Follow

Hati yang Berkeping

Editor: Ayu Lestari | Sabtu, 04 Januari 2020 - 06:30 Wita | 360 Views
Ilustrasi Cerpen Identitas/Finsensius Titse Sesa

Halaman dipenuhi mobil-mobil yang ditempeli merek sebuah production house. Tampaknya ada kegiatan shooting di wilayah kampus, tepatnya di Fakultas Ilmu Budaya, sehingga Ika memilih turun di depan gerbang fakultas. Kepalanya dengan dahi diperban, dipenuhi berbagai pikiran ketika menyeberang dari gerbang menuju ke gedung kampus.

Dia sama sekali tidak peduli ketika beberapa pasang mata memperhatikannya. Dia juga tidak peduli dengan aktivitas yang baru saja dilewatinya. Dia langsung naik ke lantai dua, tempat ruang senat terletak.

Ketika mendapati Andri sedang di ruang senat bersama beberapa temannya, dia memberi kode agar laki-laki itu masuk ke ruangannya. Dia mengunci pintu ketika Andri sudah duduk. Ika menghela napas ketika matanya bertemu pandang dengan Andri.

 

“Untuk pertama kali aku kalah,” katanya dengan nada sumbang.

Kerongkongannya terasa kering.

“Untuk mempertahankan kamu, aku kalah total.”

 

Andri diam. Dia tak tahu harus berkata apa. Ini memang kesalahannya. Dia terlalu mudah terjatuh dalam suara lembut manja dan mendayu Karina. Mahasiswa baru terlalu mengidolakannya, dan selalu berusaha mencari perhatiannya.

Celakanya, dia sebagai lelaki begitu mudah berbangga hati mendapat perhatian dari seorang mahasiswa baru yang cantik dan manja. Dia lupa, telah terikat hati dengan perempuan yang tak kalah cantik dan lebih senior, ketua BEM-nya sendiri.

 

“Mungkin, aku memang tidak pantas untukmu. Aku mungkin terlalu sempurna untukmu. Terlalu tinggi, terlalu pintar, terlalu tegas, mungkin terlalu hebat untuk kamu. Aku tahu, kamu tidak sanggup untuk tetap bersamaku.” Ika menghela napas lagi.

Ini adalah yang pertama kali mereka berbicara lagi setelah dia memutuskan menyudahi hubungan mereka, satu bulan yang lalu.

“Itu tidak benar, Ika. Aku selalu siap menjadi apapun dan menerima apapun, asal bersama kamu. Tolong, maafkan aku. Please.., ini bukan mauku,” ujar Andri lemah.

Dia tahu, maaf itu tak akan pernah dia dapatkan lagi. Andri masih berharap. Tapi Ika benar. Terkadang dia merasa risih ketika harus berjalan berdampingan dengan perempuan yang lebih tinggi 5 cm darinya. Dan Ika juga benar, dia selalu merasa tersanjung ketika ada wanita bermanja-manja padanya.

 

“Aku sudah memaafkan kamu, dan itu cukup. Tidak ada hal lain yang perlu diulang,” kata Ika.

“Tapi aku hanya ingin kau tahu, dan ini akan membuat kamu semakin yakin, kamu memang tidak pernah siap berjalan denganku.”

 

Ika mengelus perban yang menutup dahinya sambil mengernyit. Perasaannya yang porak poranda membuatnya kehilangan konsentrasi, bahkan saat membawa mobil di tengah keramaian lalu lintas. Masih untung nyawanya cukup kuat untuk bertahan di tubuhnya, meski untuk itu dia harus berjuang mempertahankan kehidupannya selama dua minggu di rumah sakit.

Ika menghela napas.

“Bulan depan, kita akan mengadakan pemilihan ketua senat, untuk menggantikan aku. Aku saat ini sedang kehilangan ide untuk melakukan apa pun. Karena itu aku minta tolong. Bantu aku untuk melaksanakan pemilu itu. Paling tidak dalam dua minggu ini. Kamu mau kan?”

 

Andri hanya menatap Ika, tak tahu harus berkata apa. Tapi kemudian dia mengangguk.

“Apapun kulakukan untukmu,” katanya pelan.

Ika mengangguk, meski tak yakin ketika menatap ke arah Andri.

 

Ketika lelaki itu tidak berkata apa-apa lagi, Ika mengajaknya keluar bergabung dengan teman-teman mereka yang sudah menunggu di ruang utama sekretariat. Beberapa anak yang masih berharap Ika dan Andri kembali rukun, bersuit-suit menggoda. Tapi yang lain tampaknya paham bahwa peluang itu tidak ada lagi dengan melihat raut keruh pada wajah Ika dan Andri.

Dengan sisa-sisa semangatnya yang tersisa, Ika memimpin rapat dengan teman-temannya mengenai persiapan pemilihan ketua BEM fakultas sebulan mendatang.

Andri hampir tak berkata apa-apa. Dia lebih banyak terlihat melamun, sambil sesekali menoleh pada Ika dengan pandangan yang tak dapat dipahami.

Setelah rapat itu selesai, Ika menggamit Dewi, sahabatnya, untuk segera pergi. Dia tidak ingin berlama-lama di ruangan dengan sesosok lelaki yang telah membuat hatinya berkeping-keping.

Penulis: Huri A Hasan

Penulis merupakan Senior PK Identitas

BACA JUGA