Follow

Jangan Asal Menilai

Editor: Ayu Lestari | Rabu, 03 Oktober 2018 - 09:30 Wita | 258 Views
ilustrasi : Renita Pausi Ardila

Don’t jugde a book by its cover 

Teman-teman mungkin sudah tidak asing lagi dengan pepatah di atas. Ya, jangan menilai buku dari sampulnya saja. Bisa jadi sampulnya tidak sebagus isinya. Bisa juga isinya tak sebagus sampulnya.

Pepatah itu membuatku harus kembali merenungi kisah lima tahun yang lalu. Hari itu Jumat bersih. Semua siswa diwajibkan mengenakan pakaian olahraga, karena akan diadakan gotong royong membersihkan halaman sekolah. Waktu telah menunjukkan pukul 08:00 WITA. Seorang Pembina Osis tengah mencari salah satu siswa di antara siswa lainnya.

Dari kejauhan, suara bising knalpot bogar (R9) memasuki gerbang sekolah. Kedatangan Motor Yamaha F1ZR menyapa semua orang. Sebuah kendaraan roda dua yang telah dimodifikasi sedimikian rupa, dengan  leher ceper ditambah warna putih tulang membaluti seluruh rangkanya.

Motor itu mulai melenggang masuk ke jalan setapak yang penuh bekas ban motor. Di sebelah jalan berderet para siswa sedang menyabit rumput. Tak ada yang menyanggah keterlambatannya. Tetapi ia sendiri tahu, sebelum memasuki gerbang tadi, dirinya yang juga sang Ketua Osis (Ketos), tengah menjadi topik utama percakapan para siswa.

Tak ada rasa bersalah, tak ada hukuman. Ia memarkir motornya, lalu berjalan dengan busungnya, sembari tersenyum kepada pembina osis. Kesalahan yang baru saja dilakukannya sudah menjadi hal biasa, sehingga itu bukanlah sebuah masalah baginya.

Sebagai Ketos seharusnya memberikan contoh yang baik, begitulah gerutu adik-adik kelasnya. Ia bahkan pernah disinggung oleh kepala sekolah beberapa hari sebelumnya. “Kalian ini sama seperti kata pepatah, hidup segan mati tak mau,” katanya saat bel pagi yang membosankan itu berbunyi.

Kata-kata itu mungkin mengekspresikan kejengkelan sang kepala sekolah terhadap siswanya, khususnya Ketos. Melihat masalah yang berulang setiap hari. Mulai dari bolos sekolah, hingga kasus perkelahian. Sialnya lagi, si Ketos bahkan sering kali terlibat di dalamnya.

Walau seringkali terjerat dalam masalah, sang Ketos itu juga tetap berharap bisa memberikan yang terbaik di sekolahnya. Ia berencana untuk melanjutkan pendidikan ke universitas ternama di Indonesia Timur. Ia bahkan rela jika harus melalui berbagai macam tes untuk bisa mewujudkan rencananya itu.

Kendati, ia tetap mengharap dukungan dari keluarga juga dari pihak sekolahnya. Namun, hampir saja ia putus asa, setelah tahu bahwa semua orang tak mendukungnya, termasuk ibunya sendiri. Ia marah pada dunia. Dan tetap berusaha untuk membuktikan kalau dia bisa mewujudkan mimpinya itu.

Kemarahannya semakin menjadi-jadi setelah ia mendengar titah salah seorang gurunya. “Mau kuliah di Unhas? Astaga jangan mi nda bakalan lulus ji. Palingan terdampar di swasta atau pulang kampung kembali,”singgung gurunya.

Ia tahu betul, si guru mata pelajaran IPA itu memang tidak pernah senang padanya. Ketidaksenangannya itu pun juga berdampak pada nilainya. Tak heran jika di dalam rapornya terdapat nilai di bawah rata-rata.

Kejengkelan guru IPA itu kembali menyeruak, setelah sekian lama mengendap. Mungkin sang guru teringat saat si Ketos berdiri di depan semua siswa dan guru, sambil mengkritik dirinya yang hanya muncul sekali dua kali dalam sebulan.

Setelah kejadian itulah, si Ketos sering kali disinggung dalam kelas, entah dari adik kelas maupun guru yang tak menyukainya. Singgungan itu muncul karena katanya apa yang diorasikannya itu tidak sesuai dengan kelakuan sehari-harinya di sekolah.

Kehidupan memang seringkali berdinamika. Seperti judul lagu banda neira, “Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti.” Sama dengan yang pernah dialami Ketos itu. Semangatnya sudah hampir patah karena dunia ternyata tak mendukungnya, namun karena tekadnya yang kuat, sehingga mampu menggantikan semangat yang patah itu.

Alhasil, atas doa dan perjuangannya, ia kini berhasil mewujudkan mimpinya. Mantan Ketos itu menjadi satu-satunya alumni dari sekolahannya yang berhasil masuk ke perguruan tinggi terbaik se-Indonesia Timur.

Untuk itulah, jangan menilai seseorang hanya dari satu sisi saja. Jangan asal menilai. Kadang kita tidak tahu, pada sisi yang lainnya, ternyata ia memiliki kemampuan yang bahkan tak dimiliki oleh kita. Seperti juga menilai buku, jangan dilihat hanya dari sampulnya saja.

 

Renita Pausi Ardila,

Staf Penyunting PK Identitas, Tahun 2018,

Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris,

Fakultas Ilmu Budaya, Angakatan 2016.

 

 

 

BACA JUGA