Follow

Gadis Pagi Itu

Editor: Ayu Lestari | Selasa, 14 Januari 2020 - 09:08 Wita | 247 Views
Ilustrasi Cerpen Identitas/Finsensius, Wandi Janwar

Pagi selalu menjadi lukisan hidup terindah di awal hari. Mentari mulai meninggi sehingga kain merah dibuka perlahan. Lelaki tua berkaca mata itu melangkah menuju pintu. Tangannya meraih papan penanda lalu membalikkannya. Dia menatap pemandangan luar sambil menghembuskan napas berat.

Orang-orang berlalu-lalang. Mereka mengejar mimpi atau membereskan beberapa urusan, kupikir begitu. Di seberang jalan sana gadis itu bergegas lari ke mini market. Beberapa detik kemudian dia keluar membawa sekaleng minuman lalu duduk di deretan meja pelataran. Sepedanya diparkir dekat tiang lampu jalan. Iya, aku hapal betul gerak-geriknya.

Gadis itu usai dari keliling kota menyebar koran saat orang-orang masih terlelap. Dia mengusap-usap tangannya. Udara hangat dibuangnya perlahan. Aku tersenyum memperhatikan wajah tangguh di balik kelembutannya. Dia memandang sebuah tempat di seberang. Oh tidak, pandagannya sekilas ke sini. Aku gugup. Kurasakan sesuatu hangat menyengatku.

“Hei, apa kamu memperhatikannya lagi?” suaranya kembali mengusikku.

Aku terdiam.

“Sudah berapa kali kau melakukannya. Tidakkah kau tahu bahwa…,”

“Kau cemburu?!” tangkasku.

“Aku? Cemburu? Yang benar saja. Jangan asal bicara kau. Sadarlah. Justru kau yang gila. Lihat saja! Kau akan menyesal karena gadis itu. Hm, aku punya ide. Bagaimana kalau kita taruhan. Siapa yang berhasil mendapatkannya berarti dialah ksatria yang gagah!”

“Hentikan! Aku tak sudi gadis itu menjadi taruhan!” geramku.

“Kenapa? Kau takut? Hah?!” lawannya. Aku diam seribu bahasa, “Ohya, kau kan benar-benar pengecut!” ucapnya beranjak pergi.

Kalimat itu seperti menghantam dinding kepalaku. Apakah itu benar? Tidak, aku harus membuktikan diri! Semua tatapan seakan menodongku demi terjebak di lembah yang curam. Hei, jangan jadi pecundang!

Keesokannya, aku masih memandang gadis itu dari kejauhan. Dia sedang membaca novel ditemani secangkir kopi hangat. Dia mengenakan sweater biru dan topi rajut berwarna cokelat gelap. Dia tersenyum menikmati petualangan yang dibacanya.

Seorang pria datang menepuk pundaknya dari belakang. Mereka langsung berpelukan melepas rindu terpendam. Posturnya tinggi tegap, matanya cokelat, dan rambutnya sedikit acak-acakan. Mereka larut dalam perbincangan yang hangat. Sesekali terbahak-bahak. Apalagi gadis itu benar-benar bahagia. Menyaksikan semuanya membuatku tersayat.

“Apakah kau sudah jera?” sebuah suara mengalihkanku. Dia lagi…

“Bagaimana pun aku tetap bertahan!”

“HAHAHA…” tawanya begitu lepas menohokku. “Haruskah dia yang kau damba? Masih banyak orang yang lebih baik dari gadis itu. Mengapa kau begitu tertarik padanya? Ada apa denganmu?!”

Aku mengepal lalu berucap tegas, “Aku suka dia. Itu saja!!”

“Wah, wah… sampai kapan kau bertahan? Kau tidak bisa apa-apa, bodoh! Kau harus PASRAH! Gadis itu takkan berpihak padamu!”

Aku menatap wajah bengis itu. Sampai kapan aku bertahan? Tidak, harapanku harus terus mengakar. Tapi, hei mengapa kau terlalu berharap? Tidakkah kau harus merelakannya? Suara-suara itu menggema di sekitarku. Mengapa meski gadis itu?

Pagi terpahit! Pria itu menunggu sendirian di sana. Gelisah. Dia pun berdiri ketika sang gadis datang. Mereka kembali berbincang hangat, lalu beralih pada obrolan serius.

Mimik pria itu kaku. Gerakan tangannya sebagai ketegasan kata yang dilontarkan. Gadis itu tak mau kalah berargumen. Ada kerutan di dahinya. Heran. Mereka berseteru dan suara pria itu semakin meninggi, lalu tiba-tiba sebuah hentakan tangan memukul meja dengan keras. Percakapan itu mendadak berhenti. Gadis itu tersentak, hidungnya merah dengan mata yang berkaca-kaca. Dia bangkit lalu pergi mengayuh sepedanya sekencang mungkin. Perasaannya sangat remuk. Aku yakin air matanya menetes. Ingin sekali aku mengejarnya. Menghapus air mata dan menjadi tumpuan bebannya. Tapi, apa yang bisa aku lakukan? Benar-benar tidak ada!

Pagi berikutnya gadis itu duduk sendirian di sana. Dia baru saja berbicara lewat telepon. Dia menyeruput secangkir kopi hangat perlahan. Dia memandang sekeliling dan aku tertangkap basah ketika asyik memperhatikannya. Ya, dia memperhatikanku seraya melempar senyum. Aku canggung dan sekejap jutaan bahagia menyengat dadaku. Membuatku ingin terbang saat itu juga.

Seketika pandangannya berpaling saat seseorang menyapanya. Seorang perempuan berambut keriting tersenyum, sepertinya umur mereka setara. Dia langsung memeluknya, tubuhnya terguncang. Perempuan itu mengusap lembut punggungnya untuk menenangkan. Sesekali berbisik lalu mengusap air mata gadis itu.

Perempuan itu mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya. Itu secarik undangan. Sepertinya ajakan pesta. Sang gadis mengangguk bahagia. Dia memperhatikan sesuatu di seberang, lalu menarik temannya mengunjungi suatu tempat. Mereka berjalan mendekatiku. Dia memandangku dengan mata yang berbinar. Seakan dia sungguh memahami momen yang telah lama kuimpikan.

Dan benar saja… Akhirnya… pagi ini aku menang! Aku berhasil menaklukkannya!

***

Pagi ini orang-orang bergembira di pesta ulang tahun. Saat penyerahan hadiah, gadis itu memberikan sebuah kotak berwarna marun. Perempuan tua itu menerimanya dengan senang hati.

“Oh, astaga… Apakah ini benar-benar untukku?” ucapnya.

“Ya, tentu. Karena aku tahu kau pengoleksi barang antik,” balas gadis itu.

Sebuah patung ksatria berkuda dipajangnya di atas perapian. “Ini terlihat semakin keren!” terharu perempuan tua itu. Gadis itu ikut tersenyum.

Oh, ada apa ini? Padahal aku begitu mengharapkan gadis itu. Beginikah akhir kejutan pagi bagi hidupku?

***

 

Penulis : Nurhaliza Amir

Jurusan Agroteknologi

Fakultas Pertanian

Angkatan 2018

BACA JUGA