Follow

Identifikasi Sapi dari Moncong

Editor: Fitri Ramadhani | Rabu, 09 Januari 2019 - 09:00 Wita | 81 Views
ilustrasi : A. Suci Islameini

Demi mendukung program Asuransi Usaha Ternak Sapi (AUTS), tiga mahasiswa Unhas membuat aplikasi sederhana untuk mengidentifikasi sapi melalui mocongnya.

Tanda dalam bentuk apa pun biasa disematkan pada benda-benda kepunyaan, termasuk pada sapi. Jamak terlihat, para peternak sapi membubuhi tanda berupa ear tag, kalung nomor, label pergelangan kaki, dan cap bakar pada tubuh sapi. Hal tersebut dilakukan agar para peternak mudah mengenali ternaknya.

Namun,bagi tiga mahasiswa Universitas Hasanuddin metode tersebut dapat menyakiti dan melukai sapi.Oleh sebab itu, tim yang terdiri atas Muhammad Mustakar Yusuf (Fakultas Peternakan), Sahrul (Fakultas Peternakan), dan Muhammad Rahmatullah (Fakultas Teknik) membuat aplikasi Cattle Identification Based on Muzzel atau CIBOM  untuk mengidentifikasi ternak sapi.

“Cara menggunakan aplikasi ini ialah memotret pola moncong sapi menggunakan telepon pintar,setelah itu potong foto pada bagian region of interest yang kemudian diekstraksi menjadi fitur atau barcode,” tulis Sahrul saat diwawancara via WhatssApp, Selasa (28/8).

Lebih lanjut, ia menjelaskan, setelah menyelesaikan tahapan itu, aplikasi CIBOM akan menyimpan informasi tentang sapi tersebut sebagai database. Selain itu, aplikasi ini dibuat untuk mendukung program Asuransi Usaha Ternak Sapi (AUTS) yang digalangkan Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian sejak 2017 lalu.

AUTS merupakan bantuan pembayaran premi asuransi usaha ternak sapi pembibitan dan atau pembiakan. Program ini berguna melindungi peternak dari kerugian usaha budidaya ternaknya yang disebabkan kecurian dan kematian ternak. Lalu, untuk mendapatkan asuransi tersebut, peternak harus memiliki data akurat dan lengkap terkait sapi miliknya.

“Tujuan kami membuat aplikasi ini untuk membantu masyarakat dan pemerintah dalam hal pencatatan dan pengidentifikasian ternak dengan aplikasi yang sederhana dan mudah digunakan,” jelasnya.

Kemudian, aplikasi yang dibuat selama tiga bulan ini (April-Juni) berhasil diikutkan dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 31 di Universitas Negeri Yogyakarta, 28 Agustus-2 September 2018. Aplikasi tersebut dirancang dan dibuat di Laboratorium Pemuliaan ternak, Fakultas Peternakan (Fapet) Unhas. “Pengujian aplikasi kami lakukan di salah satu kelompok tani dan ternak di Kabupaten Barru dan di Kandang milik Fapet Unhas,” katanya kepada identitas.

Ia pun berharap agar aplikasi ini dapat lebih berkembang dan dapat membantu peternak dalam memperbaiki sistem pencatatan ternak di Indonesia. “Semoga aplikasi ini dapat dijadikan aplikasi pendukung program AUTS serta dapat membantu terwujudnya nawacita pemerintah Indonesia untuk swasembada daging nasional,” harapnya.

Khintan

 

BACA JUGA