Follow

Ingat Mata Minus Tidak Dapat Disembuhkan!

Editor: Renita Pausi Ardila | Sabtu, 03 November 2018 - 21:56 Wita | 104 Views
Dr dr Habibah Setyawati Muhiddin Sp M. Foto: Identitas/Arisal

Siapa yang tak kenal smartphone? Sebagian dari kita pasti tak bisa lepas dengan teknologi satu ini. Mengapa tidak, kalangan muda maupun tua telah akrab dengan perangkat telekomunikasi elektronik ini. Mulai dari bangun tidur sampai akan tidur, smartphone adalah sahabat terbaik yang selalu digenggam orang-orang apalagi anak muda. Sehingga muncul istilah “dekat tapi terasa jauh”. Hal ini karena mereka (pengguna smartphone) selalu sibuk dengan smartphone-nya sendiri.

Dampaknya sendiri ada yang positif dan negatif, bagi pengguna yang tidak menggunakannya secara baik. Bermain smartphone seharian apalagi di malam hari dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Khususnya pada mata seperti mata lelah, merah, penglihatan yang buram, mata kering hingga iritasi ringan. Simak kutipan wawancara khusus Meilani reporter identitas bersama Dr dr Habibah Setyawati Muhiddin Sp M, Ketua Umum Persatuan Dokter Mata Indonesia Sulawesi Selatan.

Apa dampak penggunaan smartphone yang berlebihan?

Saat ini kelelahan pada mata sedang meningkat. Dulu, kasus kelelahan mata hanya terjadi pada orang-orang dewasa dengan rentang umur 30-40 tahun. Tapi saat ini gangguan mata juga telah dialami oleh orang-orang berumur 20-an bahkan diumur belasan tahun.

Gejala gangguan mata biasanya seperti apa?

Dalam penelitian epidemiologi di Cina, di Singapura juga ada, anak-anak yang selalu melihat smartphone, dapat mengalami kejadian yang disebut kelainan miopi akibat lingkungan. Kelainan akibat lingkungan ini ada beberapa, misalnya gangguan melihat jarak jauh. Juga biasanya dikarenakan terlalu sering membaca, menggunakan smartphone, komputer, atau menonton TV dalam jarak dekat. Cenderung bisa memicu suatu kelainan.

Penelitian ini dilakukan pada usia remaja. Pada anak-anak tepatnya, karena bola mata diusia dini ini sementara berkembang. Maka dari itu, terlalu sering melihat sesuatu dengan jarak dekat akan menyebabkan proses perkembangan mata bisa melebihi dari yang seharusnya. Bermain smartphone yang berlebihan dapat membuat mereka sering melupakan proses fungsional yaitu berkedip.

Bagaimana bentuk pencegahan yang bisa dilakukan dalam sehari-hari?

Jika mata terus-menerus melihat dengan jarak dekat, otot mata akan berkontraksi non-stop menyebablan bola mata tidak rileks. Konsentrasi usia muda adalah 25 menit. Usia lanjut lebih singkat lagi, dan harus sering istirahat. Maka dianjurkan untuk mengurangi penggunaan smartphone dan banyak berolahraga, apalagi di usia muda. Sekolah di Cina sekarang telah menetapkan aturan jam bermain, di mana saat jam tersebut anak-anak diwajibkan bermain, tidak boleh berada di dalam kelas. Sehingga anak-anak bisa mengistirahatkan matanya.

Apa gejala kelainan mata yang menunjukkan bahwa mata kita tidak sehat?

Kalau mata sudah cepat lelah, sering perih, tidak bisa bertahan lama dan cepat mengantuk, itu termasuk ciri-ciri mata lelah dan sebaiknya di konsultasikan dengan dokter.

Bagaimana menurut anda dengan the myopia boom yang semakin meningkat?

The myopia boom itu kejadian di mana tiba-tiba banyak orang myopia. Hal ini terjadi karena keseringan melihat dengan jarak dekat. Remaja jaman sekarang sering kali membaca komik, bermain game dan sebagainya melalui smartphone. Makanya di Amerika dan Australia  anak-anak dilarang memiliki smartphone. Di Singapura, beda lagi kasusnya. Di sana orang-orang umumnya tinggal di apartemen. Akibatnya, anak-anak susah menghabiskan waktu dengan bermain di luar ruangan. Keseringan menonton TV, membaca dan lain-lain itulah mengapa kasus myopia di sana tergolong tinggi. Dan hal ini sudah mulai terjadi di kota-kota yang ada di Indonesia.

Apakah mata minus dapat disembuhkan?

Tidak! Mata minus tidak dapat disembuhkan. Harus dengan bantuan kacamata atau lensa kontak. Pada usia kedepannya bisa saja angka minus berkurang, tapi mata minus tidak akan pernah sembuh.

 

Meilani

BACA JUGA