Mata Hani berbinar ketika mendapat pemberitahuan bahwa dia dinyatakan lulus masuk di jurusan Teknik Mesin.

Alhamdulillah! Selangkah lebih maju untuk meraih mimpi, mengikuti jejak sang Idola, BJ Habibie.

Sejak membaca kisah si jenius milik Indonesia itu, hati Hani mendua tentang cita-citanya. Cita-cita klise yang akan selalu menjadi pilihan jawaban anak kecil kalau ditanya: apa cita-citanya? Hani akan spontan menjawab: Dokter! Sementara Tiara, sahabatnya, pada saat yang sama selalu menjawab: Insinyur!

Sampai SMA, kedua sahabat itu belum pernah berniat mengubah cita-cita mereka. Maka mereka bertekad akan meraih cita-cita itu.

Tapi mimpi Hani terpecah ketika membaca kisah cinta Ainun-Habibie yang mengharu biru. Bukan kisah cintanya yang membuat hatinya tergetar, melainkan kehebatan tokoh lelaki sebagai orang yang sangat pintar dan mampu mendesain pesawat udara. Dia orang Indonesia!

Sejak itu, Hani sangat  mengidolakan BJ Habibie, dan banyak memburu kisah kehidupan lelaki jenius milik Indonesia itu. Dan sejak itu pula, hatinya mendua, antara menjadi seorang dokter atau menjadi ahli membuat pesawat terbang seperti sang idola.

Maka ketika waktu perndaftaran masuk ke perguruan tinggi tiba, Hani berada di antara kebimbangan untuk menuliskan jurusan yang akan dia pilih di formulir pendaftarannya.

Tiara dengan lancar telah mengisi jurusan Teknik Mesin di kolom pilihan pertama di formulirnya.

“Aku pilih apa, ya?” Hani bingung sambil memandang lembar formulirnya yang masih terisi sedikit.

“Katanya mau jadi dokter?” ujar Tiara heran.

“Tapi keren kalau saya juga bisa bikin pesawat terbang seperti Habibie,” ucap Hani dengan ragu.

“Kamu ke ITB, kalau mau ambil teknik penerbangan,” kata Tiara cuek.

“Memang di sini tidak bisa?” tanya Hani dengan lugu. Dia membaca ulang jurusan-jurusan di Fakultas Teknik yang ditawarkan. Memang tidak ada teknik Penerbangan. Hanya ada Teknik Mesin, Teknik Industri atau Teknik Elektro, yang mungkin nyambung-nyambung sedikit dengan pesawat udara. “Eh, ada Teknik Perkapalan,” ucap Hani bersemangat.

“Itu untuk kapal laut,” kata Tiara sok tahu.

“Oh, iya kah?”

“Ambil saja Teknik Mesin, supaya kita sama-sama lagi,” usul Tiara.

Hani berpikir sejenak dengan usulan Tiara. Dia memperhatikan lembar formulirnya, dan menemukan bahwa dia harus mengisi dua pilihan jurusan. Tiba-tiba otaknya menjadi cerah.

“Kalau begitu, saya akan pilih kedokteran di pilihan pertama, dan teknik mesin di pilihan kedua,” ujarnya gembira, seolah-olah menemukan jalan keluar yang terang benderang.

“Wah, betul juga!” kata Tiara, yang seolah-olah ikut mendapat pencerahan. Sejak tadi dia bingung akan menulis apa pada kolom isian pilihan kedua. Dia tidak punya cita-cita yang lain selain menjadi insinyur teknik.

Maka, jadilah kedua sahabat itu mengisi pilihan jurusan yang sama, memilih jurusan kedokteran umum di pilihan pertama, dan jurusan teknik mesin di pilihan kedua.

Hani lulus di pilihan kedua, Teknik Mesin.

Tiara Lulus di pilihan pertama, Kedokteran.

Keduanya tertawa gembira menyambut kelulusan mereka, dan menyambut pertukaran cita-cita masa kecil mereka.

Tetapi itu peristiwa yang terjadi yang terjadi tiga tahun lalu. Saat ini, Hani telah berada di tahun keempat masa kuliah. Seharusnya menjadi tahun terakhirnya sebagai mahasiswa, yang mendapat jatah kuliah selama empat tahun bila ingin selesai tepat waktu.

Hati Hani kembali mendua.

Masa kuliahnya tidak hanya melulu diisi dengan hitung-hitungan mekanika teknik atau tugas-tugas laboratorium. Hari-harinya juga tidak selalu ada di lab CNC atau lab motor bakar.

Sebaliknya, selama masa kuliah, Hani menemukan sebuah dunia baru. Sejak bergabung dengan unit kegiatan pers mahasiswa di kampus, Hani menemukan dunianya yang sebenarnya. Dunia tulis menulis. Kesukaannya menuangkah khayalannya di atas kertas, tersalurkan dalam kegiatan pers mahasiswa. Di tempat itu pula, dia bertemu banyak wartawan-wartawan muda yang keren, yang selalu membuatnya kagum. Tiba-tiba Hani pun ingin menjadi wartawan.

Sejak itu, jadwal kelas laboratoriumnya di Teknik Mesin lebih banyak berpindah ke sekretariat pers mahasiswa. Sejak itu pula, hati Hani dalam kebimbangan untuk memilih, antara meneruskan cita-cita menjadi ahli pesawat udara, atau menjadi seorang wartawan.

Tahun ini, tahun terakhirnya sebagai mahasiswa. Maka Hani harus memilih. **

Makassar, Era Covid19 – Juni 2020

Penulis: Huri A. Hasan,
Merupakan senior PK identitas Unhas.

Written by

wandijanwar@gmail.com

No comments

LEAVE A COMMENT