Follow

Kunci Sukses Konduktor PSM Unhas

Editor: Fitri Ramadhani | Jumat, 12 Oktober 2018 - 09:00 Wita | 141 Views
Foto : Arisal

Kunci Sukses Konduktor PSM Unhas

Selalu bekerja dengan ikhlas dan penuh idealisme maka rezeki akan membuntuti kita dari belakang”

Kutipan di atas merupakan prinsip yang dipegang teguh oleh sosok jejak langkah identitas kali ini. Ia adalah Kordinator Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Unhas Anshari Sanusi. Sejak jadi konduktor PSM di tahun 2006, ia telah beberapa kali menyabet juara satu di kancah internasional. Menjadi pelatih sekaligus konduktor PSM Unhas tentu bukan hal yang mudah.

Putra dari pasangan suami istri Sanusi La Endeng dan B. Surati, ini harus merekrut anggota dan bekerja keras melatih anggota baru yang tiap tahunnya selalu berganti. Awal sepak terjangnya di dunia paduan suara, ketika masih mahasiswa. PSM Unhas kala itu tampil dalam seremonial penyambutan mahasiswa baru. Dan Ari begitu sapaan akrab Anshari Sanusi dibuat terkagum-kagum.

“Dulu awal masuk mahasiswa baru, kan PSM menyanyi. Suaranya bagus dan saya kira kaset yang diputar,” tutur Ari mengenang masa Mabanya.

Ari juga mengatakan, karirnya saat ini hingga dapat menorehkan juara di taraf internasional, tak lepas dari modal keuletannya berlatih keras. Bahkan saat ingin masuk sebagai anggota PSM, ia hampir saja tak diterima. “Awal masuk, saya juga hampir tidak diterima, karena saya mendaftar hanya bermodalkan kemauan. Saat masuk mungkin ketua saat seleksi melihat saya begitu rajin dan ada kemauan. Akhirnya saya diterima, tapi kalau dilihat dari kemapuan pas-pasan,” jelas Ari, Senin, (30/07)

Ari mengatakan kala itu, ia dipesan agar harus lebih ulet berlatih. Sebab ia diterima jadi anggota, bukan karena suaranya tapi lebih kepada semangatnya untuk belajar. “Saya dipesan sama ketua PSM waktu itu, kalau saya harus rajin karena nilai saya pas-pasan. Jadi pas masuk saya memang berlatih keras,” tuturnya.

Sebagai pelatih PSM hingga mampu membawa nama Unhas ke lintas negara, menjuarai berbagai perlombaan tak pernah disangkanya. Bahkan Ari tak pernah sama sekali memikirkan untuk jadi pelatih. Pasalnya ia juga pernah bekerja di perbankan, tetapi berhenti karena dirasa tak cocok.

“Memang dari awal saya tertarik di PSM dan akhirnya terbawa arus. Saya memang tak pernah menyangka ya, karena awal masuk PSM Unhas saya tidak tahu sama sekali nada, not. Tapi karena belajar terus akhirnya bisa jadi seperti sekarang, melatih adik-adik,” kata Ari sambil terkekeh.

Alumni Jurusan Pertanian Unhas ini, memang tak terlalu menonjol saat bergelut di PSM Unhas. Posisinya hanya di suara bass. Bahkan diakuinya, PSM Unhas kala itu tak pernah sekalipun berlaga di kancah internasional. Untuk itulah di tahun 2006, saat menjadi kordinator PSM Unhas ia berniat membawa PSM pada kejuaraan internasional.

“Karena dulu kita tak pernah ada kesempatan keluar. Saya akhirnya memikirkan kenapa tidak, kita tampil di event internasional. Jadi tahun 2006, kami mengikuti event di China dan ada sebuah yayasan paduan suara dunia diundang hadir. Istilahnya open, jadi itu diperuntukkan bagi pemula. Kalau kita bisa juara di situ bisa ikut lagi selanjutnya sampai kita bisa ikut olimpiade,” jelas Ari mengingat perjuangannya.

Untuk bisa mewakili Indonesia, tampil memukau dan menyabet berbagai kejuaraan, banyak belajar dan berbenah itulah yang dikerjakan. Ia memulai dari  nol. Mempelajari bagaimana paduan suara mahasiswa lain tampil dalam kompetisi juga ikut workshop paduan suara di berbagai tempat.

“Jadi kita tidak langsung bisa dapat juara satu, pertama tampil di China tahun 2006 kita tidak masuk final. Nanti saat ikut di tahun berikutnya, baru bisa masuk final. Jadi kita saat itu banyak belajar dengan melihat oh ternyata peserta paduan suara harusnya seperti ini. Nah dari situ kita terus berbenah dan melakukan kreasi gerakan yang unik.

Ari menceritakan bahwa dirinya tak pernah merasa pesimis selama melatih mahasiswa yang memilih terjun di PSM Unhas. Sebab sejak awal, ia dipercayakan jadi pembina PSM di masa kepemimpinan Prof Idrus Paturusi. Ari mengaku saat itu selalu didukung oleh Unhas.

Tercatat beberapa prestasi internasional ditorehkan sejak PSM Unhas di tangannya. Adapun di antaranya berturut-turut Silver Diploma Scenic Folklore Category, Choir Olympics Xiamen China 2006 , Juara 1 Folklore Category, Asian Choir Games Jakarta 2007, Gold Diploma Dan Silver Medal Scenic Folklore Category, World Choir Games Graz Austria 2008, Juara 3 Folklore Category, World Choir Championships Gyeongnam Korea 2009, Juara I Folklore Category, Juara I Pop Category, American International Chorale Festival Reno Nevada Usa 2011, Juara Umum Bandung International Choir Competition 2011, Platinum Award Folklore Category, Guangzhou China 2012, Juara I Folklore Category, Juara Iii Mixed Choir Category, Rimini International Choir Competition Italy 2013, The Best Folklore Pada Warsaw International Choir Festival Poland 2014, Konser Di Okayama Japan 2015 Dan 2016, Juara I Folklore Category Pada Sing N Joy New Jersey Usa 2017, Juara II (GOLD Medal) Pada World Choir Games Tshwane South Africa 2018.

Seabrek prestasi tersebut tak lepas dari perjuangan dan kerja kerasnya membina PSM Unhas. Dari segi kualitas, ia harus melatih anggota hampir tiap hari karena, diakuinya anggota yang direkrut tidak ada dari lulusan sekolah musik.

“Tentu harus dibarengi latihan keras, karena kita tidak ada yang punya bakat. Jadi waktu itu, kita panggil pelatih vokal dari sekolah musik di Bandung lalu kita curi ilmunya,” jelasnya, Senin,(30/07).

Ari mengakui, mencari regenerasi sangatlah susah. Banyak yang direkrut jadi anggota namun pada akhirnya memilih keluar.

“ Anggota yang baru direkrut terkadang masuk dan lihat latihan rutin biasa keluar. Juga yang suaranya bagus, rata-rata juga keluar karena mereka biasa nyanyi solo di luar, sedangkan PSM menuntut mereka latihan rutin,” tutur Ari.

Namun semua itu tak menyurutkan semangat Ari untuk mengharumkan nama PSM dan Unhas. Untuk terus memantik semangat anggotanya agar bisa bertahan, memotivasi dan menanamkan bahwa visi misi mereka adalah untuk mengharumkan nama Unhas. Sedapat mungkin setelah isi acara, Ari akan mengajak anggota PSM lain makan bersama untuk memupuk kebersamaan.

Ari menyampaikan bahwa tipsnya selama ini untuk bisa memenangkan lomba, yaitu mereka harus mempersiapkan diri berlatih selama satu tahun. Dan mengambil kategori lagu rakyat dengan pertimbangan bahwa Indonesia memang lebih unggul dan menarik di bagian kostum dan musik.

“Jadi lebih ke strategi memilih kategori, kita memilih kategori lagu daerah. Selain punya peluang untuk menang, juga mau memperkenalkan kesenian Indonesia. Dan tentunya supaya kita didukung pemerintah,” ujarnya, Senin, (30/7)

Selain menjadi pembina di PSM Unhas, Ari juga banyak melayani permintaan untuk dibuatkan mars. Adapun beberapa mars yang diciptakannya yaitu mars Kerukunan keluarga Sulsel, mars persatuan saudagar Bugis Makassar, mars RS Wahidin, mars sekolah Kartika Makassar dan sebagainya. Selain itu Ari juga memiliki kesibukan melatih di berbagai tempat serta menjalankan bisnis.

Untuk kedepannya Ari berharap bisa menorehkan lebih banyak lagi prestasi. Menjadikan PSM lebih eksis di tengah keanggotaan yang silih berganti.

Andi Ningsi

BACA JUGA