belum bisa meraih hak berpendidikan saya?”
“Bukan begitu, kan masih ada kampus lain.”

“Ada alasan kenapa saya masuk ke kampus swasta alih-alih masuk PTN yang menjadi cita-cita semua siswa.”

Sejujurnya aku sudah mendengar. Dia anak yang dibicarakan di salah satu kolom kecil surat kabar lantaran membuat keributan saat lulus di perguruan tinggi negeri, tapi pihak kampus enggan menerima dengan alasan fasilitas. Tentu saja sebagai rektor pun itu keadaan yang harus kupertimbangkan dengan baik. Jika terjadi masalah dengannya lantaran tak mampu mengikuti sistem, pada akhirnya nama universitas yang harus terbawa, aku yang bertanggung jawab.

“Nak, kamu cantik. Kudengar sudah punya pacar juga. Bagaimana kalau menikah saja? Kuliah kadang hanya buang-buang uang apalagi di universitas swasta. Kasihan Bapakmu.”

Seketika wajahnya merah padam. Dia berdiri dan keluar dari ruangan. Pasti tersinggung. Melihat karakter gigih dan cara bicaranya dia bukan hanya pejuang difabel, tapi juga pejuang perempuan. Ucapanku memang agak kejam, tapi bertujuan baik. Aku hanya ingin membuatnya realistis bahwa menjadi perempuan cantik adalah salah satu kelebihan yang bisa dia gunakan. Harusnya dia fokus saja mempersiapkan diri menjadi seorang istri; mempercantik dan memperahli diri di rumah.

“Pak, Dini itu pernah menganggur sekolah setahun lantaran di kampung tidak ada Sekolah Luar Biasa dan sekolah negeri menolaknya.”

Aku hampir lupa bahwa sang Bapak masih duduk tenang di depanku. Sejak awal kehadirannya hampir tidak terasa entah karena putrinya sangat mencolok atau dia yang terlalu pendiam.

“Saya dan keluarga yang berpendidikan rendah berusaha membujuknya menyerah, tapi suatu hari dia pernah bertanya bahwa di Undang-Undang Dasar kita, setiap orang berhak untuk berpendidikan, tapi kenapa semua mengecualikan dirinya? Saat itu saya mencoba memahami bahwa penolakan pendidikan yang didapat putri saya bukan hanya membuatnya kehilangan hak berpendidikannya, tapi juga dia kehilangan harga dirinya sebagai manusia.”

Air mata lelaki separuh baya itu meluncur. Baru kali itu aku melihat raut sedih dan air mata yang mampu dikeluarkan oleh seorang lelaki, tapi sayangnya tak mampu mengubah cara pikirku hingga beberapa tahun ke depan.
Akhirnya Dini tetap tertolak. Aku tidak tahu dan merasa tidak ingin tahu ke mana dia menempuh pendidikan, tapi di model pendidikan sepuluh tahun lalu rasanya sangat sulit menemukan universitas yang menerimanya.
“Bapaknya Randi?”

Seorang wanita muda mendatangiku dan mengusaikan cerita masa lalu. Aku ingat wanita itu. Dia wali kelas Randi, anak tunggalku. Dia yang memanggilku datang ke sekolah untuk membahas masalah perundungan yang dialami Randi.

“Keadaan Randi sekarang bagaimana, Pak?”

“Dia tidak pernah baik sejak kecelakaan tiga tahun lalu.”

“Tentu saja hal yang berat bagi anak semuda itu kehilangan penglihatannya.”

Aku tersenyum miring menjawabnya. Tulisan mencolok di koran masih saja menarik perhatianku sehingga penjelasan wanita itu tentang kronologi perundungan berbentuk kekerasan yang dialami oleh Randi tak ada satupun yang masuk di kepala.

“Menurut Ibu, kenapa kemiskinan dikaitkan dengan kehadiran disabilitas?”

“Hah?” Wanita itu sangat bingung dengan pertanyaan tiba-tiba. Tapi dia berusaha menjawab untuk menjaga sopan santun dan hubungan antar orang tua siswa. “Sepertinya karena banyak disabilitas yang kurang pendidikan dan tidak bekerja sehingga menambah tingkat pengangguran dan menjadi salah satu dari kemiskinan itu sendiri.”

Jawabannya mirip seperti isi tulisan di koran, tapi aku memilih jawabanku sendiri. “Karena dia tidak diberi kesempatan untuk unjuk diri lantaran orang-orang terlalu sibuk memandangnya tidak mampu.”

Penulis: 

Thania Novita

Mahasiswa Prodi Hukum Administrasi Negara

Fakultas Hukum

Angkatan 2016

BACA JUGA