Follow

Kegagalan yang Terus Berulang

Editor: Khintan | Kamis, 24 Januari 2019 - 15:16 Wita | 123 Views
Foto: Nidha/identitas.

“Aku tak ingin cinta sejati. Tapi biarkan aku mencicipi cinta yang bukan hanya sesaat. Biarkan aku berjuang dan bertahan di sana. Biarkan aku tersiksa untuk terus belajar setia. Aku rela tenggelam di sana, sebagaimana segelintir orang beruntung mendapatkannya”.

Buku milik kepala suku Mojok.co ini berkisah tentang tokoh Si Aku yang selalu gagal membangun sebuah hubungan dengan seorang perempuan karena rasa malasnya. Oleh sebab itu, ia sering sekali mengalami patah hati. Lambat laun, rasa malas itu hadir sebagai sebuah penyakit. Yang kadang sembuh, lalu kembali lagi. Menetap, lama sekali.

Selain itu, si Aku yang pemalas juga digambarkan sebagai seorang aktivis kampus yang aktif dalam gerakan politik. Lalu, ia jatuh cinta dengan seorang perempuan yang tak sengaja ia jumpai di kantin kampus. Dalam waktu yang singkat, ia mendapatkan identitas dan nomor telepon perempuan tersebut. Sejak itulah ia mulai menghubungi dan mengunjungi alamatnya.

Meski telah ditolak berkali-kali, namun Si Aku tetap keras kepala dan pantang mundur untuk mendapatkan perempuan pujaannya. Hingga pada suatu hari ia mengunjungi indekos perempuan itu dan menyatakan cinta untuk kesekian kalinya. Tiba-tiba perempuan itu menangis sambil berkata,”kamu keterlaluan… kamu mengganggu hidupku…”seperti yang tertulis pada halaman 146.

Di saat itulah Si Aku pulang dengan perasaan kalah dan menyesal karena merasa telah menyakiti perasaan perempuan yang sangat dicintainya. Setelah berminggu-minggu tidak  berani mengganggu perempuan tersebut, Si Aku mengambil keputusan untuk kembali menemuinya. Ia mengajaknya keluar, dan anehnya perempuan itu mengiyakan.

Singkat cerita, mereka berkomitmen untuk membangun suatu hubungan yang lebih dari sekadar teman atau singkatnya jadian. Masa-masa bahagia dan sedih dilalui bersama.

Misalnya saja, saat si Aku merasa bimbang dengan organisasi politik yang ia geluti. Di satu sisi, ia ingin keluar, namun di sisi lain ia merasa tak tega dengan teman-teman nya yang nantinya memilih untuk bertahan.

Si Aku berada dalam keadaan yang benar-benar terpuruk kala itu. Namun, orang tua, sahabat dan kekasih datang sebagai penyemangat hidup. Kekasih yang sangat dicintainya itu merawatnya dengan penuh cinta, memberi dukungan.

Hidup Si Aku perlahan-lahan membaik. Dengan dukungan kekasih, Si Aku memutuskan untuk keluar dari organisasi politik itu dan membantunya menyelesaikan kuliah. Sedikit demi sedikit Si Aku mulai mempunyai harapan yang semakin mengembang, hingga kemudian rasa malas datang dan menyurutkan semangatnya untuk melanjutkan hubungan.

Momen-momen bahagia yang dijalani tiba-tiba hancur, Si Aku kembali berada dalam kondisi yang benar-benar terpuruk. Setelah kejadian itu, banyak sahabat yang mengulurkan tangan, namun luka tak sembuh pulih. Telah banyak perempuan lain yang singgah, namun hanya merasakan sakit.

Pada suatu hari, perempuan yang pernah menjadi kekasihnya menelpon. Mendengar ucapan perempuan itu Si Aku kembali menyesali perbuatannya. Ia telah membuat perempuan yang dicintainya begitu kacau hingga menyerah dan meninggalkannya. Kini perempuan tersebut telah berkeluarga, memiliki suami dan anak. Mereka hanya bisa saling menyimpan cinta dalam hati dengan tak saling memiliki dan berjanji untuk tidak saling berhubungan lagi.

Setelah menerima telepon dari perempuan tersebut, Si Aku memutuskan untuk belajar meditasi dan yoga. Dengan melakukan meditasi dan yoga secara rutin, kondisinya mulai membaik. Penyakit lamanya-malas yang berlebihan-tak kambuh lagi. Hingga akhirnya ia kembali membuka hati.

Ia jatuh cinta dengan seorang perempuan bernama samaran Kania. Lantas, akankah Kania menjadi perempuan yang membuat si Aku bertahan menjalin hubungan? Atau nasib nya akan berakhir sama seperti perempuan-perempuan sebelumnya?

Buku ini cocok bagi kalian yang biasa merasakan patah hati. Dengan membaca buku ini, kalian dapat menyadari bahwa bukan kalian saja yang pernah merasakan patah hati, tapi tokoh Si Aku juga, hehehe.

Akan tetapi, bagi kamu yang tidak begitu suka cerita monoton dan ujung-ujungnya sama, maka buku ini akan sangat membosankan bagimu. Selamat membaca.

Data Buku:

Judul         : Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

Penulis      : Puthut EA

Penerbit.   : Mojok

Ketebalan : vi + 255 halaman

Ukuran      : 13 x 20 cm

Cetakan    : Ke-7, 2018

Fatimah Tussahra

BACA JUGA