Follow

LABEL

Editor: Ayu Lestari | Minggu, 07 Oktober 2018 - 09:00 Wita | 61 Views
ilustrasi : Wandi Janwar

“Angkat semua tas ke atas meja!”

Kartini baru saja kembali dari toilet kemudian disuguhkan keadaan yang membingungkan. Tiga orang petugas akademik menerobos masuk ke kelas. Dosen sudah duduk manis di kursi. Kartini bingung. Dia tidak bisa menanyai tiga perempuan yang sejaknya kembali sudah berbisik-bisik meliriknya. Dia pun tak bisa menanyai dua lelaki yang terus menendangi kursinya dari belakang. Dia hanya bisa melakukan apa yang diarahkan oleh petugas: angkat tas dan berdiri ke depan kelas.

“Pasti si Kartini.”

“Sudahlah. Kita sudah sama-sama tau. Biar Allah yang balas.”

“Semoga kali ini dia dapat hukuman.”

Samar-samar, Kartini mendengar namanya disebut-sebut dan dikaitkan dengan hal yang belum jelas baginya.

 

Petugas akademik mulai membuka satu per satu tas dan memeriksanya. Saat itu, Kartini mulai mengerti. Kejadian ini sama dengan peristiwa konyol yang terjadi di semester sebelumnya. Kartini lugu yang dari kampung masuk ke kampus terkenal di sebuah kota besar. Dengan gaya pakaian sederhananya yang selalu dicemooh, tanpa sengaja dia membawa pulang buku teman kelasnya selama beberapa hari. Tentu saja teman Kartini jadi kacau saat menyadari buku wajib yang bisa menentukan kehadirannya di absen menghilang.

Kartini baru menyadarinya setelah sang teman absen sekali. Itupun dia sadar saat seorang teman yang lain mendapati bukan nama Kartini yang tertera di buku. Kartini dituduh mencuri. Tak peduli seberapa keras dan kali dia menjelaskan keadaan yang ambigu itu, tak ada orang yang percaya. Pelan-pelan, dia dikucilkan dan jadi bahan pembicaraan paling laris di angkatannya.

Pernah juga si Kartini ceroboh membawa pulang tugas makalah teman-temannya. Lantaran dia bangun terlambat di pagi hari, terluputlah satu makalah, tidak sempat dibawa menuju meja dosen. Satu temannya mendapat nilai D karena itu adalah tugas akhir. Kartini yang merasa bersalah terus menjelaskan keadaan pada dosen, tapi dia bermasalah dengan dosen yang terkenal sangat sibuk. Mana sempat beliau mendengarkan keluhan puluhan mahasiswa yang dia beri nilai D.

Sebulan lalu, Kartini mengalami kesalahan komunikasi. Dosennya meminta Kartini untuk membawakan tas laptopnya ke mobil, tapi Kartini justru membawanya ke ruang dosen. Menaruh laptop itu tersembunyi di bawah meja agar tak ada tangan-tangan jail yang mengambil. Bu dosen uring-uringan mencari laptopnya. Kartini diteriaki saat mata kuliah lain sedang berlangsung. Orang-orang yang hanya mengetahui sebagian cerita saja menyimpulkan Kartini sudah mencuri, sama seperti kejadian buku di semester lalu. Terkenallah Kartini. Namanya tidak hanya disebut-sebut saat di kelas saja, tapi juga di seluruh fakultas bahkan lintas fakultas.

Kali ini giliran tas kumuh Kartini yang diperiksa. Tas yang mendampinginya menuntut ilmu sejak awal masuk SMA. Isinya hanya buku, dompet tipis, dan headset yang digunakan saat orang-orang mulai menggunjingnya.

“Tidak ada. Apa kau yakin dompetmu hilang di kelas?” Tanya salah seorang petugas.

Si korban mengangguk ditambah penjelasan singkat tentang apa yang dia lakukan sebelum kehilangan dompetnya. “Dompet itu berisi uang 2 juta, Pak. Itu uang organisasi. Saya yakin ada yang mengambilnya karena tas saya berada di posisi yang berbeda dibandingkan sebelum saya keluar dari kelas.”

Mata-mata curiga menyergap Kartini. Mereka meyakini pelaku dalam kasus ini sama seperti tiga kasus lainnya: Kartini. Namun, mereka keliru. Bukan Kartini. Putri bungsu anak petani itu adalah orang yang menjunjung tinggi kejujuran. Titip absen tak sudi dia lakukan walaupun dosen tidak hadir.

Kartini lugu, sabar menerima hukuman yang bukan hasil dari kesalahannya. Saat tanpa sengaja dia membawa pulang buku teman kelasnya, dia harus mengganti dengan membelikan temannya buku baru. Saat tanpa sengaja dia membuat temannya dapat D, Kartini kehilangan seluruh teman dan kepercayaan. Saat kecerobohannya berkaitan dengan laptop dosen, dosen tersebut menjadi sangat sensitif dan memberikan nilai D di dua mata kuliah Kartini. Akibatnya, beasiswa Kartini dicabut. Di sinilah keteguhannya unjuk diri. Kartini mulai bekerja di hari sabtu dan minggu. Berusaha keras dia membiayai kuliahnya lantaran tak ingin memberatkan sang ibu.

“Kalian tahu siapa pelakunya kira-kira?” Tanya sang dosen yang sejak tadi hanya memantau.

Tak ada suara, hanya tatapan yang menjawab. Seketika sang dosen paham dan menyimpulkan sendiri apa yang terjadi. Besoknya Kartini diskorsing tiga hari untuk hal yang tidak dia lakukan. Gadis bertubuh mungil itu menangis sepanjang jalan pulangnya. Dia jalan menunduk lalu tanpa sengaja matanya mendapati dompet merah bermotif batik. Dompet yang sesuai dengan ciri-ciri dompet temannya yang hilang. Dompet yang isinya masih utuh: dua juta rupiah.

Girang si Kartini. Dia menyimpan dompet tersebut dan bersiap-siap membawanya kembali ke kampus, buktikan bahwa dia tidak bersalah. Namun, langkahnya terhenti. Dia ingat tak ada yang percaya padanya. Orang-orang mungkin akan lebih membenarkan tuduhan bahwa dialah pelakunya mengingat dompet ada di tangannya.

Kartini gelisah. Dia bingung. Setelah perang panjang melawan batinnya, dia memutuskan untuk mengantongi uang tersebut. Dengan uang itu dia bisa sedikit membantu ibunya. Tidak apa-apa kan? Bukannya hukuman skorsing yang didapatkannya sudah jadi bayaran atas uang yang ada di tangannya? Hati Kartini mulai tenang. Dia berjalan pulang ke kos dengan wajah agak segar.

Besoknya, Kartini berhenti kerja. Dia terus mendapatkan uang sebagai bayaran atas hukuman yang kemarin-kemarin sudah dijalaninya.

 

 

Penulis : Thania Novita

Program Studi : Hukum Administrasi Negara,

Fakultas Hukum Unhas

Angkatan 2016

 

 

BACA JUGA