Jangan Takut Divaksin

Program vaksinasi yang digalakkan pemeritah resmi berlaku, Rabu (13/01) setelah Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang divaksin. Namun tak semua orang menyambut baik program tersebut. Banyak masyarakat manaruh curiga hingga menolak ikut divaksin. Lantas seberapa penting vaksin dalam menekan penyebaran virus Covid-19? Seperti apa harusnya menyikapinya ? Berikut kutipan wawancara reporter identitas Arisal bersama dosen Epidemiologi Unhas, Dr Ridwan Amiruddin SKM MKes MSc PH, Rabu (13/01).

Bagaimana Anda melihat program vaksinasi yang dilakukan pemerintah ?

Program vaksinasi Covid-19 adalah salah satu program pelengkap dalam upaya pengendalian pandemi. Program ini perlu didukung kalangan kampus sebagai salah satu ikhtiar baik pemerintah, dalam memberikan perlindungan jangka panjang bagi penduduk. Tahapan vaksin tentunya juga disesuaikan dengan studi kelayakannya seperti kesiapan logistik, sumber daya manusia, monitoring dan evaluasi.

Seberapa besar dampak vaksin dalam menekan penyebaran virus ?

Dalam sejarah, memang belum ada pandemi yang berakahir karena vaksin. Pandemi sebelumnya, membutuhkan waktu puluhan tahun untuk menghasilkan vaksin. Sekarang kondisi berubah drastis, karena ini bersifat darurat jadi memakai pendekatan kedaruratan kesehatan masyarakat. Jadi uji cobanya juga bersifat paralel. Maka bisa menghemat waktu, tidak perlu membangun opini keraguan untuk produksi vaksin, semua ini berbasis science yang sistematik terukur. Ini semua berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia kedokteran dan virologi, serta kolaborasi antar ilmuan

Apakah setelah terlaksananya vaksinasi di Indonesia, masyarakat dapat kembali ke gaya hidup normal ?

Meskipun masyarakat sudah divaksin, penyebaran virus akan tetap berlangsung namun dalam skala yang dapat dikendalikan. Kita masih butuh beberapa tahun, sambil menunggu terbangunnya imunitas kelompok, terbentuknya kultur baru yang pro sehat. Vaksin Sinovac ini memberikan efikasi atau kemanjuran sebesar 65,3%, jadi masih dapat ditoleransi dan menurut WHO diatas 50% pada situasi pandemi boleh diedarkan. Vaksinasi ini akan berdampak baik bila diberikan secara simultan dan dapat mencangkup sekitar 70% dari populasi, untuk terbentuknya imunitas komunal. Jadi tidak menutup kemungkinan bila cakupan vaksin ini cukup besar, tentu akan memberikan perlindungan yang maksimal bagi masyarakat.

Setelah pemberian vaksin, tidak serta-merta seseorang kemudian tidak terkena Covid-19. Bisa saja mendapatkan paparan, meski dengan gejala yang lebih ringan dan lebih terkendali

Setelah divaksin, seberapa besar potensi seseorang kebal dari virus Covid-19?

Setelah pemberian vaksin, tidak serta-merta seseorang kemudian tidak terkena Covid-19. Bisa saja mendapatkan paparan, meski dengan gejala yang lebih ringan dan lebih terkendali. Membangun kekebalan seseorang sangat subjektif dan sangat ditentukan oleh beberapa faktor misalnya metabolisme individu, nutrisi, umur, seks, etnik, fisiologi. Selain itu, pada situasi serangan Covid-19 yang sangat hebat dibutuhkan banyak amunisi untuk bertempur. Jadi jangan hanya mengandalkan vaksin.

Selain vaksin, apa yang mesti diandalkan?

Jadi pengendalian Covid-19 seperti umumnya mitigasi wabah, perlu dilakukan pertama kontrol agen virus dengan mengisolasinya, melemahkannya atau membasminya. Kedua, memperbaiki kualitas hidup dengan nutrisi yang baik, istirahat yang cukup, dan berpikiran positif. Ketiga, ciptakan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi virus untuk berkembang dengan tidak membuat kerumunan, menata tempat kerja yang berjarak. Secara singkat dikemas dalam program Tracing (pelacakan), Testing (Pengujian), Isolasi dan Treatment. Kemudian untuk level individu dengan 3M, memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

Bagaimana dengan masyarakat yang telah divaksin, tetapi mendapat efek negatif?

Setiap vaksin ada efek sampingnya, karena itu pelajari efek sampingnya. Dari hasil uji coba tahap tiga, tergambar ada efek samping ringan, dan tidak signifikan terhadap masalah kesehatan responden. Itu juga sebabnya diberlakukan kriteria inklusi dalam pelaksanaan vaksinasi ini. Vaksin ini diperkenalkan ke dalam tubuh seseorang untuk memberi respon agar tubuh memproduksi antibodi untuk melawan korona. Sehingga pada saat ada paparan virus Covid-19 dari luar, tubuh mampu mengenali dan memberi respon perlawanan sehingga tidak berdampak buruk bagi yang bersangkutan.

Bagaimana seharusnya kampus terlibat dalam vaksinasi ini?

Pihak kampus sebagai kelompok terdidik harus menjadi pelopor membantu pemerintah dalam mengendalikan pandemi covid-19, termasuk dalam pemberian vaksinasi.

Data Diri

Nama  Lengkap  : Prof Dr Ridwan Amiruddin SKM MKes MSc PH

Tempat dan Tanggal Lahir : Soppeng 27 Desember 1967

Pendidikan : S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin

S2 Epidemiologi Universitas Indonesia

S2 Public Health Leadership Griffith University Australia

S3 Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Written by

aris4lar@gmail.com

No comments

LEAVE A COMMENT